
Kab. Malang, Berpola– Di balik gemerlap panggung dan sorot lampu ajang Puteri Bumi 2025, ada sehelai kisah tentang kesadaran, ketekunan, dan keberanian menafsir ulang makna sampah. Kisah itu datang dari Malang, Jawa Timur, melalui tangan dan tubuh Trianda Kurniawan (27), model sekaligus kreator kostum yang memilih berjalan di jalur sunyi: fesyen berbasis daur ulang.
Trianda bukan sekadar menghadirkan busana sebagai penutup tubuh. Di bawah nama brand Kumara Kawanda, ia merawat fesyen sebagai bahasa, medium visual yang menyuarakan relasi manusia dengan alam. Baginya, sampah bukanlah akhir dari fungsi, melainkan awal dari kemungkinan baru.
“Saya melihat sampah bukan sebagai akhir dari sebuah fungsi, tetapi sebagai awal dari makna baru,” ujar Trianda, Senin (29/12/2025)
Baca juga : Anak Ngapak Menembus Dua Identitas Prestisius
Busana sebagai Bahasa, Sampah sebagai Awal Cerita
Kesadaran itu menjelma nyata dalam karya eco dress berjudul The Djiwa of Widjaya Kusoema. Busana tersebut tampil memikat di ajang Puteri Bumi 2025 dan mengantarkan Clearista Sanraissy meraih gelar Puteri Bumi Eco Earth 2025. Pencapaian itu menegaskan bahwa fesyen berkelanjutan bukan sekadar wacana, melainkan mampu berdiri setara di panggung prestisius.

Material utama busana ini terbilang tak lazim—karung bekas putih polos. Di tangan Trianda, karung yang kerap diasosiasikan dengan beban dan limbah diolah menjadi dress berstruktur anggun dengan siluet jatuh lembut. Warna putih dimaknai sebagai simbol awal yang bersih, niat manusia untuk memulihkan hubungan yang selaras dengan alam.
Elemen lain tak kalah simbolik. Botol plastik bekas disulap menjadi bunga dan daun sebagai representasi kehidupan, pertumbuhan, dan harapan. Sementara galon bekas diubah menjadi ornamen kupu-kupu kecil, metafora tentang transformasi dan kebangkitan.
Baca juga : Dari Kelas Iseng ke Panggung Besar: Perjalanan Westya Endra Membangun Morpho
Proses Kreatif
Seluruh proses penciptaan busana tersebut dilakukan hanya dalam waktu dua hari. Keterbatasan waktu menuntut ketepatan gagasan dan keberanian eksekusi. Untuk menghapus stigma busana daur ulang yang kerap dipandang sebelah mata, Trianda menambahkan detail manik-manik sebagai aksen mewah.
“Saya ingin membuktikan bahwa fesyen berkelanjutan bisa tampil setara dengan busana konvensional,” katanya.
Setiap bahan melalui proses panjang: pemilahan, pembersihan, pembentukan ulang, hingga penyempurnaan detail agar aman dikenakan, kuat secara visual, dan jelas pesannya.
Posisi Trianda terasa unik karena ia terlibat sebagai kreator sekaligus model. Keterlibatan ini membuat proses berkarya lebih menyeluruh, mempertimbangkan visual, gerak, dan pesan yang ingin disampaikan saat busana tampil di panggung.
Dalam perjalanan kreatifnya, Trianda berada di bawah naungan Morpho Modeling School, yang menjadi ruang pengembangan profesional sekaligus artistik. Ia juga mendapat dukungan dari Jusuf Bachtiar, sosok yang hadir sebagai pendukung, motivator, dan penasehat dalam setiap karya yang dilahirkan. Ekosistem kecil ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan proses kreatifnya.
Baca juga : Vanessya Oscar, Menumbuhkan Percaya Diri Lewat Modeling

Melawan Stigma, Menantang Batas
Namun jalan yang dipilih Trianda bukan tanpa tantangan. Stigma terhadap busana berbahan sampah masih kuat, ditambah keterbatasan konsistensi material daur ulang. Tekanan waktu dan ekspektasi tinggi kerap hadir bersamaan. Alih-alih surut, situasi itu justru menjadi pemantik untuk membuktikan bahwa fesyen berkelanjutan mampu tampil unggul, bukan sebagai alternatif kelas dua.
Respons publik pun perlahan menguat. Komunitas seni dan lingkungan memberikan apresiasi, sementara pencapaian di Puteri Bumi 2025 menjadi validasi bahwa karya berbasis daur ulang dapat diterima luas. Lebih dari sekadar pujian, pengakuan ini membuka ruang dialog tentang masa depan fesyen di Indonesia.
Baca juga : 87 Karya Siswa SMKN 3 Malang Warnai Malang Fashion Week 2025
Fesyen Berkelanjutan yang Sedang Bertumbuh
Menurut Trianda, fesyen berkelanjutan di Indonesia tengah berada di fase pertumbuhan. Kesadaran mulai tumbuh, terutama di kalangan generasi muda dan komunitas kreatif. Namun ia menilai, masih diperlukan dukungan ekosistem, edukasi, dan ruang apresiasi agar fesyen berkelanjutan tak berhenti sebagai tren sesaat, melainkan menjadi arus utama industri kreatif nasional.
Ke depan, Trianda berharap karyanya dapat menjangkau panggung nasional hingga internasional serta membuka kolaborasi lintas disiplin.
“Saya ingin fesyen tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga media edukasi dan refleksi,” ujarnya.
Di tangan Trianda Kurniawan, sampah tak lagi berbicara tentang akhir. Ia menjelma narasi tentang tanggung jawab, harapan, dan kemungkinan hidup baru—sebuah pesan yang berkilau di balik gemerlap panggung.