
Batu, Berpola — Galeri Raos Kota Batu menggelar pameran seni rupa bertajuk “Garis Hijau” yang berlangsung sejak 10 hingga 31 Januari. Pameran ini menjadi ruang ekspresi para seniman untuk menyuarakan kegelisahan terhadap pesatnya pembangunan dan dampaknya terhadap kelestarian alam di Kota Batu.
Salah satu seniman peserta pameran, Riyanto, menjelaskan bahwa tema Garis Hijau berangkat dari keresahan kolektif para seniman terhadap perubahan lingkungan yang terjadi begitu cepat. Sebagai warga asli Kota Batu, ia merasakan langsung pergeseran kondisi alam yang semakin terdesak oleh pembangunan, khususnya sektor pariwisata.
Keresahan Seniman terhadap Pesatnya Pembangunan
Menurut Riyanto, perkembangan Kota Batu memang membawa dampak positif dari sisi ekonomi. Namun, pembangunan yang tidak terkendali juga menimbulkan persoalan serius terhadap lingkungan.
“Pembangunan pariwisata berkembang sangat cepat, tetapi pembagian antara kawasan wisata dan kawasan hijau belum seimbang. Akhirnya alam, seperti hutan dan mata air yang dikorbankan,” ujarnya.
Baca juga : Bersukaria Angkat Heritage Lewat Walking Tour Inklusif
Ia menambahkan bahwa pemanfaatan lahan hijau yang tidak semestinya berpotensi menimbulkan dampak fatal di masa depan apabila tidak segera diantisipasi. Kembali ia menunjukkan dokumentasi langsung terkait dengan adanya perubahan tersebut.
Makna Filosofis Tema “Garis Hijau”

Tema Garis Hijau dipilih sebagai simbol kesuburan alam Kota Batu di masa lalu. Garis hijau dimaknai sebagai kesejukan, tanah yang subur, serta kekayaan hasil pertanian seperti apel, stroberi, dan sayur-mayur yang dahulu menjadi identitas daerah tersebut.
“Kini garis hijau itu mulai terkikis. Melalui pameran ini, kami ingin mengingatkan kembali memori kolektif masyarakat tentang pentingnya menjaga alam,” kata Riyanto.
Puluhan Karya dan Antusiasme Pengunjung
Pameran Garis Hijau menampilkan 49 karya dari 49 seniman, masing-masing menyuguhkan satu karya dengan sudut pandang dan pesan yang berbeda mengenai hubungan manusia dan alam.

Selama pameran berlangsung, Galeri Raos menjadi ruang dialog terbuka antara seniman dan pengunjung. Pameran ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar SMP dan SMA, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Kehadiran pameran ini juga ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya TikTok.
Baca juga: “WARA: Radas x Warsa”, Pameran Seni yang Mengajak Pengunjung Pulang ke Dalam Diri
Galeri Raos sendiri dikenal sebagai ruang seni yang aktif menggelar pameran secara rutin, dengan dua hingga tiga pameran setiap bulan dengan tema yang selalu berbeda.
Riyanto berharap pameran ini dapat menumbuhkan kepedulian bersama terhadap lingkungan. “Kita tidak boleh lelah untuk terus mengingatkan tentang hubungan manusia dengan alam. Karena apa yang kita lakukan pada alam, dampaknya akan kembali kepada, tugas kami sebagai seniman ialah mengingatkan melalui karya-karya seni yang ditampilkan pada pameran.” pungkasnya.