
Kab. Malang, Berpola —Kabupaten Malang kini tak lagi sepenuhnya hening. Di beberapa sudut desa dan jalur wisata, langkah-langkah kaki terdengar berirama, memecah sunyi sambil menyusuri lanskap alam. Mereka bukan sekadar berolahraga. Mereka sedang berwisata dengan cara yang berbeda.
Ragam aktivitas wisata berbasis pengalaman belakangan menjadi magnet baru pariwisata. Wisatawan tak lagi cukup hanya datang, berfoto, lalu pulang. Ada kerinduan untuk terlibat, merasakan, bahkan menjadi bagian dari aktivitas itu sendiri. Dalam konteks inilah wisata olahraga menemukan momentumnya.
Tingginya minat masyarakat terhadap wisata olahraga didorong oleh dua hal. Pertama, meningkatnya kesadaran akan kesehatan pascapandemi Covid-19, bersamaan dengan menguatnya tren gaya hidup sehat, terutama di kalangan anak muda. Olahraga tak lagi dipandang semata sebagai aktivitas menjaga kebugaran, tetapi juga sebagai medium ekspresi diri.
Baca juga : Dari Perempuan untuk Perempuan: Woman.hub dan Perjalanan Membangun Ruang Aman
Fenomena yang kerap disebut sebagai pelari kalcer menunjukkan perubahan tersebut. Lari menjadi ruang eksistensi sosial, ditandai dengan menjamurnya komunitas-komunitas lari di berbagai daerah. Kedua, terjadi pergeseran perilaku wisatawan yang kini lebih mengutamakan pengalaman bermakna dibanding sekadar mengunjungi destinasi. Partisipasi langsung dalam suatu kegiatan, sembari menikmati alam dan budaya lokal, menjadi incaran baru.
Dari pergeseran inilah Jogging Wisata Malang (JWM) berawal. Pada Agustus 2022, Rudianto bersama dua kawannya merintis kegiatan lari yang sederhana. Awalnya hanya berangkat dari kebiasaan menjaga kesehatan, berlari bersama menyusuri rute-rute favorit di Malang. Namun dari langkah-langkah itulah muncul kesadaran lain: setiap rute menyimpan cerita.

“Awalnya kami hanya ingin lari bersama. Tapi lama-lama kami merasa, sayang kalau keindahan Malang ini hanya dilewati begitu saja,” ujar Rudianto saat diwawancari Berpola. “Dari situ muncul gagasan untuk menjadikan lari sebagai cara menikmati ruang dan mengenalkan daerah.”
JWM kemudian berkembang dengan pendekatan yang berbeda. Rute lari tak ditentukan semata oleh jarak atau kecepatan, melainkan oleh nilai pengalaman. Peserta diajak berlari santai menyusuri kawasan wisata, perdesaan, hingga ruang-ruang publik, sambil menikmati panorama alam dan kehidupan warga setempat. Lari menjadi medium, sementara ruang, interaksi, dan kebersamaan menjadi maknanya.
Baca juga: Bersukaria Angkat Heritage Lewat Walking Tour Inklusif
Sensasi “berwisata sambil bergerak” ini perlahan memberi citra baru bagi Kabupaten Malang. Olahraga tak lagi terpisah dari pariwisata, melainkan menyatu sebagai pengalaman yang utuh. Kegiatan ini juga memberi warna pada khazanah lokal, menghadirkan cara pandang baru dalam memaknai daerah sendiri.
Dampaknya tak hanya dirasakan pada ranah gaya hidup dan sosial. Secara ekonomi, geliat wisata olahraga turut mengalir ke masyarakat sekitar. Pelaku usaha makanan dan minuman, warung kecil, hingga UMKM lokal merasakan manfaat dari meningkatnya aktivitas dan kunjungan peserta.
“Efek ekonominya nyata. Bukan hanya dirasakan oleh warga, tetapi juga pelaku usaha di sekitar rute kegiatan,” kata Rudianto.
Antusiasme masyarakat terhadap JWM menjadi penanda bahwa olahraga memiliki potensi besar sebagai agenda pariwisata. Lebih dari sekadar event, wisata olahraga tumbuh sebagai ruang temu antara kesehatan, pengalaman, dan identitas lokal.
Ke depan, seiring perubahan demografi dan gaya hidup, wisata olahraga diperkirakan akan terus berkembang. Di Malang, langkah-langkah kecil yang dimulai dari kebiasaan berlari itu kini menjelma menjadi cara baru menikmati ruang perlahan, sadar, dan penuh makna.