Trail Hari Raya di Gunung Kawi, Rute Alam dan Dukungan Warga Jadi Daya Tarik

Foto bersama kegitan Trail Hari Raya (Foto: Ist/Berpola)

Kab.Malang, Berpola- Di kaki Gunung Kawi, pagi itu terasa berbeda. Kabut tipis yang masih menggantung di antara pepohonan perlahan terangkat, membuka lanskap perbukitan yang hijau dan tenang. Pada 5 April 2026, suasana tersebut menjadi latar berlangsungnya kegiatan Trail Hari Raya THR, ketika puluhan pelari dari berbagai usia memulai langkah, bukan sekadar berlari, melainkan menyusuri pengalaman yang menyatu dengan alam dan kehidupan warga.

Bagi Rudianto, inisiator kegiatan ini, lokasi menjadi kekuatan utama. “Terasa berbeda karena viewnya dekat sekali dengan Gunung Kawi,” ujarnya. Kedekatan itu bukan hanya soal jarak pandang, melainkan juga rasa, seolah setiap langkah membawa pelari lebih dekat pada ketenangan alam.

Peserta Trail Hari Raya melintas di kawasan permukiman warga di lereng Gunung Kawi (Foto: Ist/Berpola

Rute yang dirancang pun tidak biasa. Jalur berkelok membawa peserta melintasi hutan pinus yang sejuk, menyusuri rumpun bambu yang rapat, hingga melewati ladang ladang milik warga. Di beberapa titik, pelari harus menanjak bukit kecil yang menguji napas, namun sekaligus menghadirkan panorama yang memanjakan mata.

Baca juga: Komunitas Jogging Wisata Malang Mengubah Cara Kita Menikmati Malang

“Rute sangat mempengaruhi pengalaman berlari. Kali ini cukup lengkap ada hutan pinus, hutan bambu, ladang warga, dan bukit,” kata Rudianto.

Keunikan lain dari kegiatan ini tampak dari pesertanya. Tidak hanya diikuti pelari profesional, tetapi juga masyarakat umum. Mulai dari balita yang didampingi orang tua hingga peserta lanjut usia turut ambil bagian. Suasana pun terasa hangat, jauh dari kesan kompetitif semata.

Di garis istirahat, aroma makanan tradisional menyambut para pelari. Nasi jagung dengan urap sayur tersaji sederhana, namun justru menjadi pengalaman yang membekas. “Kami ingin peserta tidak hanya menikmati lari, tapi juga merasakan khas desa,” ujar Rudianto. Keramahan panitia dan warga menjadi pelengkap yang sulit dilupakan.

Dukungan warga Dusun Gendogo, Desa Balesari, menjadi fondasi penting terselenggaranya kegiatan ini. Mereka bahkan meminjamkan balai RW sebagai titik water refreshment. Bagi Rudianto, keterlibatan masyarakat bukan sekadar bantuan teknis, melainkan wujud kebersamaan yang memperkuat makna acara.

Peserta berlari di antara pepohonan dalam kegiatan Trail Hari Raya (Foto: Ist/Berpola)

Dari sisi penyelenggaraan, aspek keselamatan juga menjadi perhatian. Panitia menempatkan marshal di setiap belokan sepanjang rute untuk memastikan peserta tidak tersesat. Upaya ini dinilai penting, mengingat medan yang dilalui cukup beragam dan menantang.

Baca juga : Mlaku Bareng Kepanjen (MBK), Menapak Jejak Sejarah di Setiap Sudut Kota

Lebih dari sekadar kegiatan olahraga, Rudianto berharap Trail Hari Raya THR dapat menjadi pintu masuk pengembangan potensi wisata lokal. Ia berharap dukungan dari pemerintah, khususnya dinas pariwisata dan Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Malang, dapat semakin memperkuat kegiatan serupa di masa mendatang.

Di lereng Gunung Kawi, langkah langkah kecil para pelari pagi itu seolah menegaskan satu hal, bahwa olahraga, alam, dan kebersamaan warga bisa berpadu menjadi pengalaman yang utuh, dan layak untuk terus dijaga.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *