Dari Smanda, Duta Muda Tumbuh Membawa Perubahan

Para grand finalis Adipati Ayu Smanda 2026 berfoto bersama usai malam puncak di Aula Sabhayatama, SMAN 2 Kota Malang (Foto: Ist/Berpola)

Malang, Berpola- Sorot lampu menyapu panggung Aula Sabhayatama, SMA Negeri 2 Kota Malang, Senin, 13 April 2026. Satu per satu finalis melangkah dengan percaya diri, menampilkan bukan hanya penampilan, tetapi juga gagasan. Malam itu, Grand Final Adipati Ayu Smanda (AAS) 2026 digelar sebuah ajang yang lebih dari sekadar pemilihan duta sekolah.

Di hadapan kepala sekolah, orang tua, alumni, serta perwakilan 11 SMA/SMK se-Malang Raya, sepuluh finalis terbaik bersaing memperebutkan gelar Adipati dan Ayu. Namun, di balik kompetisi, tersimpan tujuan yang lebih besar: mencari sosok murid yang inovatif dan kontributif bagi perkembangan sekolah.

Proses panjang telah dilalui para finalis sebelum tiba di panggung grand final. Mulai dari seleksi administrasi, tes tulis, bakti sosial, hingga karantina, setiap tahapan dirancang untuk mengasah kemampuan sekaligus karakter. Secara tidak langsung, proses ini menjadi ruang pembelajaran yang membentuk para peserta menjadi pribadi yang lebih matang.

Baca juga : SMAN 1 Lawang Awali Semester dengan Semangat Kebersamaan

Lebih dari Sekadar Gelar

Bagi para finalis, AAS bukan hanya tentang kemenangan. Salah satu finalis mengungkapkan bahwa ajang ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar kompetisi.

“Menjadi bagian dari Adipati Ayu Smanda bukan sekadar soal gelar, tapi bagaimana kami para murid bisa menjadi jembatan aspirasi untuk membawa perubahan positif bagi almamater,” ujarnya di sela-sela kegiatan.

Pernyataan tersebut mencerminkan semangat yang ingin dibangun melalui AAS. Para peserta tidak hanya dituntut untuk tampil, tetapi juga mampu berpikir kritis, menyampaikan gagasan, dan menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sekolah.

Hal ini terlihat dalam rangkaian acara grand final yang memadukan unsur formal dan artistik. Mulai dari penayangan video profil, parade finalis, hingga uji wawasan melalui sesi tanya jawab Top 5 dan Top 3, semuanya dirancang untuk menguji kapasitas intelektual dan kepercayaan diri peserta.

Baca juga : Program Sapa Pagi di SMA Negeri 1 Lawang, Dorong Pembelajaran Lebih Bermakna

Panggung Gagasan dan Harapan Sekolah

Tidak hanya kemampuan berpikir, bakat dan kreativitas juga menjadi bagian penting dalam penilaian. Para finalis menampilkan berbagai pertunjukan, mulai dari flash mob, dansa, hingga menyanyi. Penampilan tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus menunjukkan keberagaman potensi yang dimiliki.

Dalam ajang ini, panitia juga menetapkan kategori duta, mulai dari intelegensi, integritas, literasi, lingkungan, hingga persahabatan. Sementara itu, dua finalis terbaik putra dan putri dinobatkan sebagai Adipati dan Ayu Smanda 2026.

Kepala SMA Negeri 2 Kota Malang, Eny Retno Diwati, menegaskan bahwa ajang ini bukan hanya seremonial tahunan, tetapi bagian dari upaya pembinaan karakter siswa. Ia menyampaikan bahwa sekolah ingin menghadirkan ruang bagi murid untuk berkembang tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam hal kepemimpinan dan kontribusi nyata.

Secara tidak langsung, ia melihat AAS sebagai wadah strategis untuk menumbuhkan generasi muda yang mampu berpikir kritis dan berperan aktif di lingkungan sekolah. “Kami berharap pemenang yang terpilih hari ini mampu melahirkan inovasi baru dan memberikan kontribusi yang besar untuk perkembangan SMAN 2 Kota Malang di masa depan,” tegasnya.

Melalui ajang ini, AAS tidak hanya melahirkan figur-figur berprestasi, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya gagasan-gagasan baru dari kalangan pelajar. Dari panggung Smanda, harapan itu dititipkan bahwa perubahan bisa dimulai dari mereka yang berani melangkah dan bersuara.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *