Saat Remaja Lain Belajar, Yaya Mengajar dan Menata Mimpinya Sendiri

Windu Sarah Sekar Salman atau Yaya memperagakan busana di atas panggung. (Foto: Ist/Berpola)

Kab. Malang, Berpola — Tidak semua remaja seusia 17 tahun memiliki pengalaman berdiri di depan kelas untuk mengajarkan orang lain. Namun, hal tersebut menjadi bagian dari keseharian Windu Sarah Sekar Salman, atau yang akrab disapa Yaya. Di saat teman-temannya fokus menjalani kehidupan sekolah, Yaya memilih berjalan di dua dunia sekaligus: sebagai pelajar dan sebagai pelatih termuda di Morpho Modelling School.

Perjalanan Yaya di dunia modelling dimulai sejak ia masih berusia tujuh tahun. Tahun 2016 menjadi awal perkenalannya dengan dunia yang mengajarkannya tentang percaya diri, disiplin, dan keberanian untuk tampil. Siapa sangka, anak kecil yang dahulu belajar langkah demi langkah di atas catwalk, kini justru menjadi sosok yang membimbing anak-anak lain untuk menemukan kepercayaan diri mereka.

Kepercayaan besar datang ketika Yaya masih duduk di kelas dua SMP. Dengan usia yang masih sangat muda, ia diminta menjadi seorang coach. Sebuah tanggung jawab yang tidak mudah, sebab ia harus belajar menjadi pengajar, pemimpin, sekaligus panutan bagi murid-muridnya.

Namun, jalan yang ia tempuh tidak selalu mulus.

Di usia ketika sebagian besar remaja masih bergantung kepada orang tua, Yaya mulai belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Ia harus membagi waktu antara mengajar, menyelesaikan tugas sekolah, dan mengejar impiannya untuk mendapatkan pendidikan terbaik.

Baginya, dunia modelling dan pendidikan bukanlah dua hal yang harus dipilih salah satu.

Baca juga : Melangkah di Dua Dunia: Ketika Catwalk dan Ruang Kelas Saling Menguatkan

“Kesulitannya adalah menentukan prioritas karena keduanya sama penting. Di modelling saya mendapatkan penghasilan, tetapi di sekolah saya juga memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas dan mengejar cita-cita,” ungkap Yaya.

Bahkan, demi bisa masuk ke sekolah favorit, ia harus melawan rasa lelah dan menyusun waktunya dengan lebih disiplin. Pagi hingga siang ia menjadi seorang siswa, sementara di waktu lain ia bertransformasi menjadi seorang pelatih yang bertanggung jawab terhadap perkembangan murid-muridnya.

Membuktikan Diri, Bukan dengan Usia tetapi Kesungguhan

Menjadi pelatih termuda membuat Yaya tidak lepas dari pandangan sebelah mata. Tidak sedikit yang meragukan kemampuannya karena usia yang masih muda. Ia juga kerap merasa canggung ketika harus memberikan arahan kepada murid yang lebih tua darinya.

Namun, keraguan itu tidak membuatnya berhenti.

Baca juga : Dari Smanda, Duta Muda Tumbuh Membawa Perubahan

Yaya memilih menjawab semuanya melalui kerja keras, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar.

“Saya sering dianggap belum cukup berpengalaman. Tetapi saya percaya bahwa kepercayaan tidak datang dari usia, melainkan dari sikap, usaha, dan kesungguhan kita dalam melakukan sesuatu,” ujarnya.

Lambat laun, kepercayaan itu tumbuh. Banyak orang tua yang kemudian mempercayakan anak mereka untuk mengikuti kelas privat bersama Yaya. Hasilnya pun mulai terlihat, beberapa murid bimbingannya berhasil meraih kemenangan dalam berbagai kompetisi modelling bergengsi.

Pesan untuk Anak Muda: Jangan Menunggu Sempurna untuk Memulai

Yaya berpose dalam sesi pemotretan. (Foto: Ist/Berpola)

Bagi Yaya, setiap perjuangan yang ia jalani mengajarkan satu hal penting: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah.

Ia menyadari bahwa tidak semua orang memulai perjalanan dari kondisi yang mudah. Namun, menurutnya, keadaan bukanlah penentu akhir dari sebuah mimpi.

“Jangan takut untuk berjuang. Saya sendiri bukan berasal dari latar belakang yang mudah. Saya ingin murid-murid saya tahu bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk mencapai apa yang mereka cita-citakan. Yang terpenting adalah disiplin, mau belajar, dan tidak pernah berhenti berkembang,” tuturnya.

Perjalanan Yaya menjadi pengingat bahwa mimpi tidak menunggu seseorang menjadi lebih tua, lebih kaya, atau memiliki keadaan yang sempurna. Mimpi hanya membutuhkan satu hal untuk tumbuh: keberanian untuk memulai dan keteguhan untuk terus melangkah.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *