
Malang, Berpola- Langkah hidup tidak selalu berjalan lurus. Ada yang menemukannya sejak awal, ada pula yang harus berputar, mencoba, lalu kembali dengan pemahaman yang lebih utuh. Bagi Viky Ardi Saputra, perjalanan itu justru menemukan maknanya ketika dunia pendidikan dan modeling berjalan beriringan dua ruang yang kerap dianggap bertolak belakang.
Viky mengawali langkahnya dari bangku kuliah Pendidikan IPA. Dunia akademik memperkenalkannya pada logika, disiplin berpikir, dan tanggung jawab intelektual. Namun, di luar ruang kelas, ia merasa perlu mengenal dirinya lebih jauh.
“Saya tidak ingin membatasi diri hanya pada satu label. Saya ingin tahu sejauh apa potensi saya bisa berkembang,” katanya.
Pencarian itu membawanya ke dunia modeling. Dari catwalk dan pemotretan, Viky menemukan pelajaran yang tak ia dapatkan di bangku kuliah tentang keberanian tampil, kesiapan mental, dan cara berdiri tegak di bawah sorot perhatian.
“Modeling mengajarkan saya satu hal penting yakni percaya diri itu dibentuk, bukan bawaan,” ujarnya.
Seiring waktu, keterlibatannya di dunia tersebut tidak berhenti sebagai praktisi. Saat ini, Viky juga aktif sebagai pengajar di Morpho Modelling, tempat ia membagikan pengalaman, etika profesional, serta pembentukan mental kepada generasi model muda. Baginya, modeling bukan sekadar soal berjalan di catwalk, melainkan proses pendidikan karakter.
Kepercayaan diri itulah yang kemudian mengantarkannya ke ruang representasi publik, hingga dipercaya menjadi Duta Pariwisata Jawa Timur 2024. Aktivitasnya di dunia pendidikan dan modeling ia bagikan melalui media sosial, membangun audiens secara perlahan dan organik.
Baca juga: Dari Kelas Iseng ke Panggung Besar: Perjalanan Westya Endra Membangun Morpho
Menabrak Anggapan Lama
Di balik pencapaian itu, Viky kerap berhadapan dengan stigma. Dunia modeling masih sering dipandang dangkal, sementara profesi pendidik dianggap harus selalu tampil kaku.
“Ada anggapan bahwa model itu hanya soal penampilan. Saya justru ingin membuktikan bahwa di balik itu ada disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab,” tuturnya.
Baginya, menjadi pendidik tidak berarti menanggalkan ekspresi diri. Justru sebaliknya, ia ingin menghadirkan sosok guru yang dekat dengan realitas zaman.
“Saya ingin murid-murid melihat bahwa belajar dan bergaya tidak harus saling meniadakan, selama kita tahu batas dan etika,” katanya.
Ruang Kelas sebagai Titik Pulang
Jika dunia modeling memberinya sorotan, ruang kelas memberinya makna. Di sanalah Viky merasa kembali pada inti perannya.
“Mengajar itu seperti pulang. Di kelas, saya diingatkan bahwa ilmu dan keteladanan jauh lebih penting daripada popularitas,” ujarnya.
Pendidikan, menurut Viky, adalah penyeimbang yang menjaga agar langkahnya tetap berpijak. Ia menyadari bahwa setiap unggahan di media sosial membawa konsekuensi moral.
“Saya selalu bertanya pada diri sendiri: apakah ini pantas dilihat murid saya? Kalau jawabannya ragu, berarti konten itu tidak perlu dipublikasikan,” katanya.
Baca juga: Di Balik Catwalk dan Kamera, Devi Avionita Sari Memilih Tetap Membumi
Sekolah Mental Bernama Modeling
Viky menyebut dunia modeling sebagai sekolah mental yang membentuk ketangguhan dirinya. Di sana, waktu adalah segalanya.
“Di modeling, terlambat satu menit bisa berarti kehilangan kesempatan. Itu pelajaran disiplin yang sangat keras,” ujarnya.
Ia juga terbiasa menerima kritik tanpa basa-basi, menghadapi kegagalan saat casting, dan bangkit kembali dengan kepala tegak.
“Casting itu mengajarkan saya untuk ditolak tanpa merasa hancur. Ditolak bukan berarti tidak layak, hanya belum waktunya,” katanya.
Pengalaman itu terbawa ke ruang kelas. Ia merasa lebih siap berdiri di depan banyak orang dan mengelola perhatian audiens.
“Saat mengajar, saya sadar bahwa bahasa tubuh dan cara berdiri jauh lebih berbicara daripada sekadar kata-kata,” ujarnya.
Pengaruh yang Tak Direncanakan
Dampak perjalanan hidupnya justru paling terasa dari respons murid-muridnya. Ada yang mulai berani berbicara di depan kelas, ada pula yang menemukan kepercayaan diri untuk tampil di ruang publik.
“Ketika ada murid yang bilang, ‘Pak, saya jadi berani tampil karena melihat Bapak,’ itu rasanya lebih berharga dari penghargaan apa pun,” kata Viky pelan.
Baginya, di situlah letak keberhasilan yang sesungguhnya saat perjalanan pribadi memberi dampak pada orang lain.
Baca juga : Vanessya Oscar, Menumbuhkan Percaya Diri Lewat Modeling
Smart Is the New Sexy

Viky merangkum filosofi hidupnya dalam satu kalimat: smart is the new sexy. Bagi dia, kecerdasan dan penampilan adalah dua kekuatan yang saling menguatkan.
“Merawat penampilan itu bentuk menghargai diri. Tapi mengasah pikiran adalah bentuk menghargai masa depan,” ujarnya.
Menjalani dua dunia menuntut disiplin tinggi. Jadwal disusun ketat, prioritas diatur dengan sadar.
“Saya pastikan tanggung jawab sebagai pendidik selesai dulu. Setelah itu, baru saya melangkah ke dunia kreatif,” katanya.
Di tengah zaman yang gemar memberi label, Viky memilih menjadi generasi multidimensi.
“Jangan biarkan satu peran mengurung kita. Dunia butuh orang yang bisa berpikir, merasa, dan berani tampil apa adanya,” ujarnya.
Catwalk dan ruang kelas pun tidak lagi berdiri sebagai dua dunia yang berseberangan. Keduanya menjadi ruang belajar—tentang diri, disiplin, dan makna kebermanfaatan.