
Berpola, Malang- Tak semua mimpi lahir dari rencana besar. Sebagian justru tumbuh dari satu kesempatan kecil yang diambil dengan berani. Bagi Devi Avionita Sari, langkah pertamanya di dunia modeling bermula dari sebuah panggung sederhana di sekolah.
Tahun 2017, saat masih duduk di kelas dua SMA, Devi dipercaya mewakili kelasnya dalam lomba fashion show HUT SMAN 1 Sumberpucung. Tema yang diusung kala itu Flower Carnival. Ia tak pernah menyangka, penampilannya mengantarkannya meraih juara tiga dan sekaligus membuka pintu menuju dunia yang kini ia tekuni dengan serius.
Seorang teman bernama Viky melihat potensi itu lebih dulu. Ia mengapresiasi pencapaian Devi dan memberinya brosur sekolah modeling. Dari rasa penasaran, lahirlah keberanian untuk mencoba. Dari seorang murid, Devi berproses hingga dipercaya menjadi Coach Model di Morpho Modelling School sebuah perjalanan yang tidak singkat, tapi penuh makna.
Baca juga : Jejak Kreatif Trianda Kurniawan dalam Fesyen Berkelanjutan
Modeling sebagai Jembatan Mimpi

Ketertarikan Devi pada dunia entertainment menjadi alasan utama ia menekuni modeling secara serius. Ia meyakini, modeling bukan sekadar soal berjalan di atas runway, melainkan jembatan untuk membuka peluang karier yang lebih luas.
Keyakinan itu pelan-pelan menemukan bentuknya. Salah satu momen paling berkesan dalam kariernya datang ketika ia dipercaya menjadi talent video klip “Bahagia Tanpaku” milik Keisya Levronka (2024) dan “Beri Aku Kesempatan” dari Stefan Pasaribu (2025). Tak berhenti di situ, Devi juga terlibat dalam proyek film Sekawan Limo yang dijadwalkan tayang di bioskop tahun ini.
Baginya, setiap proyek bukan hanya tentang tampil, tetapi tentang belajar, beradaptasi, dan menguji mental di dunia profesional.
Mengukur Diri di Panggung Nasional
Prestasi yang paling membanggakan bagi Devi adalah saat ia mewakili Jawa Timur dalam ajang Miss Mega Bintang Indonesia 2024. Salah satu tantangan paling menantang adalah sesi catwalk di kawasan Candi Sewu ruang yang menuntut teknik, kepercayaan diri, dan penguasaan diri dalam satu waktu.
Hasilnya, Devi meraih Best Presentation Catwalk in Candi Sewu (Runner Up). Sebuah pencapaian yang tidak hanya membanggakan secara personal, tetapi juga menjadi bekal berharga untuk dibagikan kepada adik-adik didiknya di Morpho Modelling School.
“Bisa berbagi pengalaman sebagai coach itu rasanya lebih berarti,” ujarnya.
Baca juga : Vanessya Oscar, Menumbuhkan Percaya Diri Lewat Modeling
Bertahan di Dunia yang Tak Selalu Stabil
Sebagai model freelance, Devi menyadari satu hal sejak awal: ketidakpastian adalah bagian dari profesi ini. Job datang dan pergi, pendapatan tidak selalu stabil. Tantangan terbesar justru bukan di panggung, melainkan dalam mengelola realita.
Dengan bimbingan mentor, Devi belajar memahami pola pekerjaan, mengelola keuangan, dan membiasakan diri untuk menabung saat job sedang ramai. Prinsip “saving money” menjadi pegangan agar tetap aman ketika pekerjaan tidak menentu.
Dari pengalaman itu, ia membangun sumber penghasilan lain: mengajar di Morpho Modelling School, bekerja sama dengan berbagai brand, hingga merintis bisnis di bidang fashion dan kuliner.
Tentang Inspirasi dan Keteguhan Diri

Dalam perjalanan kariernya, Devi terinspirasi oleh sosok Cinta Laura—terutama nilai kerja keras, kemandirian, hidup hemat, dan self-love. Baginya, kombinasi itu membentuk pribadi yang tangguh sekaligus sehat secara mental.
“Kerja keras itu usahanya, hidup hemat dan mandiri itu kemampuannya, dan self-love adalah bahan bakarnya,” katanya.
Di tengah ketatnya persaingan dunia modeling, Devi memilih fokus pada keunikan dirinya sendiri. Ia tidak membandingkan diri dengan model lain. Setiap orang, menurutnya, punya versi terbaik masing-masing. Personal branding, networking, profesionalisme, dan afirmasi positif menjadi kunci untuk tetap konsisten dan percaya diri.
Di balik pencapaian yang terlihat, ada doa dan dukungan keluarga yang terus menguatkan langkah Devi. Orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitar menjadi sandaran emosional yang membuatnya bertahan hingga titik ini.
“Tanpa mereka, perjalanan ini pasti terasa jauh lebih berat,” ungkapnya.
Baca juga: 87 Karya Siswa SMKN 3 Malang Warnai Malang Fashion Week 2025
Belajar Lebih dari Sekadar Penampilan
Dunia modeling mengajarkan Devi banyak hal, bukan hanya soal penampilan fisik, tetapi juga disiplin, ketahanan mental, etika kerja, dan kesabaran menghadapi penolakan.
Baginya, kegagalan dalam casting bukan akhir, melainkan bagian dari proses panjang menuju kematangan karier.
Devi menyadari bahwa modeling bukan profesi seumur hidup. Dalam dua tahun terakhir, ia mulai mempersiapkan transisi karier baik secara finansial maupun mental. Menjadi seorang entrepreneur adalah cita-cita yang perlahan ia bangun.
Ia ingin usahanya kelak tak hanya membawa kesuksesan pribadi, tetapi juga memberdayakan orang-orang di sekitarnya.
Untuk generasi muda yang ingin mengikuti jejaknya, Devi menyampaikan pesan sederhana namun jujur:
nikmati prosesnya dengan rasa syukur.
“Tidak ada usaha yang benar-benar sia-sia. Nikmati jatuh bangunnya, susah senangnya, dan imbangi dengan doa yang tulus,” tuturnya.
Perjalanan Devi Avionita Sari mungkin dimulai dari panggung sekolah, tetapi hari ini, ia berdiri sebagai contoh bahwa mimpi jika dijalani dengan konsistensi dan kesadaran diri bisa tumbuh ke arah yang tak pernah disangka sebelumnya.