
Malang, Berpola- Bagi sebagian orang, masa kecil hanya tinggal serpihan kenangan yang sesekali muncul ketika melihat foto lama atau mendengar lagu nostalgia. Namun, bagi Guntur Anggada, kenangan itu bukan sekadar memori yang disimpan dalam kepala. Ia adalah “berkas mentah” yang terus diolah menjadi karya seni, menghadirkan kembali pengalaman-pengalaman yang selama ini tersembunyi di balik perjalanan hidup sebagai perantau.
Lewat pameran bertajuk “GUNTUR.EXE: Reconstructing Wonder Memories”, perupa kelahiran Jakarta, 16 September 2004, tersebut mengajak pengunjung memasuki ruang personal yang dipenuhi ingatan masa kecil. Judul pameran itu tidak dipilih secara kebetulan. Bagi Guntur, ekstensi .exe bukan sekadar istilah dalam dunia komputer, melainkan metafora tentang dirinya sendiri.
“.Exe adalah program yang terus berjalan. Saya merasa diri saya juga seperti itu, hasil dari kompilasi panjang berbagai pengalaman hidup. Pengalaman masa kecil itu ibarat file mentah yang tersimpan rapat dan menunggu untuk diekstrak kembali,” ujarnya.
Dalam pandangannya, manusia tidak pernah lahir sebagai sosok yang utuh. Identitas dibentuk oleh pengalaman-pengalaman yang terus bertumpuk dari waktu ke waktu. Karena itulah, setiap karya yang dipamerkannya merupakan hasil “ekstraksi” atas kenangan-kenangan tersebut, disusun ulang menjadi bentuk visual yang dapat dinikmati orang lain.
Baca juga : “WARA: Radas x Warsa”, Pameran Seni yang Mengajak Pengunjung Pulang ke Dalam Diri
Merantau yang Mengubah Cara Mengingat
Proses kreatif Guntur tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari pengalaman hidup yang membuatnya harus meninggalkan rumah sejak usia belia.
Sejak lulus sekolah dasar, Guntur telah merantau demi melanjutkan pendidikan. Selama hampir delapan tahun, ia hidup jauh dari orang tua, keluarga, dan lingkungan masa kecilnya. Jarak geografis itu perlahan berubah menjadi jarak emosional yang membuat berbagai kenangan semakin samar.
Alih-alih membiarkannya menghilang, ia memilih merekonstruksi kembali ingatan tersebut melalui seni.
Baginya, setiap karya adalah ruang “temu kangen” dengan dirinya sendiri di masa kecil. Bukan sekadar nostalgia, melainkan proses penyembuhan emosional yang dilakukan secara sadar sebagai orang dewasa.
“Pada akhirnya karya-karya ini lahir dari proses healing saya sendiri. Saya ingin mengumpulkan kembali bagian-bagian hidup yang terasa tertinggal karena perjalanan waktu,” katanya.
Anak Berbaju Biru yang Selalu Hadir
Di hampir setiap karya, muncul sosok anak kecil berbaju biru dengan rambut gondrong. Figur itu bukan karakter fiksi.
Anak kecil tersebut adalah representasi Guntur sendiri.
Warna biru dipilih karena menjadi warna favoritnya sejak kecil, sedangkan rambut gondrong menggambarkan penampilannya yang telah dipertahankan sejak masa kanak-kanak. Kehadiran figur itu menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh karya dalam pameran.
Selain figur tersebut, berbagai objek seperti mobil-mobilan hingga karakter kartun seperti Toy Story juga hadir memenuhi ruang visual.
Semuanya berasal dari benda-benda yang pernah mengisi masa kecilnya.
Objek-objek itu bukan sekadar dekorasi, melainkan penanda memori yang membantu menyusun kembali fragmen kehidupan yang pernah ia jalani.
Baca juga : Pabrik Tua Dinoyo Disulap Jadi Galeri Seni: Novart 2025 Suguhkan Karya “Post Apocalypse”
Ketika Teknik Menjadi Latihan Kesabaran
Sebagai mahasiswa dengan konsentrasi Seni Grafis, Guntur memilih teknik cetak tinggi sebagai medium utama berkarya.
Di balik hasil akhir yang tampak sederhana, proses pembuatannya justru menuntut ketelitian tinggi.
Teknik tersebut mengharuskannya mencukil hardboard secara manual sebelum proses pencetakan dilakukan. Sedikit kesalahan saat mencukil dapat mengubah keseluruhan komposisi sehingga proses harus diulang dari awal.
Baginya, proses itu bukan hanya persoalan teknis.
Mencukil menjadi latihan mengendalikan pikiran, kesabaran, sekaligus konsistensi.
“Seni grafis, khususnya cetak tinggi, mengajarkan saya untuk berpikir matang sebelum bertindak. Sekali salah, hasilnya akan berbeda dari yang direncanakan,” ungkapnya.
Luka yang Menjadi Bagian dari Karya

Di balik setiap lembar karya yang dipajang, tersimpan proses fisik yang tidak ringan.
Seluruh tahapan masih dilakukan secara manual. Saat mencukil hardboard, tangannya kerap terluka hingga berdarah akibat gesekan material yang keras.
Kesulitan juga berlanjut ketika proses pencetakan berlangsung.
Tanpa bantuan mesin press, Guntur menggunakan sendok sebagai alat untuk memberi tekanan dari bagian belakang kanvas secara berulang hingga gambar berpindah sempurna.
Gerakan yang dilakukan berkali-kali membuat tangannya sering lemas, bahkan pergelangan tangan terasa nyeri karena harus menerima tekanan terus-menerus.
Namun, rasa sakit itu tidak pernah menjadi alasan untuk menghentikan proses kreatifnya.
Baginya, setiap bekas luka menjadi bagian dari perjalanan yang tidak terlihat oleh pengunjung, tetapi ikut membentuk nilai sebuah karya.
Baca juga : Sari, Pipo, dan Jejak Masa Kecil: Cara Ucol Menemukan Dirinya Lewat Gambar
Menjadikan Kenangan sebagai Pengalaman Bersama
Meski seluruh karya berangkat dari pengalaman yang sangat personal, Guntur tidak ingin berhenti pada kisah dirinya sendiri.
Ia berharap memori yang divisualisasikannya mampu membangkitkan ingatan serupa bagi siapa pun yang melihatnya.
Jika pengunjung menemukan kembali masa kecil mereka melalui mobil-mobilan, kartun, atau sosok anak kecil dalam karya-karyanya, maka seni telah menjalankan fungsinya sebagai ruang berbagi pengalaman.
“Kalau ternyata pengalaman masa kecil yang saya visualkan juga bisa dirasakan oleh orang lain, itu menjadi nilai tambah yang sangat berarti bagi saya,” tuturnya.
Ke depan, Guntur ingin terus memperluas eksplorasi artistiknya, baik melalui media yang lebih besar maupun teknik-teknik baru dalam seni grafis.
Baginya, menjadi perupa bukan tentang mencapai titik akhir, melainkan tentang keberanian untuk terus berkembang.
“Saya tidak pernah merasa puas. Berkarya adalah perjalanan yang tidak pernah selesai. Saya akan terus belajar, mengeksplorasi, dan mengembangkan kemampuan sebagai bentuk komitmen untuk terus bertumbuh,” pungkasnya.