
Malang, Berpola — Pameran seni Novart 2025 resmi digelar oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Seni dan Desain (HMD SEDESA) Universitas Negeri Malang pada 2–8 November 2025 di bekas Pabrik Keramik Dinoyo, Kota Malang.
Ajang seni dua tahunan ini mengusung tema “Post Apocalypse” dengan subtema “Leles Upcycling”, menampilkan sekitar 80 karya dari mahasiswa, dosen, dan komunitas seni. Selain pameran karya, Novart juga menghadirkan rangkaian kegiatan publik seperti live mural, performing art, artist talk & workshop, serta fun competitions.
Baca juga : Topeng Panji Setyakasih, Ketika Tradisi Bicara Tentang Cinta dan Ketulusan
Tema “Post Apocalypse” dan Semangat Upcycling
Pemilihan tema Post Apocalypse bertujuan menyoroti gagasan tentang kondisi setelah kehancuran dan upaya memulihkan kehidupan melalui kreativitas. Subtema “Leles Upcycling” menegaskan pentingnya memanfaatkan kembali barang-barang bekas untuk menghasilkan karya bernilai tinggi dan berkelanjutan.
Ketua Umum HMD SEDESA, Aditya Arif Rahman, menjelaskan bahwa konsep ini diangkat agar pameran tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga mendorong kesadaran publik terhadap isu lingkungan dan inovasi dalam berkarya.
“Semoga masyarakat bisa menikmati pamerannya, dan panitia bisa meluangkan ekspresinya melalui karya,” ujarnya.
Baca juga: Sari, Pipo, dan Jejak Masa Kecil: Cara Ucol Menemukan Dirinya Lewat Gambar
Tahun ini, panitia memilih bekas Pabrik Keramik Dinoyo sebagai lokasi pameran untuk menghadirkan atmosfer yang selaras dengan konsep pascakehancuran. Ruang industri lama tersebut disulap menjadi area seni yang mempresentasikan revitalisasi ruang terbengkalai menjadi wadah aktivitas kreatif.
Meski dihadapkan pada tantangan teknis seperti keterbatasan listrik dan cuaca hujan, panitia berhasil menyelesaikan instalasi tepat waktu dan memastikan kenyamanan pengunjung selama pameran berlangsung.

Ragam Karya dan Medium
Sebanyak 80 karya ditampilkan dalam pameran ini, mencakup medium 2D, 3D, instalasi, hingga media art. Karya-karya tersebut menampilkan beragam perspektif, mulai dari refleksi sosial, kritik lingkungan, hingga narasi pribadi tentang ketahanan dan masa depan.
Keterlibatan dosen dan komunitas seni turut memperluas ruang dialog antara akademisi, pelaku seni, dan masyarakat. Selain menikmati pameran, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai program publik yang bersifat partisipatif dan edukatif.
Kegiatan seperti live mural, performing art, diskusi bersama seniman, workshop kreatif, dan kompetisi seni dirancang untuk menjangkau pelajar, mahasiswa, hingga komunitas kreatif. Program ini bertujuan membuka akses lebih luas bagi generasi muda untuk terlibat dalam pengembangan ekosistem seni di Malang.