Mengejar Pengakuan Global, Jurnal DSAB FIB UB Berbenah dari Dapur Redaksi

Kegiatan Workshop Kelola Jurnal DSAB (Foto: Ist/Berpola)

Malang, Berpola- Menembus Scopus atau Web of Science (WoS) bukan semata perkara menghasilkan artikel ilmiah berkualitas. Di balik sebuah jurnal yang ingin diakui secara internasional, terdapat pekerjaan panjang yang sering kali berlangsung jauh dari perhatian pembaca: menata kebijakan editorial, memastikan konsistensi penerbitan, memperluas jejaring akademik, hingga membangun laman jurnal yang mampu memenuhi standar global.

Persaingan untuk mencapai tahap tersebut pun semakin ketat.

Indonesia, dalam empat tahun terakhir, disebut menjadi negara dengan jumlah pengajuan jurnal ke Scopus terbanyak di dunia. Tingginya jumlah pengajuan itu di satu sisi menunjukkan geliat publikasi ilmiah nasional. Namun, di sisi lain, angka tersebut menjadi penanda bahwa jurnal-jurnal Indonesia harus berhadapan dengan kompetisi yang semakin sengit untuk mendapatkan pengakuan internasional.

Persoalan itu turut menjadi perhatian Departemen Seni dan Antropologi Budaya (DSAB), Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya (FIB UB).

Alih-alih langsung mengajukan jurnal ke lembaga pengindeks internasional, DSAB memilih memeriksa kembali fondasi pengelolaan jurnal yang dimilikinya.

Langkah itu dilakukan melalui Workshop Best Practice Pengelolaan Jurnal di UB Guest House, Selasa (28/7/2026). Assoc. Prof. Tutut Herawan, Ph.D. dari Universiti Malaya hadir sebagai narasumber pendamping untuk memberikan perspektif mengenai kesiapan jurnal menuju indeksasi internasional.

Tidak Sekadar Mengejar Indeksasi

Dalam dunia publikasi ilmiah, indeksasi kerap menjadi salah satu ukuran reputasi sebuah jurnal. Nama Scopus dan WoS pun menjadi tujuan yang banyak dibidik pengelola jurnal.

Namun, mengejar indeksasi tanpa membenahi sistem pengelolaan justru dapat menjadi langkah yang terburu-buru.

Workshop DSAB FIB UB memperlihatkan bahwa kesiapan jurnal harus dilihat dari berbagai sisi. Pengelola diajak memetakan kondisi jurnal berdasarkan lima kategori penilaian utama Scopus, yakni kebijakan jurnal, kualitas konten, reputasi jurnal, keteraturan penerbitan, serta ketersediaan jurnal secara daring.

Ada pula persyaratan mendasar yang tidak dapat diabaikan, seperti penggunaan bahasa Inggris pada judul dan abstrak artikel.

Dari sini terlihat bahwa kualitas jurnal tidak hanya ditentukan oleh isi artikel yang diterbitkan. Cara sebuah jurnal dikelola dan dipresentasikan kepada komunitas akademik internasional ikut menentukan bagaimana jurnal tersebut dipandang.

Baca juga : Refleksi Mahasiswa Diksasindo UB terhadap Kehadiran AI di Dunia Pendidikan

Dengan kata lain, artikel yang bagus membutuhkan rumah editorial yang juga baik.

Karena itu, pengelola jurnal DSAB didorong untuk tidak langsung menjadikan pengajuan Scopus atau WoS sebagai garis akhir. Mereka terlebih dahulu diminta melakukan evaluasi mandiri melalui platform ReadyForScopus.

Evaluasi tersebut menjadi semacam pemeriksaan awal. Pengelola dapat mengetahui bagian mana yang sudah memenuhi kriteria dan aspek mana yang masih membutuhkan pembenahan sebelum pengajuan dilakukan.

Strategi itu penting untuk menghindari pengajuan yang belum siap dan berujung pada penolakan serta masa tunggu yang panjang sebelum jurnal dapat kembali mengajukan diri.

Masalah Besar Berawal dari Hal-Hal Teknis

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa perjalanan menuju jurnal bereputasi internasional tidak selalu berhadapan dengan persoalan yang besar dan rumit.

Sebagian justru dimulai dari hal-hal yang tampak teknis.

Pada Jurnal Seni Budaya Nusantara, misalnya, pembenahan diarahkan pada sistem Open Journal Systems (OJS). Pengelola direkomendasikan memperbarui sistem ke versi mutakhir dan menata kembali susunan menu agar lebih sesuai dengan standar penilaian Scopus.

Bagian About the Journal juga perlu diperkuat.

Di sisi lain, jurnal tersebut didorong membangun dukungan yang lebih luas melalui komunitas maupun asosiasi di luar lingkup akademik. Langkah ini menjadi penting karena reputasi jurnal tidak tumbuh hanya dari ruang redaksi, melainkan juga dari seberapa luas jurnal tersebut terhubung dengan komunitas keilmuan dan profesi.

Para peserta pelatihan best practice peningkatan kelola Jurnal (Foto: Ist/Berpola)

Catatan serupa muncul pada Jurnal Kusalawa. Jurnal tersebut direkomendasikan untuk membenahi tampilan laman, mempertimbangkan peningkatan akreditasi dari SINTA 4 menuju SINTA 2, serta memperbaiki jadwal penerbitan.

Hal-hal tersebut terlihat sederhana. Namun dalam tata kelola jurnal ilmiah, konsistensi justru menjadi salah satu fondasi reputasi.

Jurnal yang tidak teratur terbit, laman yang kurang informatif, atau struktur editorial yang belum kuat dapat menjadi persoalan ketika jurnal mulai berhadapan dengan standar penilaian internasional.

Membangun Reputasi dari Balik Layar

Ada satu aspek lain yang tidak kalah penting: orang-orang di balik jurnal.

Untuk dapat bertahan dan berkembang, jurnal membutuhkan dewan editorial yang memiliki kompetensi dan jejaring akademik yang kuat. Karena itu, DSAB FIB UB juga mendapatkan rekomendasi untuk melakukan diversifikasi dewan editorial dengan melibatkan pakar internasional.

Rekam jejak akademik Editor-in-Chief maupun anggota dewan editorial juga perlu menjadi pertimbangan. Salah satu indikator yang dapat diperhatikan adalah h-index.

Langkah tersebut bukan sekadar untuk mempercantik susunan nama dalam laman jurnal. Kehadiran akademisi dengan reputasi dan jejaring internasional dapat membantu memperluas cakupan keilmuan sekaligus meningkatkan kepercayaan komunitas akademik terhadap jurnal.

Baca juga : Mahasiswa UB Buktikan Teknologi adalah Mitra Berpikir, Bukan Ancaman, dalam Dunia Pendidikan

Pada tahap inilah pengelolaan jurnal berhadapan dengan tantangan yang lebih besar.

Jurnal tidak cukup hanya menjadi tempat menerbitkan artikel. Ia perlu membangun komunitas, reputasi, dan jejaring.

Tantangan Setelah Indeksasi

Persoalan lainnya adalah keberlanjutan. Indeksasi internasional bukan tujuan yang selesai setelah sebuah jurnal memperoleh pengakuan. Setelah itu, pengelola tetap harus mempertahankan kualitas dan konsistensi penerbitan.

Karena itu, workshop juga menyoroti perlunya strategi pemasaran dan pendanaan jurnal. Kerja sama dengan asosiasi profesi dan konferensi internasional dapat menjadi salah satu cara memperluas jejaring sekaligus membangun keberlanjutan.

Di tengah kebutuhan tersebut, teknologi kecerdasan artifisial atau AI mulai memiliki ruang dalam pengelolaan jurnal.

AI dapat dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan administratif dan penyuntingan awal. Namun, teknologi tersebut tetap ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti tanggung jawab akademik dan editorial.

Keputusan akhir mengenai kualitas, kelayakan, dan integritas sebuah artikel tetap berada pada manusia yang menjalankan proses editorial.

Baca juga : Soft Launching Brawijaya Corpora Project, Ikhtiar UB Merawat Budaya Lewat Diplomasi Digital

Dari Workshop Menuju Perubahan Sistem

Workshop di UB Guest House pada akhirnya bukan hanya agenda pelatihan sehari. Ia menjadi ruang untuk melihat kembali bagaimana jurnal-jurnal DSAB FIB UB dikelola dan sejauh mana fondasinya siap dibawa ke arena internasional.

Target Scopus dan WoS memang penting. Namun, target tersebut sekaligus memaksa pengelola untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: apakah sistem editorial sudah cukup kuat, apakah penerbitan sudah konsisten, apakah jejaring akademik telah berkembang, dan apakah jurnal memiliki strategi untuk bertahan dalam jangka panjang?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat dijawab hanya dengan memperbaiki satu bagian. Dibutuhkan pembenahan dari hulu ke hilir mulai dari kebijakan editorial, kualitas artikel, tampilan dan teknologi OJS, komposisi editor, jejaring internasional, hingga model keberlanjutan jurnal.

Bagi DSAB FIB UB, proses tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju pengakuan global.

Sebab, sebelum sebuah jurnal dapat berdiri di panggung internasional, pekerjaan penting justru harus diselesaikan terlebih dahulu di balik layar: membangun tata kelola yang membuat kualitas ilmiah dapat dipercaya, konsisten, dan berkelanjutan.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *