Refleksi Mahasiswa Diksasindo UB terhadap Kehadiran AI di Dunia Pendidikan

Putri Kumala Dewi, saat mengajar mata kuliah Membaca Kritis-Kreatif (foto: Ist/ Berpola)

Malang, Berpola — Di tengah derasnya arus digitalisasi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Diksasindo) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya memilih langkah yang berbeda. Mereka tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan penafsir yang kritis terhadap kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam ruang belajar.

Pandangan ini lahir dari mata kuliah Membaca Kritis-Kreatif yang diampu oleh Dr. Dra. Lilik Wahyuni, M.Pd., Dr. Nia Budiana, M.Pd., dan Putri Kumala Dewi, S.Pd., M.Pd. Melalui esai argumentatif dan poster kreatif, mahasiswa menumpahkan gagasan mereka tentang peluang, tantangan, dan etika penggunaan AI dalam ranah akademik maupun profesional.

Sebagian besar mahasiswa sepakat: AI bukan musuh, melainkan mitra. Kehadirannya justru memperkaya proses berpikir kritis dan kreatif. Dengan pemanfaatan yang etis dan bertanggung jawab, AI dinilai mampu memperluas wawasan serta membantu pengembangan keterampilan membaca, menulis, dan berpikir reflektif. Pandangan ini sejalan dengan visi Fakultas Ilmu Budaya UB yang mengusung semangat Digital Humanities — sebuah upaya mengawinkan teknologi digital dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Dari refleksi mahasiswa, muncul beberapa catatan penting. Pertama, AI membantu meningkatkan kemampuan mengkritisi teks dan memperkenalkan etika teknologi. Kedua, mahasiswa memahami bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti nalar manusia. Ketiga, kesadaran akan keamanan data, kejujuran akademik, dan pencegahan plagiarisme makin menguat dalam interaksi mereka dengan teknologi.

Baca juga : Mahasiswa UB Buktikan Teknologi adalah Mitra Berpikir, Bukan Ancaman, dalam Dunia Pendidikan

Tidak berhenti di situ, pembelajaran ini juga mengasah kemampuan teknis: menulis prompt efektif, memvalidasi hasil AI sesuai standar akademik, dan mengenali bias informasi. Mahasiswa belajar membedakan kreativitas manusia dari kecerdasan mesin, sekaligus menumbuhkan sikap kolaboratif antara nalar dan teknologi.

Salah satu esai bertajuk “Harusnya Kita Takut pada AI atau Belajar Bersamanya?” menegaskan pandangan itu. Bahwa masa depan pendidikan bukan ditentukan oleh seberapa canggih AI, melainkan oleh seberapa bijak manusia menggunakannya. AI hadir bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi memperkuat kemampuan guru dan pelajar dalam menumbuhkan kreativitas, empati, dan nilai-nilai moral.

suasana kelas saat Pembelajaran mata kuliah Membaca Kritis-Kreatif (foto: Ist/Berpola)

“Melalui pembelajaran membaca kritis-kreatif, mahasiswa tidak hanya belajar mengkritisi teks, tetapi juga memanusiakan teknologi. Mereka diajak berdialog dengan AI secara etis, kritis, dan produktif,” ujar Dr. Dra. Lilik Wahyuni, M.Pd.

Dr. Nia Budiana, M.Pd., menambahkan bahwa perkembangan keterampilan berpikir kritis mahasiswa tampak signifikan. “Mereka kini tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi penafsir yang sadar akan nilai kemanusiaan di baliknya,” tuturnya.

Sementara itu, Putri Kumala Dewi, S.Pd., M.Pd., selaku penggagas model pembelajaran Membaca Kritis-Kreatif, menjelaskan bahwa pendekatan ini berakar pada riset integrasi AI dalam pembelajaran. Tujuannya, mempertajam kemampuan evaluatif, reflektif, kreatif, dan kolaboratif mahasiswa. “Kini mereka tak lagi melihat AI sebagai ancaman yang membuat malas berpikir, tapi sebagai mitra yang membentuk sikap skeptis-konstruktif dan reflektif,” ungkapnya.

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa Diksasindo FIB UB belajar lebih dari sekadar membaca. Mereka belajar memahami hakikat kemanusiaan di tengah kemajuan teknologi. Sejalan dengan semangat Digital Humanities, kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen fakultas dalam menyiapkan generasi pendidik yang cerdas digital, beretika, dan berpikiran kritis.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *