DIGISTORY, Inovasi Khrisna Adhi Pradana yang Membuat Belajar Sistem Pencernaan Lebih Menyenangkan

Khrisna Adhi Pradana, M.Pd., guru SD Negeri Arjowinangun, Kabupaten Pacitan, saat melaksanakan pembelajaran menggunakan media DIGISTORY (Foto: Ist/Berpola)

PACITAN, Berpola — Memahami sistem pencernaan manusia tidak harus berhenti pada membaca buku atau menghafal nama-nama organ. Di SD Negeri Arjowinangun, Kabupaten Pacitan, siswa kelas VI diajak mengenal proses tersebut melalui pengalaman belajar yang lebih interaktif dengan memanfaatkan teknologi digital, aktivitas fisik, dan kecerdasan buatan.

Pengalaman belajar itu dihadirkan melalui DIGISTORY, media pembelajaran inovatif karya Khrisna Adhi Pradana, M.Pd. Media ini dirancang untuk membantu siswa memahami materi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), khususnya sistem pencernaan manusia, sekaligus menumbuhkan motivasi belajar dan kemampuan berpikir komputasional sejak dini.

DIGISTORY memadukan tiga elemen utama, yakni coding plugged, coding unplugged, dan pemanfaatan artificial intelligence (AI). Melalui perpaduan tersebut, siswa tidak hanya mempelajari materi secara visual, tetapi juga terlibat dalam aktivitas yang mendorong mereka mengeksplorasi dan memahami konsep secara aktif.

Baca juga : Terinspirasi Prasasti Sangguran, Joglo Pawiyatan Lahirkan Batik Beraksara Kawi

Coding plugged melibatkan penggunaan perangkat digital dalam aktivitas pemrograman. Sementara itu, coding unplugged mengajak siswa memahami konsep pemrograman melalui kegiatan tanpa bergantung pada layar. Adapun AI dimanfaatkan sebagai bagian dari eksplorasi pembelajaran.

Ketiga elemen tersebut memberikan variasi pengalaman belajar. Materi sistem pencernaan yang membutuhkan pemahaman mengenai urutan proses dan fungsi organ disajikan melalui kegiatan yang memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan media pembelajaran.

Belajar dengan Berpindah Pos

Khrisna Adhi Pradana, M.Pd., menjelaskan materi pembelajaran kepada siswa melalui pemanfaatan media DIGISTORY berbasis coding dan kecerdasan artifisial (AI) (Foto: Ist/Berpola)

Untuk mengoptimalkan penggunaan DIGISTORY, Khrisna menerapkan pendekatan Station Rotation atau rotasi pos belajar. Dalam metode ini, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang secara bergantian mengunjungi pos-pos pembelajaran dengan aktivitas berbeda.

Ada pos coding plugged, pos coding unplugged yang mengandalkan aktivitas kinestetik, serta pos eksplorasi berbasis AI. Setiap kelompok memperoleh kesempatan untuk mencoba berbagai bentuk aktivitas selama proses pembelajaran berlangsung.

Pola belajar tersebut membuat siswa tidak hanya duduk dan mendengarkan penjelasan guru. Mereka juga bergerak, berkolaborasi dengan teman, serta terlibat langsung dalam kegiatan di setiap pos.

Suasana kelas pun menjadi lebih dinamis. Rasa ingin tahu siswa tumbuh ketika mereka berinteraksi dengan media DIGISTORY dan mencoba memahami materi melalui pengalaman yang berbeda.

Bagi Khrisna, teknologi dalam pembelajaran tidak semestinya hanya menjadi sesuatu yang dilihat siswa. Teknologi perlu ditempatkan sebagai sarana untuk mendorong keterlibatan dan kemandirian mereka dalam membangun pemahaman.

Baca juga : Melalui Canting, Leni Rawat Warisan Budaya Batik

“Pembelajaran yang bermakna lahir ketika teknologi tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi menjadi alat bagi siswa untuk mengeksplorasi, mencoba, dan menemukan sendiri konsep pengetahuannya. Melalui DIGISTORY dan pendekatan Station Rotation, kita ingin menunjukkan bahwa materi sains yang dianggap rumit seperti sistem pencernaan bisa dipelajari dengan sangat seru, interaktif, dan memberdayakan,” ungkap Khrisna.

Motivasi Belajar dan Hasil Evaluasi Meningkat

Penerapan DIGISTORY menunjukkan dampak positif terhadap proses pembelajaran IPAS di SD Negeri Arjowinangun. Siswa memperlihatkan antusiasme selama kegiatan berlangsung, terutama ketika berinteraksi langsung dengan media pembelajaran di setiap pos rotasi.

Dampak tersebut juga terlihat pada hasil evaluasi materi sistem pencernaan manusia. Berdasarkan evaluasi pembelajaran, hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan secara keseluruhan melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah.

Selain capaian akademik, penggunaan DIGISTORY turut diikuti peningkatan motivasi intrinsik dan rasa percaya diri siswa dalam mengikuti pelajaran IPAS. Siswa mendapatkan ruang untuk terlibat aktif, mencoba, dan membangun pemahaman melalui kegiatan yang bervariasi.

Pencapaian ini memperlihatkan bagaimana pengembangan media pembelajaran dapat menjadi salah satu upaya untuk menjawab kebutuhan belajar siswa di era digital. Pemanfaatan teknologi tidak hanya diarahkan pada penguasaan perangkat, tetapi juga pada pengalaman belajar yang mendorong rasa ingin tahu, kolaborasi, dan kemampuan berpikir.

Melalui penerapan DIGISTORY, SD Negeri Arjowinangun menghadirkan inovasi pembelajaran yang memadukan teknologi dengan keaktifan siswa di kelas. Inisiatif ini sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran digital tetap dapat menempatkan siswa sebagai pusat kegiatan belajar, dengan memberi mereka kesempatan untuk mengeksplorasi materi dan menemukan pemahaman secara lebih menyenangkan.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *