Menjaga Nyala Literasi dari Sekolah: SMKN 3 Batu dan HISKI Gelar Workshop Menulis Cerpen

Foto bersama dikegiatan Workshop Menulis Cerpen

Batu, Berpola – Semangat literasi kembali menyala di SMK Negeri 3 Batu. Sekolah ini kembali menggelar kegiatan Smega Menulis Cerita tahun 2025, sebuah program tahunan yang telah memasuki tahun ketiga. Kegiatan ini terlaksana atas inisiatif SMKN 3 Batu bekerja sama dengan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Malang.

Kegiatan yang dikomandani oleh Dr. Dwi Sulistyorini, S.S., S.Hum ini menghadirkan kolaborasi antara dunia pendidikan menengah kejuruan dengan akademisi sastra. HISKI berperan sebagai narasumber, kurator karya, sekaligus pembedah buku hasil kegiatan menulis. Adapun kegiatan lapangan turut dikoordinasikan oleh Dr. Dra. Lilik Wahyuni, M. Pd Ketua Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat HISKI Komisariat Malang, serta Imrotin, M.Pd., anggota HISKI yang juga guru SMK Negeri 3 Batu.

Tahun ini, workshop mengusung tema “Guru (Sekolahku Rumahku)” dan “Murid (Temanku Saudaraku)”. Tema ini dipilih untuk menegaskan kembali makna sejati pendidikan: bahwa menjadi guru adalah panggilan jiwa, dan sekolah merupakan tempat mengabdi serta berbagi pengetahuan. Sementara bagi murid, sekolah diharapkan menjadi ruang yang aman dan nyaman, tempat tumbuhnya persaudaraan tanpa perundungan.

Baca juga : Ekskul KIR SMAN 1 Kepanjen, Rumah bagi Calon Peneliti Muda

Melatih Kepekaan Melalui Cerita

Peserta kegiatan terdiri dari guru, tenaga kependidikan, pengawas, dan murid SMKN 3 Batu. Mereka yang terpilih adalah yang telah mengirimkan rancangan karya, baik berupa naskah utuh maupun kerangka cerita. Dua minggu sebelum workshop dimulai, para peserta sudah mulai menulis cerpen yang kemudian dikirimkan kepada tim kurator dari HISKI.

Dalam pelaksanaan workshop, dua pemateri dihadirkan dari Universitas Brawijaya. Yusri Fajar menyampaikan materi tentang strategi penulisan cerita pendek, sementara Lilik Wahyuni membahas alih wahana cerita pendek, yakni proses mengadaptasi karya sastra ke bentuk lain seperti film atau drama. Pada hari kedua, kegiatan berfokus pada praktik penulisan, di mana peserta dibimbing secara langsung untuk menyempurnakan naskah mereka.

Salah satu karya yang menjadi bahan ulasan dalam sesi diskusi berjudul Bara Guru karya Niko Arya. Cerita ini menjadi pemantik perbincangan hangat di antara peserta. “Antusiasme peserta luar biasa. Setiap sesi tanya jawab selalu ramai, bahkan banyak murid yang bertanya tentang teknik menulis dengan serius,” ujar Imrotin.

Menyalakan Api Sastra di Sekolah Kejuruan

Imrotul, guru SMKN 3 Batu, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menjaga nyala literasi di lingkungan sekolah, terutama karena rapor pendidikan bidang literasi di sekolah tersebut telah mencapai kategori sangat baik. Menurutnya, sastra menjadi pilihan yang tepat karena mengandung dua unsur penting: esensi dan estetika.

penyampaian materi oleh Yusri Fajar (foto:Ist/Berpola)

“Bahasa yang disampaikan dengan indah mampu menghibur sekaligus menumbuhkan karakter positif,” ujarnya.

HISKI berperan besar dalam proses pendampingan. Tidak hanya memberikan materi teknis, HISKI juga memperkuat motivasi peserta agar berani menulis hingga tuntas. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa sastra dapat menjadi bagian penting dari berbagai bidang keahlian di SMK, bukan hanya di ranah bahasa atau seni.

Salah satu narasumber, Dr. Lilik Wahyuni, menyampaikan harapannya agar semangat peserta tidak berhenti setelah kegiatan ini berakhir.

“Saya berharap peserta tidak berhenti menulis dan membaca. Sebagai penulis, saya ingin mereka terus berlatih dan berani mengirimkan karyanya. Sebagai pembaca, saya harap mereka bisa menjadi apresiator yang kritis, yang tidak hanya menikmati karya, tetapi juga memahami nilai-nilai di baliknya,” ujarnya.

Saat ditanya pesannya bagi generasi muda yang masih ragu untuk menulis, Lilik menegaskan pentingnya keberanian untuk memulai.

“Menulislah, sekecil apa pun itu. Setiap penulis besar berawal dari karya pertama yang mungkin sederhana. Jangan takut salah, karena proses adalah guru terbaik. Yang penting, mulailah,” tambahnya.

Dari Cerita ke Antologi

Sebagai hasil akhir, karya peserta akan diterbitkan dalam bentuk antologi cerpen gabungan antara guru, tenaga kependidikan, dan murid. Proses penyusunan antologi ini ditargetkan rampung pada Maret 2026. Selanjutnya, akan diadakan acara bedah buku dan peluncuran resmi pada Mei mendatang, bertepatan dengan peringatan ulang tahun sekolah.

Melalui kegiatan ini, SMKN 3 Batu berharap semakin banyak warga sekolah yang percaya diri untuk menulis dan memublikasikan karya mereka. “Menulis adalah bentuk berbagi kebaikan. Setiap karya memiliki nilai, dan apresiasi terhadap karya sastra menjadikan setiap tulisan berharga,” ungkap salah satu peserta.

Menutup kegiatan, pesan reflektif pun disampaikan: “Jangan takut menuliskan keindahan bahasa, baik melalui cerita, puisi, maupun drama. Mari kita wariskan kisah yang penuh makna.”

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *