Dari Sastra Menjadi Arah: FSBB 2025 Gaungkan Semangat Bulan Bahasa di Universitas Brawijaya

Foto bersama saat kegiatan FSBB 2025 (Foto: Ist/Berpola)

Suasana hangat terasa di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) ketika LKM Himaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia kembali menggelar Festival Sastra Bulan Bahasa (FSBB) 2025. Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2014, festival ini selalu menjadi momen istimewa bagi mahasiswa, dosen, dan pecinta sastra yang percaya bahwa bahasa adalah rumah kebangsaan.

Bagi banyak orang, Bulan Bahasa bukan hanya seremonial tahunan. Ia adalah pengingat bahwa bahasa dan sastra adalah dua sisi dari kehidupan: satu menjadi pengikat, satu lagi menjadi cermin. Mengusung tema “Dari Sastra Menjadi Arah,” FSBB 2025 mengajak generasi muda untuk melihat karya sastra bukan sekadar estetika, melainkan jalan menuju kesadaran sosial bahwa perubahan besar bisa berawal dari satu paragraf, satu puisi, satu kalimat yang jujur.

Baca juga :Tumbuh Bersama, SMAN 1 Lawang Raih Tiga Penghargaan di Ajang Provinsi

Dr. Tengsoe Tjahjono: Sosok di Balik Semangat FSBB

Tahun ini, panitia FSBB meneladani semangat Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd., sastrawan asal Malang sekaligus dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UB. Beliau diekanal sebagai penggagas Pentigraf (cerpen tiga paragraf). Meski usianya tak muda lagi, semangatnya dalam mengajar tak pernah surut bahkan menjadi bahan bakar festival tahun ini.

“Beliau selalu menekankan bahwa sastra adalah napas kebangsaan. Dari karya, kita belajar mengenali diri dan menumbuhkan cinta pada bahasa Indonesia,” ujar Atha Jihan Rifda Tsabita, ketua panitia FSBB 2025.

Dari ruang kuliah hingga panggung festival, semangat itu menular. Para mahasiswa tak hanya belajar menulis, tapi juga memahami bahwa sastra adalah cara menjaga kemanusiaan di tengah zaman yang cepat berubah.

Kegiatan sarahsean bersama sastawan Iksaka Banu di FSBB 2025 (Foto: Ist/Berpola)

Lomba dan Sarasehan: Ruang Bertemu, Ruang Berbagi

FSBB 2025 menghadirkan dua rangkaian utama: perlombaan dan sarasehan sastra. Tahap pertama diisi lomba cipta cerpen, cipta puisi, serta beberapa kategori lain yang dilaksanakan secara daring. Lewat poster digital yang tersebar di media sosial, peserta berdatangan dari berbagai daerah mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Setelah seluruh lomba usai, kegiatan dilanjutkan dengan sarasehan sastra di kampus FIB UB. Di sinilah para sobat sastra berkumpul: mereka yang rindu diskusi hangat, bertukar ide, dan mendengar langsung kisah para sastrawan yang menjadi pembicara utama.
“Banyak peserta menunggu sarasehan karena ingin bertemu langsung dengan para penulis yang mereka kagumi,” tutur Atha dengan senyum bangga.

Baca juga : Parade Tasmi, Wujud Cinta Santri Ar-Rohmah Putri pada Al-Qur’an

Bahasa Indonesia: Rumah yang Merangkul Perbedaan

Di tengah derasnya globalisasi dan penggunaan bahasa asing, Bulan Bahasa menjadi pengingat untuk pulang ke rumah: bahasa Indonesia.
“Dengan terciptanya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, kita memiliki alat pemersatu bangsa yang dapat digunakan oleh seluruh suku di Indonesia,” jelas Dr. Eti Setiawati, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Ia menambahkan, FSBB bukan hanya ajang akademis, tetapi ruang yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar. “Harapannya, kegiatan seperti ini tak berhenti di kampus, tapi menjalar ke ruang publik. Literasi tumbuh, riset berkembang, dan cinta terhadap bahasa terus hidup,” katanya.

Antusiasme masyarakat terhadap FSBB 2025 begitu tinggi. Bahkan sebelum diumumkan secara resmi, banyak yang sudah menanyakan jadwal pelaksanaannya. Panitia berencana memperluas jangkauan festival ini dengan menggandeng sponsor dan komunitas sastra agar FSBB bisa terus berlanjut setiap tahun.

Di akhir acara, terasa jelas bahwa Bulan Bahasa bukan sekadar peringatan, tapi perayaan. Dari kata lahir makna. Dari sastra lahir arah. Dan dari semangat para muda, tumbuhlah penjaga sekaligus pembaru bahasa Indonesia di tengah dunia yang kian tanpa batas.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *