
Kabupaten Malang, Berpola — Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar bergema dari aula utama Ar-Rohmah Putri Kampus 1 di Jalan Raya Jambu 1, Semanding, Sumber Sekar, Dau, Kabupaten Malang. Suara para santri yang melantunkan hafalan mereka menyatu dalam suasana khusyuk, mencerminkan ketekunan dan cinta mendalam terhadap kalam Ilahi.
Di sekolah berasrama khusus putri ini, mendalami Al-Qur’an bukan hanya soal hafalan, melainkan juga tentang pembentukan karakter dan penanaman adab. Salah satu sosok yang berperan besar dalam pembinaan tersebut adalah Ustazah Abidatul Muthiah, C.SQ., C.LQ. Wakil Kepala Bidang Tahassus, sekaligus penanggung jawab program Tahassus dan Dauroh. Ia membina kelas khusus bagi santri penghafal 30 juz Al-Qur’an.
“Anak-anak perlu dibekali agar hafalan mereka tersimpan dalam memori jangka panjang, disertai pemahaman tajwid dan adab yang benar,” tutur Ustazah Abidatul, Senin (20/10/2025).
Menjadi Hafizah Melalui Program Tahassus
Program tahassus di Ar-Rohmah Putri mulai dirintis pada tahun 2018 dengan hanya 16 santri. Sejak awal, program ini bersifat sangat selektif karena menghafal 30 juz bukan perkara mudah.
“Kami mencari santri dengan kemampuan di atas rata-rata, baik dari segi kemampuan hafalan, akademik, dan motivasi internal untuk menapaki jalan Panjang dari program Takhasus,” ujarnya.
Untuk bisa masuk ke program tahassus, santri harus melalui proses seleksi ketat. Masa belajar di jenjang SMA ditempuh selama empat tahun. Pada tahun pertama, para santri difokuskan untuk menuntaskan hafalan 30 juz, sehingga pada tahap awal mereka belum tercatat di data dinas Pendidikan dan perlu menunda sekolah formal satu tahun. Fokus utama di tahun pertama adalah tahfiz dan penanaman adab.

Parade Tasmi’, Ajang Menjaga Hafalan dan Adab
Salah satu kegiatan unggulan yang menjadi ciri khas program ini adalah Parade Tasmi’, wadah bagi santri untuk menjaga kualitas dan kuantitas hafalan. Melalui kegiatan ini, mereka tidak hanya diuji hafalannya, tetapi juga dilatih untuk semakin mencintai Al-Qur’an. Parade Tasmi’ dilaksanakan secara rutin bagi santri kelas X, XI, dan XII.
“Parade Tasmi’ bukan hasil instan,” jelas Ustazah Abidatul. Para santri harus mampu membagi waktu antara pelajaran akademik, diniyah, dan hafalan. Kegiatan ini juga terintegrasi dengan pembelajaran ulumuddin, di mana para santri menyetorkan hafalannya ini kepada muhafizahahnya yang juga para penghafal Al-Qur’an 30 Juz.
Respon para santri sangat positif. Sejak pertama kali digelar pada tahun 2023, Parade Tasmi’ telah berlangsung hingga jilid keenam.
“Awalnya kami menata sistem dan pola pembinaan. Kini, alhamdulillah, sistemnya sudah jauh lebih mapan,” ujarnya.
Di tengah tantangan zaman, Parade Tasmi’ menjadi sarana agar para santri lebih intensif berinteraksi dengan Al-Qur’an. Setiap santri minimal menyetorkan tiga juz dalam satu kali duduk.
“Kami sempat khawatir itu akan terasa berat,” kata Ustazah Abidatul. “Namun justru banyak yang melampaui target, bahkan ada yang mampu menyetorkan enam hingga tiga puluh juz dalam sekali duduk.”
Baca juga : Menanam Nilai, Menumbuhkan Karakter: Kiprah Rohis Utsfillah di SMAN 1 Kepanjen
Kegiatan ini digelar setiap empat hingga lima bulan sekali, dengan masa persiapan yang melibatkan proses murojaah (mengulang hafalan) secara intensif. Sebelum pelaksanaan, pihak sekolah juga menyebarkan kuesioner untuk mengukur kesiapan santri.
Sebelum Parade Tasmi’ dimulai, para santri mendapat pembekalan ruhiyah untuk memperkuat mental dan tanggung jawab atas hafalan yang telah mereka pilih. Dari proses ini, mereka belajar mandiri, matang secara emosional, dan memahami pentingnya adab sebagai penjaga ilmu.
“Penanaman adab sangat penting bagi penghafal Al-Qur’an,” ujar Ustazah Abidatul. “Dengan adab qur’ani, mereka mampu bertahan memikul amanah besar sebagai khalifatullah dan menjaga diri sesuai ajaran nabi Muhammad SAW.”
Ia menambahkan, Parade Tasmi’ merupakan bagian dari ikhtiar kependidikan Ar-Rohmah Putri dalam membimbing para santri menuju kemantapan hafalan. “Kami ingin mengantar santri program tahassus agar mutqin dengan minimal tasmi’ sepuluh juz sekali duduk. Kelak, kami berharap mereka mampu menjadi penyiar nilai-nilai Al-Qur’an di masyarakat,” tandasnya.
Baca juga : Peneliti Unesa Membaca SDGs dalam Singir Pesantren
Menjaga Kalam, Menyemai Cahaya
Ustazah Abidatul menutup dengan pesan penuh makna, “Al-Qur’an adalah sumber dari segala ilmu. Semoga para santri senantiasa diberi istiqamah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an di mana pun berada. Kesuksesan di dunia hanyalah anugerah dari Allah SWT, sementara di akhirat, hafalan mereka akan menjadi mahkota bagi kedua orang tua. Janganlah menjadi kertas putih yang kosong, tetapi jadilah warna yang memberi kehidupan bagi sekitar,” pesan Ustazah Abidatul menutup wawancara.
Di balik kesunyian asrama dan lantunan ayat yang tak pernah berhenti menggema, para santri Ar-Rohmah Putri terus menapaki perjalanan panjang menjaga kalam Allah. Bagi mereka, menghafal Al-Qur’an bukan sekadar mengingat ayat demi ayat, tetapi juga merawat makna, adab, dan cahaya yang tumbuh di dalam hati. Dari tempat inilah, generasi penjaga Al-Qur’an itu tumbuh perlahan, namun pasti membawa kedamaian bagi dirinya dan sekitarnya.