PSG UB Pacu Kolaborasi Riset Gender di Konferensi Nasional dan KLB ASWGI 2025

dokumentasi kegiatan Kolaborasi Riset Gender di Konferensi Nasional dan KLB ASWGI 2025 (foto; Ist/ Berpola)

Malang, Berpola– Suasana UB Guest House, Kota Malang, terasa berbeda pada akhir pekan ini. Aula yang biasanya digunakan untuk kegiatan akademik harian berubah menjadi ruang penuh gagasan. Di sana, para akademisi, peneliti, dan praktisi gender dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia berkumpul. Mereka datang bukan sekadar untuk berbagi hasil riset, tetapi untuk meneguhkan arah baru bagi gerakan kesetaraan gender di dunia akademik.

Pusat Studi Gender Universitas Brawijaya (PSG UB) menjadi tuan rumah Konferensi Nasional dan Kongres Luar Biasa (KLB) Asosiasi Sosiologi dan Kajian Gender Indonesia (ASWGI) 2025, yang berlangsung pada 10–11 November 2025. Kegiatan ini menjadi ajang penting untuk memacu kolaborasi riset gender di tengah tantangan era disrupsi teknologi dan sosial yang semakin kompleks.

Kesetaraan sebagai Agenda Strategis

Dalam sambutan pembukaannya, Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menegaskan bahwa isu kesetaraan gender kini tak lagi berada di pinggiran diskursus akademik.

“Isu gender adalah agenda strategis yang perlu diintegrasikan dalam tridharma perguruan tinggi,” ujarnya.

Menurut Prof. Widodo, universitas memiliki tanggung jawab moral dan institusional untuk mengawal agenda kesetaraan, baik melalui riset, pengajaran, maupun pengabdian masyarakat.

“Di tengah arus disrupsi teknologi dan transformasi sosial yang masif, kolaborasi antara akademisi dan praktisi gender menjadi semakin krusial,” tambahnya.

Pernyataan itu mencerminkan arah baru pendidikan tinggi yang tidak hanya menekankan capaian akademik, tetapi juga peran sosialnya sebagai penggerak perubahan.

Baca juga Refleksi Mahasiswa Diksasindo UB terhadap Kehadiran AI di Dunia Pendidikan

Momentum Refleksi Akademik

Sebagai Ketua Pusat Studi Gender sekaligus Ketua Pelaksana, Dr. Dra. Lilik Wahyuni, M.Pd., menyebut konferensi dan kongres ini sebagai ruang refleksi.

“Ini bukan sekadar kegiatan rutin organisasi, tetapi momentum untuk memperbarui arah gerak akademik dan riset gender di Indonesia,” tuturnya.

Lilik menekankan bahwa kegiatan ini juga berkelindan dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan kelima tentang kesetaraan gender.

“Kami berharap forum ini melahirkan gagasan transformatif yang tak berhenti di wacana, tapi berlanjut menjadi gerakan sosial dan kebijakan nyata,” ujarnya.

Baginya, akademisi tidak hanya berperan sebagai pengamat, tetapi juga sebagai policy advisor dan change agent, menggabungkan kekuatan intelektual dengan tanggung jawab sosial.

Baca juga : Design Thinking sebagai Jembatan Budaya: Langkah Kreatif Prodi Seni FIB UB Bersama UiTM Malaysia

Ruang Konsolidasi dan Regenerasi

Hari pertama kegiatan diisi dengan Kongres Luar Biasa (KLB) ASWGI, yang membahas laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2023–2025, revisi Anggaran Dasar, serta perumusan arah program kerja 2025–2029. Forum ini juga menjadi wadah penting untuk pemilihan Ketua Umum ASWGI yang baru, menandai regenerasi kepemimpinan dan pembaruan visi organisasi.

Sementara itu, Konferensi Nasional bertema “Penguatan Peran ASWGI di Era Disrupsi’ pada hari kedua menghadirkan diskusi paralel lintas bidang: sosial-humaniora, pendidikan, ekonomi, teknologi, hingga etika digital. Beragam gagasan kritis mengemuka, menegaskan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam memahami persoalan gender di tengah perubahan zaman.

Transformasi dan Jejaring Ilmiah

Ketua ASWGI, Prof. Dr. Ir. Keppi Sukesi, M.S., dalam arahannya mengapresiasi PSG UB atas keberhasilannya memfasilitasi forum berskala nasional tersebut. Ia menekankan pentingnya transformasi asosiasi agar tetap adaptif terhadap perubahan sosial.

“PSG UB telah menunjukkan kapasitas luar biasa sebagai tuan rumah. ASWGI harus menjadi pelopor yang adaptif dan visioner dalam mendorong paradigma kesetaraan gender, baik di ranah akademik maupun masyarakat luas,” ujarnya.

Prof. Keppi juga menyoroti perlunya memperkuat riset kolaboratif lintas universitas dan memperluas jejaring publikasi ilmiah berbasis gender, agar dampaknya dapat terukur dan berkelanjutan.

Ekosistem Riset yang Inklusif

Dua hari kegiatan ini meneguhkan semangat untuk membangun ekosistem riset gender yang produktif, inklusif, dan berorientasi kebijakan publik. Acara ditutup dengan business meeting yang memetakan agenda penelitian bersama antarperguruan tinggi anggota ASWGI—sebuah langkah konkret menuju kolaborasi riset nasional.

Bagi PSG UB, kegiatan ini bukan hanya ajang akademik, melainkan juga penegasan peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam mewujudkan kesetaraan gender di tingkat nasional dan global.

Melalui sinergi riset, publikasi, dan advokasi, PSG UB berharap dapat terus menginspirasi komunitas gender studies di Indonesia untuk meneliti, menulis, dan berdialog lintas disiplin—demi terciptanya masyarakat yang lebih setara dan inklusif.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *