
Malang, Berpola – Setelah diguyur hujan berturut-turut hingga menyebabkan banjir setinggi lutut orang dewasa, warga RW 08 Kelurahan Bunulrejo akhirnya turun tangan. Banjir yang melanda dalam beberapa hari terakhir menyisakan tumpukan sampah, bambu, dan sedimen yang menghambat aliran sungai dekat permukiman. Kondisi itu membuat warga sepakat menggelar kerja bakti melalui Gerakan Angkat Sampah dan Sedimen (GASS) pada Minggu, 7 Desember 2025.
Dimulai pukul 06.00 pagi, warga dari berbagai RT berkumpul membawa alat seadanya. Mereka bergotong royong mengangkat sampah, lumpur, hingga bambu-bambu besar yang menyumbat aliran air. Meski hanya mengandalkan swadaya masyarakat, semangat kebersamaan terlihat jelas di sepanjang kawasan kerja bakti.
Baca juga : Dari Kelas Iseng ke Panggung Besar: Perjalanan Westya Endra Membangun Morpho
Sinergi Warga dan Perangkat Kelurahan Hadirkan Semangat Pemulihan Pascabanjir

(Foto: Andini/Berpola)
Ketua RT dan RW setempat turut memimpin jalannya kegiatan. Mereka bahu-membahu bersama warga membersihkan drainase dan bantaran sungai agar air dapat mengalir kembali dengan lancar. Menariknya, sebagian bambu bekas banjir yang berhasil diangkat justru dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan warga. Sementara sisanya dibakar agar tidak menumpuk kembali di sekitar sungai.
Keikutsertaan perangkat kelurahan semakin menguatkan gerakan ini. Winarko, S.T., Lurah Bunulrejo, hadir langsung di lokasi untuk mendukung kegiatan GASS. Ia menilai kerja bakti semacam ini sangat penting dilakukan setelah banjir, mengingat penyumbatan aliran air dapat meningkatkan risiko banjir lanjutan.
“Membersihkan sampah dan sedimen setelah banjir adalah langkah penting untuk meminimalkan kemungkinan banjir berikutnya,” ujarnya di sela kegiatan.
Baca juga : Menyala di Tengah Gelap, Perjuangan Guru di TBM Lentera Talangsuko
Harapan Warga: Sungai Lebih Dalam, Banjir Tak Datang Lagi
Meski kerja bakti berjalan lancar, warga menyadari bahwa upaya ini belum cukup. Joni, salah satu Ketua RT, berharap dinas terkait dapat membantu proses pengerukan sungai. Menurutnya, kondisi sungai yang semakin dangkal membuat air mudah meluap saat hujan deras.
Harapan warga sederhana aliran sungai kembali bersih, deras, dan tidak lagi mengancam permukiman. Dengan sungai yang lebih terawat, warga juga berharap semangat gotong royong semakin tumbuh bukan hanya saat banjir datang, tetapi sebagai budaya menjaga lingkungan bersama.
josss