Belajar Berbagi Sejak Usia Dini, TK Laboratorium UM Tanamkan Empati Lewat Senabung

Malang, Berpola – KB TK Laboratorium Universitas Negeri Malang (UM) terus menanamkan nilai kepedulian sosial sejak usia dini melalui program berbagi yang konsisten dijalankan selama empat tahun terakhir. Sekolah yang beralamat di Jalan Magelang 2, Lowokwaru, Kota Malang ini membiasakan anak-anak untuk peduli terhadap sesama dengan terjun langsung ke masyarakat, sehingga rasa empati dan kepedulian tumbuh secara alami dalam keseharian mereka.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Sekolah KB & TK Laboratorium Universitas Negeri Malang (UM), Rahayu Asyhari, S.Pd., Gr., M.Pd. Menurutnya, program kepedulian sosial merupakan bagian dari pendidikan karakter yang dirancang agar anak-anak tidak hanya memahami makna berbagi secara konseptual, tetapi juga mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar berbagi sejak dini, Siswa KB-TK Laboratorium Universitas menyemarakkan program Senabung dengan aksi nyata (Foto: Ist/Berpola)

Jumat Berkah dan Program Senabung

Upaya menumbuhkan kepedulian sosial tersebut diawali melalui kegiatan rutin bertajuk Jumat Berkah. Dalam kegiatan ini, anak-anak diajak untuk menyisihkan sebagian uang mereka melalui kebiasaan menabung. Dari kebiasaan sederhana tersebut, sekolah kemudian mengembangkan program Senabung (Sedekah Nasi Bungkus) yang menjadi salah satu agenda unggulan KB-TK Laboratorium UM.

“Melalui Senabung, anak-anak belajar bahwa dari kebiasaan menabung, mereka bisa membantu orang lain,” ujar Rahayu Asyhari.

Baca juga: Belajar Tanpa Bosan, TA Zam Zam Menemukan Cara untuk Belajar Bahagia

Pembagian sedekah nasi bungkus dilakukan setiap Jumat di akhir bulan. Sasaran penerima bantuan adalah masyarakat sekitar yang membutuhkan, seperti pengemudi angkutan kota, pengemudi ojek daring, hingga warga di lingkungan sekitar sekolah. Dalam kegiatan ini, anak-anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut terlibat langsung dalam proses pembagian.

“Anak-anak kami ajak untuk merasakan langsung proses membantu, agar empati tumbuh secara alami,” tambah Rahayu.

Antusiasme anak-anak terlihat jelas dalam setiap kegiatan berbagi. Kebiasaan baik ini juga mendapatkan dukungan penuh dari para orang tua. Bahkan, saat pembagian nasi bungkus berlangsung, sejumlah orang tua turut menyiapkan tambahan dari rumah agar jumlah bantuan yang dibagikan bisa lebih banyak. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga ini menjadi penguat penting dalam menanamkan nilai kepedulian sosial sejak dini.

Belajar Berbagi Lewat Aksi Nyata

Selain berbagi kepada masyarakat sekitar, nilai empati anak-anak juga diasah melalui pengenalan terhadap peristiwa bencana alam. Baru-baru ini, anak-anak diperkenalkan pada kondisi bencana yang tengah melanda tiga provinsi di Indonesia. Dengan pendampingan guru, pihak sekolah menayangkan video edukatif yang disesuaikan dengan usia anak.

Tayangan tersebut menjadi jembatan awal bagi anak-anak untuk memahami kondisi para korban secara sederhana, tanpa menimbulkan rasa takut. Dari sana, tumbuh rasa iba dan kepedulian yang muncul secara alami dari dalam diri anak-anak.

Pemahaman tersebut kemudian diwujudkan dalam aksi nyata. Bersama orang tua, anak-anak terlibat dalam penggalangan bantuan berupa sembako dan uang tunai. Mereka ikut serta dalam proses mengumpulkan, memilah, hingga mengemas bantuan yang akan disalurkan kepada korban bencana.

Baca juga : Pasaraya Sehat, Belajar Transaksi Sambil Menanamkan Hidup Sehat Sejak Dini

Keterlibatan langsung ini menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak, bahwa kepedulian tidak berhenti pada rasa simpati, melainkan perlu diwujudkan dalam tindakan nyata sebagai bentuk empati dan kemanusiaan.

Pada kegiatan berbagi kali ini, bantuan disalurkan melalui Yayasan Nurul Hayat, lembaga sosial yang telah dikenal terpercaya. Penyaluran melalui yayasan tersebut juga menjadi sarana pembelajaran bagi anak-anak tentang pentingnya amanah dan kepercayaan dalam kegiatan sosial.

Melalui program Senabung dan pembiasaan berbagi yang dilakukan secara berkelanjutan, KB TK Laboratorium Universitas Negeri Malang menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat dimulai sejak usia dini. Dari nasi bungkus yang dibagikan setiap Jumat akhir bulan hingga aksi solidaritas untuk korban bencana, tertanam harapan akan lahirnya generasi yang peduli, berempati, dan memiliki kepekaan sosial tinggi terhadap lingkungan sekitarnya..

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *