Judul : Musim yang Tak Sempat Kita Miliki
Terbitan pertama : 2025
Pengarang : Rintik Sedu
Halaman : 272

Resensi- Ada banyak hal yang bisa dipelajari manusia ketika kehilangan. Sayangnya, tidak ada sekolah yang mengajarkan cara mengikhlaskan. Kita hanya tumbuh bersama waktu, berharap suatu hari hati akan selesai dengan sendirinya. Padahal, melepaskan bukan perkara waktu semata. Ia adalah pekerjaan yang sering kali berlangsung jauh lebih lama daripada yang kita bayangkan.
Kegelisahan itulah yang terasa begitu kuat dalam Musim yang Tak Sempat Kita Miliki, novel terbaru Paus nama pena Rintik Sedu. Novel ini tidak sedang mengajarkan cara melupakan seseorang. Sebaliknya, ia mengajak pembaca menerima kenyataan bahwa ada orang-orang yang memang akan terus tinggal di dalam ingatan, meskipun tubuhnya sudah lama tidak lagi hadir dalam kehidupan.
Paus masih setia pada kekuatannya untuk menghadirkan tokoh-tokoh yang tidak berusaha menjadi sempurna. Mereka rapuh, sering salah mengambil keputusan, keras kepala, dan berkali-kali gagal berdamai dengan diri sendiri. Karena itulah mereka terasa hidup. Pembaca tidak sedang mengenal karakter fiksi, melainkan sedang bercermin.
Rani, tokoh utama dalam novel ini, hidup bersama masa lalu yang belum benar-benar selesai. Ia menyimpan pertanyaan yang tak pernah memperoleh jawaban. Namun, semakin jauh cerita bergerak, semakin terasa bahwa barangkali tidak semua pertanyaan memang diciptakan untuk dijawab. Ada kalanya hidup hanya meminta kita berhenti bertanya.
Baca juga: The Midnight Library Tidak Berniat Menyembuhkan Tapi Diam-Diam Memelukku
Bukankah dalam kehidupan nyata kita juga demikian?
Berapa banyak hubungan yang berakhir tanpa penjelasan? Berapa banyak orang yang pergi tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal? Kita sering terjebak pada keyakinan bahwa setiap perpisahan harus memiliki penutup yang rapi. Padahal, hidup tidak bekerja seperti novel detektif yang selalu menyuguhkan jawaban di halaman terakhir.
Menariknya, Paus tidak memilih lagu atau tempat sebagai rumah bagi kenangan. Ia memilih aroma.
Pilihan yang tampak sederhana itu justru menjadi salah satu kekuatan novel ini. Sebab, aroma bekerja dengan cara yang nyaris mustahil dilawan. Satu wangi tertentu mampu mengembalikan seseorang pada percakapan bertahun-tahun lalu, pada pelukan yang pernah terasa begitu hangat, atau pada seseorang yang selama ini diyakini sudah berhasil dilupakan.
Ingatan memang tidak selalu datang melalui mata. Kadang ia bersembunyi dalam penciuman.
Novel ini juga tidak menawarkan optimisme murahan. Paus tidak memaksa pembacanya percaya bahwa setiap kehilangan akan diganti dengan kebahagiaan yang lebih besar. Ia hanya menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk terus berjalan, meskipun tidak semua luka benar-benar sembuh.
Di situlah Musim yang Tak Sempat Kita Miliki terasa jujur. Kehidupan tidak selalu menghadiahkan akhir yang kita inginkan. Ada cinta yang selesai tanpa sempat dimiliki. Ada mimpi yang gugur sebelum mekar. Ada orang-orang yang hanya singgah untuk mengajarkan cara melepaskan.
Baca juga : Tabi, Menyusuri Luka dan Belajar Berdamai dengan Kehilangan
Meski demikian, novel ini bukan tanpa cela. Pada beberapa bagian, refleksi batin tokoh terasa terlalu panjang sehingga ritme cerita melambat. Pembaca yang mengharapkan perkembangan konflik yang cepat mungkin akan merasa tersendat. Namun, bagi mereka yang menikmati novel sebagai ruang kontemplasi, kelambatan itu justru menjadi jeda untuk ikut mengendapkan perasaan.
Barangkali kalimat yang paling lama tinggal setelah buku ini ditutup bukanlah tentang cinta, melainkan tentang keberanian menciptakan penutup bagi diri sendiri.
“Kita enggak bisa selalu mendapatkan perpisahan dalam setiap pertemuan, tetapi kita bisa membuat batasan (closure) itu sendiri.”
Pada akhirnya, buku ini mengingatkan bahwa yang paling sulit bukan kehilangan seseorang. Yang paling sulit adalah menerima bahwa tidak semua orang yang kita cintai ditakdirkan tinggal. Dan mungkin, menjadi dewasa memang berarti belajar hidup berdampingan dengan kehilangan-kehilangan yang tidak pernah benar-benar pergi.