Bersama The Maples Beauty Clinic, Dr. Widia Indra Arsanti Bantu Pasien Tampil Lebih Percaya Diri

Dr. Widia Indra Arsanti, M.Biomed onwer The Maples Beauty Clinic (foto: Ist/Berpola)

Berpola, Malang- Kepercayaan diri sering kali lahir dari hal-hal sederhana. Salah satunya: rasa nyaman terhadap diri sendiri saat bercermin. Dari sanalah, menurut Dr. Widia Indra Arsanti, M.Biomed, estetika tidak bisa dilepaskan dari kesehatan.

“Penampilan itu membangun trust. Cara orang memandang kita sering kali dimulai dari bagaimana kita merawat diri,” ujarnya pelan.

Sebagai Founder The Maples Beauty Clinic, Dr. Widia tidak melihat dunia kecantikan sekadar urusan tampil cantik. Baginya, ini adalah tentang kesehatan kulit, pengetahuan, dan rasa percaya diri yang tumbuh perlahan bukan instan.

Dari Internship ke Dunia Estetika

Ketertarikan Dr. Widia pada dunia kecantikan dimulai sejak 2013, selepas menjalani internship. Saat itu, ia memilih fokus mendalami estetika dengan mengikuti berbagai pelatihan. Langkah pertamanya ditandai dengan membuka klinik kecantikan di Gresik.

Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Ia dan sang suami sama-sama berprofesi sebagai dokter. Ketika suaminya melanjutkan pendidikan spesialis, Dr. Widia harus ikut berpindah kota. Klinik yang ia rintis pun terpaksa ditutup, sebab klinik kecantikan menuntut keterlibatan langsung dokter penanggung jawab.

“Waktu itu berat, tapi saya percaya ilmu dan pengalaman tidak pernah benar-benar hilang,” katanya.

Baca juga : Snow Bubble Special Premium, Solusi Facial dari Aurell Skin Care

Bangkit di Tengah Pandemi

Sosok Dr. Widia Indra Arsanti, M.Biomed onwer The Maples Beauty Clinic (foto: Ist/Berpola)

Tahun 2021, di tengah situasi pandemi Covid-19 varian Omicron, Dr. Widia kembali membuka klinik The Maples Beauty Clinic. Bagi sebagian orang, ini mungkin waktu yang kurang ideal. Namun baginya, justru saat itulah kebutuhan perawatan kulit semakin terasa.

“Kliniknya baru, tapi dokternya bukan baru,” ujarnya sambil tersenyum.

Ia melihat perawatan kulit sebagai kebutuhan, bukan sekadar keinginan. Bukan soal putih atau tidak, melainkan sehat. Kulit yang sehat, menurutnya, akan memudahkan seseorang berekspresi bahkan tanpa bedak, bahkan dengan makeup minimal.

“Cantik itu tidak harus putih. Kulit sehat sudah lebih dari cukup,” tegasnya.

Ilmu, Konsistensi, dan Kejujuran

Dalam membangun kepercayaan pasien, Dr. Widia menekankan satu hal utama: pengetahuan. Tanpa ilmu, rekomendasi apa pun tidak akan bertahan lama.

“Kita boleh saja kasih saran, tapi kalau kita sendiri tidak paham ilmunya, pasien juga tidak akan percaya,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya konsistensi—baik dari dokter maupun pasien. Ada hal-hal yang boleh dilakukan, ada pula yang sebaiknya dihindari. Perawatan kulit, menurutnya, adalah proses bersama.

Sebagai pelayan kesehatan, ia berupaya menjaga kualitas: mulai dari produk, alat, hingga mengikuti tren kecantikan yang tetap berbasis medis. Semua harus berjalan selaras agar hasilnya nyata dan aman.

Tidak Semua yang Bisa Menyuntik, Bisa Menangani Risiko

Seiring waktu, Dr. Widia melihat masyarakat semakin melek terhadap perawatan estetika. Namun, ia tetap menekankan pentingnya konsultasi sebelum tindakan apa pun dilakukan.

“Kita harus tahu apa yang diinginkan pasien, dan apakah itu proporsional untuk mereka,” jelasnya.

Dengan latar belakang medis, ia memahami batas-batas estetika dan kondisi darurat yang mungkin terjadi. Baginya, tidak semua orang yang bisa melakukan tindakan estetika benar-benar paham cara menangani risikonya.

“Semua orang bisa menyuntik. Tapi tidak semua orang tahu cara mengatasinya kalau terjadi sesuatu,” ujarnya reflektif.

Baca juga :Merawat Kulit, Menumbuhkan Percaya Diri

Pesan untuk Anak Muda dan Mereka yang Bertambah Usia

Kepada anak muda yang kerap terobsesi dengan kulit putih, Dr. Widia menyampaikan pesan sederhana: jangan memaksakan.

“Kalau terlalu banyak eksfoliasi atau produk pemutih, kulit malah bisa merah, iritasi, dan akhirnya kusam,” katanya.

Kulit sehat, menurutnya, adalah kulit yang tidak mudah merah saat terkena matahari, tidak mengelupas saat udara dingin, dan terasa nyaman.

Sementara bagi usia 30 tahun ke atas, fokus perawatan bergeser ke anti-aging. Menjadi tua adalah keniscayaan, tapi penuaan dini bisa diperlambat.

“Tidak ada kata terlambat untuk terlihat lebih cantik,” ujarnya.

Harapan Dr. Widia sederhana namun bermakna. Ia ingin The Maples Beauty Clinic hadir sebagai ruang yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar membantu mengatasi masalah kulit, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri.

“Kalau sudah percaya diri, orang akan lebih mudah mengembangkan diri. Lebih berani, lebih yakin, termasuk dalam bekerja,” tuturnya.

Di balik setiap perawatan, ada keyakinan yang ia rawat: bahwa kecantikan sejati selalu berangkat dari kesehatan, pengetahuan, dan penerimaan terhadap diri sendiri.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *