Book Party dan Upaya Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Era Digital

Para peserta dan pengurus Semarang Book Paarty mengabadikan momen kebersamaan setelah kegiatan membaca dan sharing bersama di salah satu wilayah Semarang (Foto: Ist/Berpola)

Semarang, Berpola โ€“ Di tengah derasnya arus konten digital yang membuat masyarakat menghabiskan berjam-jam menatap layar gawai, muncul fenomena yang menarik di sejumlah kota di Indonesia. Komunitas membaca atau book party bermunculan dan mengajak anak muda kembali membuka buku, bukan di perpustakaan, melainkan di taman, kafe, hingga ruang-ruang publik.

Fenomena tersebut juga tumbuh di Kota Semarang melalui Semarang Book Party. Komunitas yang berdiri sejak Mei 2024 itu menawarkan cara berbeda dalam membangun budaya literasi. Membaca tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang sunyi dan individual, tetapi menjadi pengalaman sosial yang mempertemukan orang-orang dengan minat yang sama.

Kemunculan komunitas semacam ini menjadi ironi sekaligus harapan. Di satu sisi, media sosial kerap dituding menggeser kebiasaan membaca buku. Di sisi lain, justru media sosial pula yang menjadi ruang bagi komunitas-komunitas literasi untuk saling terhubung dan menarik anggota baru.

Hizkiya Arya, mantan Ketua Semarang Book Party, mengatakan komunitas tersebut lahir dari kegelisahan terhadap anggapan bahwa masyarakat Indonesia tidak gemar membaca. Menurutnya, persoalan utama bukan semata rendahnya minat, melainkan belum banyak ruang yang membuat aktivitas membaca terasa menyenangkan.

Baca juga : Rumah Baca Singajaya Dampingi Anak Yatim dan Duafa Raih Pendidikan

“Kami melihat banyak orang sebenarnya ingin membaca, tetapi belum menemukan lingkungan yang mendukung. Dari situ kami berpikir bahwa membaca bisa dibuat lebih menyenangkan dan dilakukan bersama-sama,” ujarnya.

Suasana kegiatan membaca bersama di ruang terbuka secara berkelompok
(Foto: Ist/Berpola)

Dalam setiap pertemuan, peserta yang akrab disapa book mates tidak diwajibkan membaca buku yang sama. Mereka bebas membawa bacaan sesuai minat masing-masing. Kegiatan diawali dengan sesi silent reading selama sekitar satu jam, kemudian dilanjutkan sharing session selama 30 hingga 60 menit.

Bagi M. Syafiq Yunensa, pendiri Semarang Book Party, sesi berbagi justru menjadi inti dari kegiatan tersebut.

“Sharing session menjadi momen yang paling seru. Walaupun membaca buku yang berbeda, setiap orang bisa saling belajar dari cerita dan pengalaman membaca peserta lain,” katanya.

Model membaca bersama tersebut menunjukkan adanya pergeseran cara generasi muda memaknai literasi. Buku tidak lagi hanya menjadi sumber pengetahuan, tetapi juga menjadi medium membangun relasi sosial. Diskusi yang lahir setelah membaca membuat peserta memperoleh perspektif baru tanpa harus membaca judul yang sama.

Baca juga : Kanjuruhan Membaca Hadirkan Budaya Literasi di Kabupaten Malang

Fenomena ini muncul ketika indikator literasi nasional sebenarnya menunjukkan tren yang membaik. Data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencatat Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia meningkat menjadi 72,44 pada 2024. Sementara Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) mencapai 73,52, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa budaya membaca terus berkembang, meskipun menghadapi tantangan perubahan pola konsumsi informasi akibat media digital.

Di Semarang, upaya membangun ekosistem literasi itu dilakukan melalui kegiatan rutin tiga kali setiap bulan di kawasan Gunungpati, Tembalang, dan Ngaliyan. Semarang Book Party juga membuka kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari kafe, creative space, kampus, perpustakaan, hingga toko buku. Selain membaca bersama, komunitas ini mengembangkan program Selasa Kata, Kamis Puitis, Morning Reading, dan pelatihan kepenulisan sebagai ruang belajar yang lebih luas.

Meski demikian, tantangan literasi belum sepenuhnya selesai. Meningkatnya indeks kegemaran membaca belum otomatis menunjukkan masyarakat beralih dari konsumsi informasi singkat ke bacaan yang lebih mendalam. Kehadiran komunitas seperti Semarang Book Party memperlihatkan bahwa membangun budaya membaca tidak cukup hanya dengan menyediakan buku, tetapi juga menciptakan ruang sosial yang membuat orang merasa nyaman untuk membaca, berdiskusi, dan kembali menjadikan buku sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *