Demi Sekolah Sehat, SMPN 2 Ampelgading Hidupkan Budaya Bekal Masakan Ibu

Siswa SMPN 2 Ampelgading makan bekal bersama di dalam kelas saat istirahat pertama (Foto: Ist/Berpola)

Kab. Malang, Berpola — Tidak adanya kantin di lingkungan sekolah kerap dianggap sebagai kekurangan. Namun, bagi SMP Negeri 2 Ampelgading yang berada di Dusun Sumber Buncis, Desa Sonowangi. Ketiadaan itu justru melahirkan sebuah gerakan kecil yang berdampak besar: Kalbu, singkatan dari Bekal Sehat Masakan Ibu.

Program ini lahir pada masa pandemi Covid-19, ketika sekolah memutuskan tidak lagi membuka kantin demi keamanan siswa. Sejak itu, seluruh siswa diimbau membawa bekal dari rumah masakan ibu yang disiapkan dengan penuh cinta. Empat tahun berjalan, kebiasaan ini tak sekadar bertahan, tetapi tumbuh menjadi budaya sekolah.

“Tingkat sampah di sekolah bisa berkurang hingga 90 persen,” ujar Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Ampelgading, Musyarofah, S.Pd.

Baca juga : Dari Gugup Menjadi Percaya Diri: Cerita Pelatihan Public Speaking SMPN 1 Tirtoyudo

Tidak adanya jajanan kemasan otomatis menekan produksi sampah plastik harian.

Lebih dari sekadar upaya pengurangan sampah, Kalbu juga menjadi cara sekolah memastikan kualitas asupan harian siswa. Dengan membawa bekal dari rumah, siswa terhindar dari konsumsi makanan sembarangan dan relatif bebas dari enam bahan tambahan pangan yang dihindari: pengawet, pewarna, perasa, dan sejenisnya.

Program ini sekaligus menjadi modal menuju sekolah rintisan Adiwiyata. Asupan gizi siswa pun lebih terpantau, sebab orang tua dapat menyesuaikan menu dengan kebutuhan dan kesukaan anak. “Karena dimasak sendiri, biasanya anak-anak justru lebih lahap. Bekalnya jarang tersisa,” kata kepala sekolah.

Siswa menikmati bekal di taman sekolah yang bersih dan bebas sampah.
(Foto: Ist/Berpola)

Asiyah, S. Pd. guru sekaligus kesiswaan mengakui bahwa proses pembiasaan tidak selalu mudah. “Awalnya sulit mendisiplinkan siswa soal bekal sehat dan pengelolaan sampah. Tapi lama-lama mereka sadar,” ujarnya. Kini, bahkan ketika membawa roti atau makanan dari luar, siswa tetap menaruhnya dalam kotak makan, tanpa menyisakan bungkus apa pun.

Dukungan orang tua juga besar. Selain memantau gizi harian anak, beberapa orang tua menyesuaikan porsi bekal untuk siswa yang memiliki kebutuhan makan lebih banyak. Tak jarang mereka membawa bekal ganda.

Setiap hari, siswa makan bersama pada jam istirahat pertama. Sebelum makan, mereka berdoa bersama, didampingi guru. Suasana makan kian menyenangkan karena lingkungan sekolah bersih dan minim sampah. “Kadang mereka makan di taman. Karena bersih, mereka bisa duduk di mana saja,” ujar Asiyah , Jumat (5/12/2025)

Baca juga : SMAN 2 Kota Malang Dorong Prestasi Siswa dengan UKBI

Belum Tersentuh Program Makan Bergizi Gratis

Siswa SMPN 2 Ampelgading makan bekal bersama di dalam kelas saat istirahat pertama (Foto: Ist/Berpola)

Jarak sekolah yang cukup jauh dari pusat kecamatan membuat SMP Negeri 2 Ampelgading hingga kini belum tersentuh Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kendala utama adalah tidak adanya dapur umum di sekitar sekolah. Meski demikian, siswa tetap mendapat makanan bergizi hangat dari rumah lewat program Kalbu.

Kelak jika program MBG mulai diterapkan, Asiyah berharap Kalbu tidak serta-merta hilang. “Kalau porsinya belum cukup untuk kebutuhan sampai sore karena di sini sekolah full day Kalbu sebaiknya tetap berjalan, mungkin digeser ke jam makan siang,” katanya.

Di tengah keterbatasan akses dan letak yang jauh dari pusat kota, sekolah ini membuktikan bahwa kemandirian bisa melahirkan kebiasaan baik. Tanpa kantin, tanpa program makan gratis, SMP Negeri 2 Ampelgading tetap menumbuhkan generasi yang sehat berbekal masakan rumah yang sederhana, hangat, dan penuh kasih dari tangan ibu.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *