
Malang, Berpola— Panggung seni di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang kembali menjadi ruang belajar yang hidup. Melalui momen pementasan dalam Tetragrama yang berjudul Pinangan Anton Chekow, mahasiswa tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga merayakan proses kreatif yang lahir dari pembelajaran sastra dan teater drama. Di ruang ini, teks, tubuh, suara, dan kerja kolektif bertemu dalam satu pengalaman artistik.
Bagi Dr. Sn. Indra Suherjanto, S.Pd., M.Sn., dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang, pertunjukan teater drama merupakan medium pembelajaran yang menautkan teori dengan praktik secara utuh. Pementasan seperti Tetragrama menjadi ruang nyata bagi mahasiswa untuk mengolah naskah, membangun karakter, dan bekerja sama dalam satu kesatuan artistik.
“Melalui pertunjukan teater drama, mahasiswa dilatih tidak hanya memahami teks secara akademik, tetapi juga menghidupkannya di atas panggung. Mereka belajar peka terhadap emosi, vokal, gestur, serta makna yang ingin disampaikan kepada penonton,” ujar Dr. Sn. Indra, Senin (5/1/2026)
Baca juga : Dempo Fair, Laboratorium Nyata Siswa untuk Bereksperimen dan Berkarya
Dari Ruang Kelas ke Panggung Tetragrama
Sebagai agenda pementasan yang menutup proses perkuliahan, Tetragrama menghadirkan drama sebagai ruang pembelajaran yang reflektif. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2023 tidak lagi sekadar membaca naskah, melainkan menyelaminya secara mendalam.
Menurut Indra, teater drama efektif karena menuntut mahasiswa menghubungkan teori drama dengan praktik panggung.
“Di sinilah pemahaman tentang struktur naskah, karakterisasi, dan estetika pertunjukan benar-benar diuji. Mereka belajar bahwa drama adalah kerja kolektif yang menuntut kesadaran peran dan tanggung jawab,” katanya.
Proses panjang tersebut membawa perubahan nyata. Mahasiswa yang semula ragu tampil di depan publik mulai menunjukkan kepercayaan diri. Ekspresi emosi menjadi lebih berani, komunikasi antarpemain semakin terbangun, dan disiplin latihan tumbuh sebagai bagian dari etos berkarya.
“Terlihat ada transformasi dari sekadar pembelajar menjadi pencipta. Mereka mulai menyadari bahwa pertunjukan adalah hasil dari proses, pilihan, dan kerja bersama,” tuturnya.
Baca juga : Gebyar AKW XXV SMAN 1 Kepanjen Hadirkan Ragam Karya dan Inovasi Pelajar
Antusiasme, Tantangan, dan Kerja Kolektif
Antusiasme mahasiswa terasa kuat sepanjang proses latihan hingga pementasan. Apresiasi penonton dalam momen Tetragrama menghadirkan kebanggaan tersendiri, sekaligus menyadarkan bahwa karya seni lahir dari ketekunan. Tantangan teknis mulai dari penguasaan tubuh, vokal, hingga dinamika antarpemain justru menjadi pemantik semangat untuk terus berlatih.
Untuk mengatasi perbedaan kemampuan, Dr. Sn. Indra menerapkan pendampingan yang adaptif. Bimbingan personal diberikan sesuai kebutuhan, disertai latihan vokal, tubuh, dan improvisasi secara bertahap. Kolaborasi antarmahasiswa juga didorong agar mereka saling belajar dan memberi umpan balik.
“Dalam teater drama, ekspresi bukan hanya soal teknik, tetapi juga kejujuran emosional dan kepercayaan antar pemain. Dosen hadir untuk menjaga ruang latihan tetap aman, suportif, dan terbuka,” ujarnya.
Baca juga : Topeng Panji Setyakasih, Ketika Tradisi Bicara Tentang Cinta dan Ketulusan
Lebih dari sekadar capaian artistik, pertunjukan teater drama menanamkan nilai-nilai penting: kepercayaan diri, kemandirian kreatif, disiplin, tanggung jawab, serta kemampuan reflektif. Mahasiswa belajar menjadi bagian dari satu kesatuan pertunjukan menghargai proses, peran, dan kontribusi masing-masing.
Dalam pendampingan kreatif, peran dosen menjadi fasilitator sekaligus mentor. Umpan balik diberikan secara konstruktif agar mahasiswa berkembang tanpa tekanan berlebihan. Keseimbangan antara teori, praktik, dan refleksi menjadi fondasi agar pembelajaran tetap bermakna.
Harapan yang Berkelanjutan
Ke depan, Dr. Sn. Indra berharap pementasan teater drama seperti Tetragrama dapat terus menjadi model pembelajaran berkelanjutan. Tidak hanya untuk mengasah teknik akting, tetapi juga untuk menumbuhkan sensitivitas sosial dan budaya mahasiswa.
“Pertunjukan teater drama dapat menjadi medium ekspresi, kritik, dan pemberdayaan masyarakat. Jika didokumentasikan secara digital, karya-karya ini bisa menjangkau publik yang lebih luas,” katanya.
Melalui Tetragrama, panggung kampus menjelma ruang belajar yang menyeluruh. Pertunjukan teater drama tidak lagi sekadar pementasan akhir, melainkan proses kolektif yang menghidupkan sastra, manusia, dan nilai kehidupan di balik teks.