
Malang, Berpola- Pagi itu, beberapa anak tampak fokus memperhatikan smart tv yang berada di ruang kelas PAUD Terpadu Anak Saleh, Kota Malang. Di layar tersebut, tersimpan buku-buku digital berisi gambar dan cerita sederhana. Ada kisah tentang liburan, tentang membantu memasak, tentang berkebun dan lain-lain.
Buku-buku itu tersimpan di Perpustakaan Al-Ghazali, sebuah perpustakaan digital yang dikembangkan sebagai bagian dari proses pembelajaran di sekolah tersebut. Perpustakaan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang literasi yang memberi ruang bagi karya anak-anak, sekaligus menumbuhkan karakter kesalehan personal melalui cinta terhadap buku sejak usia dini.
Baca juga: Eco Print Jadi Media Belajar Akhlak di KB-TK Islam Al Azhar 56 Malang

Perpustakaan yang Terhubung dengan Kelas
Perpustakaan Al-Ghazali dikembangkan melalui sistem Endel (Integrated Digital Library). Melalui sistem ini, koleksi perpustakaan terhubung dengan kegiatan belajar di kelas dan dapat diakses secara digital dari berbagai tempat.
“Perpustakaan ini kami rancang agar dekat dengan anak. Mereka bisa membaca karya sendiri dan karya teman-temannya,” ujar Kepala PAUD Terpadu Anak Saleh, Dra. Hj. Mike S. Arifin, S.Psi., M.Pd.
Koleksi perpustakaan terdiri atas buku-buku digital yang disesuaikan dengan tema pembelajaran. Guru memanfaatkan perpustakaan ini sebagai media belajar, sekaligus ruang untuk mengenalkan literasi sejak dini.
Diakui Lewat Ajang Guru Prima
Pendekatan literasi digital yang diterapkan oleh Perpustakaan Al-Ghazali mendapat pengakuan publik dan telah diresmikan secara langsung oleh Dinas Pendidikan Kota Malang pada tahun 2024. Melalui sistem Endel (Integrated Digital Library), perpustakaan ini meraih penghargaan sebagai pemenang Anugerah Guru Prima Kota Malang 2024 serta melaju sebagai finalis SLCC PGRI Provinsi Jawa Timur.
Penghargaan tersebut tidak datang dari perlombaan semata, melainkan dari kegiatan praktik baik pembelajaran yang dinilai konsisten dan relevan dengan kebutuhan anak. Bagi sekolah, apresiasi ini dipandang sebagai penguatan arah, bukan tujuan akhir.
“Penghargaan ini menjadi pengingat bahwa kami berada di jalur yang tepat, tetapi yang utama tetap anak-anak dan proses belajarnya,” kata Mike.
Proses Kurasi Media Pembelajaran

Di balik koleksi yang tersimpan, terdapat proses kurasi yang dilakukan guru. Terutama untuk media pembelajaran. Setelah disusun, media pembelajaran ini kemudian dipresentasikan kepada rekan sejawat. Melalui forum tersebut, guru saling memberi masukan dan koreksi.
Jika materi dinilai belum tepat, revisi dilakukan hingga sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak. Proses ini menjadi bagian dari upaya sekolah dalam menyaring media pembelajaran yang layak digunakan.
“Digital tidak boleh asal dipakai. Materi tetap harus melalui proses penyaringan agar aman dan sesuai untuk anak-anak,” ujar Mike.
Setelah melalui proses tersebut, media pembelajaran dan koleksi perpustakaan kemudian didigitalkan oleh pustakawan sekolah dan dimasukkan ke dalam sistem Endel.
Baca juga : Belajar dari Cinta, TK Lab UM Menemukan Cara Menumbuhkan Anak Hebat

(Foto: Vranola/Berpola)
Akses yang Lebih Luas
Salah satu keunggulan Perpustakaan Al-Ghazali adalah aksesnya yang luas. Koleksi digital dapat dibuka melalui barcode dan diakses dari jarak jauh. Dengan cara ini, perpustakaan tidak lagi terbatas pada ruang fisik sekolah.
Sekolah lain juga dapat memanfaatkan koleksi tersebut sebagai bahan literasi bagi anak-anak di rumah. Perpustakaan ini pelan-pelan menjadi ruang berbagi, bukan hanya untuk warga sekolah, tetapi juga bagi pihak lain yang membutuhkan.
Menjaga Arah Pendidikan
TK Anak Saleh yang beralamat di Jl. Candi Panggung Indah No. 1–3, Kota Malang, menempatkan pendidikan karakter sebagai fondasi utama. Pemanfaatan teknologi dipandang sebagai sarana pendukung pembelajaran, bukan tujuan akhir.
“Kita mengikuti perkembangan zaman, tetapi karakter anak tetap menjadi prioritas. Teknologi hanya alat, nilai tetap menjadi pegangan,” ujar Mike.
Melalui Perpustakaan Al-Ghazali, sekolah berupaya menghadirkan ruang literasi yang relevan dengan dunia anak masa kini, sebuah ruang yang tidak hanya menyimpan buku digital, tetapi juga membantu anak mengenal proses membaca, memahami cerita, membangun kedekatan dengan literasi, serta menanamkan karakter sejak usia dini.