Festival Literasi Anak Kota Malang, Ruang Belajar yang Penuh Warna

Peserta menyampaikan pesan kepedulian lingkungan melalui cerita yang dibawakan (Foto: Andini/Berpola)

Malang, Berpola – Sejak pagi, lantai Malang City Point dipenuhi warna-warni krayon, kostum unik, dan suara anak-anak yang sibuk bercerita. Rabu, 24 Desember 2025, ruang publik ini berubah menjadi panggung kecil bagi imajinasi anak-anak dalam Festival Literasi Anak Kota Malang 2025. Dengan tema “Literasi untuk Ibu Bumi”, festival ini menghadirkan pengalaman belajar yang tidak melulu lewat buku, tetapi lewat gambar, cerita, dan keberanian tampil di depan orang banyak.

Sekitar 150 anak dari jenjang TK hingga SD/MI hadir sebagai peserta. Mereka datang dengan beragam ekspresi ada yang tampak gugup, ada pula yang begitu percaya diri. Orang tua tampak setia mendampingi, sebagian mengabadikan momen, sebagian lain memberi semangat dari pinggir arena.

Baca juga : Belajar Bersama Keluarga, KB-TK Islam Al Azhar 56 Malang Perkuat Pendidikan Karakter Anak

Dari Krayon hingga Panggung Cerita

Anak-anak tampak serius mewarnai gambar bertema lingkungan pada Festival Literasi Anak Kota Malang 2025 (Foto: Andini/Berpola)

Festival ini menghadirkan empat cabang lomba: mewarnai dan poster, mendongeng, fashion show, serta Master of Ceremony (MC) cilik. Keempatnya dirancang sebagai pintu masuk literasi yang dekat dengan dunia anak, sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.

Pada lomba mewarnai dan poster, anak-anak mengekspresikan pandangan mereka tentang bumi. Gambar pepohonan, hewan, dan sungai mendominasi kertas gambar, lengkap dengan pesan sederhana tentang menjaga alam. Aktivitas ini bukan sekadar lomba, tetapi juga cara anak-anak belajar menerjemahkan gagasan menjadi visual.

Suasana berubah lebih riuh saat lomba mendongeng dimulai. Satu per satu peserta naik ke panggung, membawakan cerita tentang alam dan persahabatan dengan gaya polos khas anak-anak. Meski sederhana, cerita-cerita itu mampu memancing tawa dan tepuk tangan penonton, sekaligus melatih keberanian dan kemampuan berbahasa.

Baca juga : Merayakan Hari Ibu dengan Busana Daur Ulang, Belajar Cinta Lingkungan Sejak Usia Dini

Busana Daur Ulang dan MC Cilik

Peserta tampil percaya diri mengenakan kostum berbahan daur ulang (Foto: Andini/Berpola)

Kreativitas juga terlihat dalam sesi fashion show. Anak-anak tampil mengenakan busana unik, sebagian dibuat dari bahan daur ulang. Kostum-kostum tersebut menjadi bukti bahwa pesan literasi dan keberlanjutan bisa disampaikan melalui medium yang menyenangkan dan dekat dengan keseharian.

Sementara itu, lomba MC cilik memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar mengatur suara, intonasi, dan kepercayaan diri di atas panggung. Meski masih terbata, keberanian mereka menjadi bagian penting dari proses belajar berbicara di depan umum.

Baca juga : Belajar Tak Selalu di Kelas, Anak PAUD SKB Kabupaten Malang Menjelajah Dunia Air

Literasi yang Dirasakan, Bukan Sekadar Diajarkan

Antusiasme tidak hanya datang dari peserta, tetapi juga dari para orang tua. Ime, orang tua peserta lomba mewarnai, mengaku senang anaknya bisa belajar literasi lewat cara yang menyenangkan.

“Festival ini bagus sekali. Anak-anak jadi belajar tanpa merasa sedang belajar. Anak saya juga jadi lebih berani tampil dan mulai paham pentingnya peduli lingkungan,” ujarnya.

Bagi para orang tua, festival ini menjadi pengalaman belajar yang berbeda dari rutinitas sekolah. Anak-anak tidak hanya membaca atau menulis, tetapi juga bermain, berinteraksi, dan mengenal nilai kepedulian sejak dini.

Lewat Festival Literasi Anak Kota Malang 2025, literasi hadir sebagai pengalaman yang hidup. Dari krayon, cerita, hingga panggung kecil, pesan mencintai bumi ditanamkan perlahan membentuk fondasi karakter generasi masa depan yang kreatif dan peduli lingkungan.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *