
Written by Hasna Yusra Najar
Tahun 2085, Indonesia sudah meninggalkan sistem demokrasi. Semua urusan negara diatur oleh NeuroNet, sistem syaraf buatan yang menyatukan data pemerintahan, pendidikan, ekonomi, dan komunikasi dalam satu pusat kendali. Setiap warga dipasangi chip verba di tengkuk. Chip ini bekerja seperti saringan kata-kata yang dianggap “berpotensi mengguncang stabilitas” otomatis hilang, bahkan sebelum bibir mengucapkannya. Akibatnya, jalanan kota terasa sepi. Hening jadi bahasa nasional baru. Namun, tidak semua bisa menerima keheningan itu.
Aille, mahasiswa sastra di Universitas Brawijaya yang sedang mengambil cuti sering menyelinap ke Perpustakaan Nasional Lama, bangunannya setengah roboh akibat banjir besar. Di lantai paling bawah, ia menemukan sebuah buku tua bersampul lusuh dengan judul “kumpulan puisi Tengsoe Tjahjono”.
Aille membuka buku itu dan chip verba di lehernya berkedip merah berulang kali, berusaha menghapus baris-baris kalimat itu dari penglihatannya. Tapi Aille sengaja memutus koneksi sebentar. la membaca diam-diam. Kata-kata itu hidup, panas, penuh luka dan keberanian.Sejak saat itu, Aille yakin kata-kata bisa melawan hening.
Aille tahu, menyimpan teks itu saja sudah berbahaya. Tapi baginya, diam berarti sama saja dengan menyerah. Ia mulai menyalin puisi ke dalam hologram iklan dan menyebarkannya. Dari luar, hologram itu terlihat seperti promosi minuman atau pariwisata, tapi jika dipindai dengan kacamata khusus, muncul teks asli. Salah satu puisi yang paling cepat menyebar berjudul NAPI SEKSI
NAPI SEKSI
Vonis sudah turun,
Jeruji besi menunggu,
Tapi pintu sel tak pernah dibuka—
Karpet merah justru digelar ke ruang rapat BUMN.
Kata pemerintah, ini hak semua warga,
Bahkan yang sudah divonis,
Asalkan lengan jasnya pas,
Dan senyumnya fotogenik untuk laporan tahunan.
Kami rakyat tercengang,
Ternyata di negeri ini
Status napi bisa dibekukan,
Asal es-nya dicetak di meja kekuasaan.
2025
Puisi itu viral diam-diam. Buruh menyalinnya di dinding pabrik, nelayan menuliskannya di lambung perahu, siswa SMA menggambar baris-barisnya di buku catatan.
“Ini bukan sekadar puisi,” batin seorang pembaca. “Ini kebenaran yang kita semua tahu, tapi dilarang diucapkan.”
Selain puisi, Aille mulai menulis cerita fiksi tentang sebuah negeri imajiner tempat semua orang bebas bercerita. Cerita itu menyebar seperti api kecil di padang kering.
Buruh pabrik di Cikarang menulis puisi dalam bentuk kode QR di kamar mandi, pelajar Bandung membuat graffiti digital berupa pantun satir, dan petani Banyuwangi menandai karung beras dengan potongan cerpen tentang sawah tergenang banjir yang kontras dengan laporan resmi pemerintah yang menyebut “panen berhasil 120%”.
Suara-suara itu bersatu tanpa komando. Mereka menyebut diri mereka “Fraksi Suara”, terinspirasi dari cerita Aille.
Suatu malam, Aille dikepung di rumahnya. Polisi siber memutus listrik dan jaringan. la ditangkap, buku tua itu disita.
Di ruang interogasi, seorang petugas berkata dingin, “Kenapa kau menulis? Bukankah tenang lebih baik daripada gaduh?”
Aille menjawab dengan suara pelan tapi tegas,
“Karena diam bukan damai. Diam adalah mati.”
Kabar penangkapan Aille justru membuat api semakin besar. Tulisan terakhirnya yang berjudul “Hening di Bawah Menara Data” berhasil bocor ke publik. Cerita itu menggambarkan rakyat yang akhirnya merobohkan menara kendali dan memutus chip dari tengkuk mereka.
Cerpen itu menjadi pesan sekaligus peta untuk para rakyat. Para massa mulai bergerak, mereka menyerang pusat menara data, bukan dengan senjata, tapi dengan banjir karya sastra. Jutaan file sastra dikirim bersamaan: puisi, pantun, novel, lagu rakyat, semua tumpah ke sistem NeuroNet. Server kewalahan, algoritma tak sanggup lagi memblokir.
Pada akhirnya, sistem runtuh oleh sesuatu yang paling sederhana: kata-kata.
Beberapa bulan kemudian, Indonesia kembali penuh suara. Di pasar, orang saling berpantun. Di sekolah, anak-anak menulis cerita rakyat versi baru. Di media sosial, rakyat bebas mencatat realitas yang mereka lihat, bukan yang dipoles pemerintah.
Aille tidak pernah muncul lagi sejak penangkapannya. Ada yang bilang ia masih hidup, ada yang percaya ia gugur di dalam penjara.
Tapi di setiap dinding kota, selalu muncul tulisan yang sama, entah siapa yang menuliskannya
“Selama kita bisa bercerita, kita tidak pernah benar-benar bisu.”
Karya Pemenang Juara 3 FSBB 2025
Sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat literasi dan kreativitas generasi muda, redaksi memuat ulang karya pemenang Lomba Cipta Cerpen FSBB 2025. Karya ini telah melalui proses kurasi panitia dan dimuat kembali dengan izin penulis untuk tujuan nonkomersial dan edukatif.