
Malang, Berpola — Di tengah gempuran gawai dan tontonan singkat yang makin akrab dengan anak-anak, TK Negeri Pembina 1 Kota Malang memilih langkah sederhana namun bermakna: menanamkan kecintaan membaca sejak dini melalui GERNASBAKU (Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku).
Program ini bukan sekadar kegiatan tahunan di bulan bahasa, melainkan bagian dari komitmen sekolah untuk menghadirkan proses belajar yang menyeluruh, tidak hanya mengasah motorik dan sensorik, tetapi juga menumbuhkan kemampuan berbahasa, imajinasi, dan kepekaan rasa anak.
“Anak usia dini perlu dikenalkan pada kegiatan membaca agar mereka terbiasa dengan kata, gambar, dan makna di balik cerita. Literasi itu bukan pelajaran yang berat, melainkan pintu menuju dunia yang menyenangkan,” ujar Eny Purwandari, penanggung jawab kegiatan literasi di TK Negeri Pembina 1 Kota Malang, Selasa (28/10/2025)
Baca juga : Belajar Tanpa Bosan, TA Zam Zam Menemukan Cara untuk Belajar Bahagia
Dalam kegiatan Gernasbaku, anak-anak duduk berdampingan dengan orang tua mereka. Ada yang membaca dengan suara pelan, ada pula yang berekspresi seolah sedang mendongeng. Dari sana tumbuh kehangatan yang sederhana, tapi berharga, koneksi antara anak dan orang tua yang seringkali hilang di tengah kesibukan.
Di setiap kelas, sekolah juga menyiapkan pojok baca, rak kecil berisi berbagai buku cerita bergambar. Anak-anak bebas memilih bacaan sesuai minat mereka.

“Buku cerita selalu identik dengan dunia anak. Lewat membaca, rasa ingin tahu mereka tumbuh, kosakata bertambah, dan mereka belajar memahami emosi,” tambah Eny.
Guru-guru di TK Negeri Pembina 1 pun memaknai Gernasbaku sebagai bagian dari pembelajaran holistik. Mereka tidak hanya mengajarkan anak menulis, menggambar, atau berlari, tetapi juga mengajarkan cara mendengarkan, membayangkan, dan memahami isi cerita.
“Satu buku bisa menumbuhkan banyak hal keberanian, empati, hingga kebiasaan berpikir,” ujar salah satu guru.
Melalui langkah kecil seperti Gernasbaku, sekolah berharap literasi menjadi bagian dari kehidupan anak sejak dini. Sebab di balik satu cerita yang dibacakan dengan penuh cinta, ada benih generasi besar yang gemar belajar, berpikir kritis, dan mencipta dengan hati.