Semarang-Berpola, Langkah kaki para relawan di komunitas rumahan ini selalu berlandaskan pada satu keyakinan, yakni pendidikan adalah jalan terbaik untuk menyebarkan kebaikan. Motivasi itulah yang mendorong mereka tetap konsisten bergerak meski bermodalkan fasilitas yang sederhana di markas mereka.
Pendidikan sebagai jalan utama berbagi manfaat
Komunitas Milenial Mengajar justru berjalan dengan cara yang sederhana bahkan cenderung sunyi. Tanpa visi besar yang dikemas megah atau target yang terukur secara formal, mereka memilih bergerak dengan satu keyakinan: pendidikan adalah kunci perubahan.
“Menurut saya pendidikan adalah kunci. Semua aspek kehidupan kalau pendidikan sukses, semua ikut sukses. Tidak ada negara maju yang warganya tidak berpendidikan,” ujar Fachri Nur Farizky, salah satu penggerak komunitas.
Baca juga : TBM Teras Hidupkan Budaya Membaca Lewat Mendongeng, Mewarnai, dan Membaca Nyaring
Komunitas ini tidak berdiri sebagai yayasan formal dengan sistem yang mapan. Namun, aktivitas mereka tak kalah berarti. Mereka mengajar anak-anak dari berbagai latar belakang, berpindah dari satu titik ke titik lain di wilayah Semarang mulai dari Gunungpati, Semarang Utara, Pedurungan, hingga Semarang Barat.
Milenial Mengajar berfokus pada kontribusi tenaga, waktu, dan pikiran. Bagi mereka, memberi ilmu adalah bentuk kebermanfaatan yang tidak lekang oleh waktu.
“Saya pegang prinsip, ‘orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat’ dan ‘ilmu yang bermanfaat itu pahalanya tidak pernah terputus walaupun sudah meninggal’,” tuturnya.
Dampak nyata yang dirasakan langsung oleh anak-anak
Kegiatan belajar mengajar dalam komunitas ini berlangsung fleksibel. Tidak ada kurikulum baku yang mengikat. Setiap relawan memiliki pendekatan masing-masing dalam mengajar. Anak-anak pun diberi kebebasan untuk menentukan apa yang ingin mereka pelajari.
Meski tidak memiliki sistem evaluasi formal, perubahan nyata tetap terasa. Dari yang awalnya tidak bisa membaca, menulis, atau berhitung, hingga akhirnya mampu. Bahkan ada anak yang semula tidak menyukai matematika, kini justru menguasainya.

“Perubahan paling nyata mungkin ada yang belum bisa baca tulis hitung jadi bisa, ada yang awalnya tidak suka matematika jadi menguasai,” ungkap Fachri.
Baca juga: Menyala di Tengah Gelap, Perjuangan Guru di TBM Lentera Talangsuko
Menariknya, Fachri mengaku tidak memiliki ambisi besar untuk menjadikan komunitas ini sebagai sesuatu yang monumental. Bahkan, ia merasa tetap akan berjalan meski harus sendiri.
Baginya, apa yang dilakukan saat ini bukan tentang pencapaian besar atau warisan yang dikenang banyak orang. Melainkan tentang langkah kecil yang konsisten, tentang hadir di tengah mereka yang membutuhkan.
Pada akhirnya, Milenial Mengajar mengajarkan satu hal penting: perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, cukup dari satu niat sederhana untuk memberi, untuk berbagi, dan untuk tetap berjalan, meski tanpa sorotan.