
Malang, Berpola — Sering kali, matematika dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang dihindari banyak siswa. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Nicholas Leon, atau akrab disapa Leon, siswa kelas XI SMAK Dempo Kota Malang. Di matanya, matematika justru memiliki daya pikat tersendiri.
Kejuaraan terbaru yang ia menangkan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi bukti dari kerja keras yang telah ia tempuh. Kemenangan dalam ajang olimpiade matematika tersebut tidak datang secara instan. Diperlukan fondasi persiapan yang kuat, strategi belajar yang matang, dan disiplin yang konsisten.
“Saya tidak hanya belajar di klub olimpiade matematika sekolah, tetapi juga belajar kembali di rumah sekitar tiga jam setiap hari,” ungkapnya.
Dalam prosesnya, Leon tak menampik adanya kendala. “Terkadang diperlukan kebijaksanaan untuk bisa memilah waktu antara belajar dan waktu untuk diri sendiri,” ujarnya.
Lebih dari Sekadar Angka
Bagi Leon, matematika bukanlah momok yang menakutkan. Di balik simbol dan rumus, ia menemukan makna dan ketenangan. Matematika, baginya, bukan hanya mata pelajaran, melainkan cara berpikir dan memahami dunia.
Dukungan orang-orang terdekat juga menjadi bagian penting dari perjalanannya. Ia mengaku tidak akan sampai sejauh ini tanpa doa dan semangat dari orang tua, nenek, serta guru pembimbing olimpiade matematika.
“Do the best and let God do the rest,” katanya sambil tersenyum. Kalimat itu menjadi pengingat bagi Leon untuk selalu mantap melangkah setiap kali menghadapi perlombaan baru.
Belajar dari Kegagalan, Belajar Mencintai Proses
Kegagalan bukan akhir bagi Leon. Justru dari sana, ia belajar mengevaluasi diri dan bangkit kembali.
“Setiap kekalahan dan kemenangan punya porsinya masing-masing,” tuturnya.
Ia percaya, proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan selalu meninggalkan hasil, entah dalam bentuk pencapaian, pengalaman, maupun keteguhan diri.
Leon berharap, di setiap tantangan maupun perlombaan yang ia hadapi ke depan, ia dapat memberikan yang terbaik. Namun lebih dari itu, ia ingin belajar mencintai proses, baik yang manis maupun yang pahit.
Ia juga berharap semangat itu menular kepada teman-temannya di SMAK Dempo.
“Semoga kami bisa terus bersama mengharumkan nama sekolah,” tutupnya dengan yakin.