Litani Negeri Tanpa Nama

Written by Yesha Ashilla Husaeni

Aku bangun setiap pagi dengan mimpi yang sama; burung gagak menjahit bibir rakyat di alun-alun dengan benang emas. Bangsa yang pernah hidup di sini telah melupakan namanya sendiri dan setiap hari mereka merayakan “Festival Kelupaan” dengan parade boneka-boneka bertopeng wajah para penguasa. Namaku Jieva, satu-satunya manusia yang masih ingat bahwa negeri ini pernah punya nama sebelum ia memakan dirinya sendiri. 

Mereka bilang aku gila karena masih menulis puisi di dinding toilet umum dengan darah menstruasiku yang membeku. “Patriotisme yang mereka ajarkan padaku,” bisikku pada bayangan sendiri yang terpantul di genangan air hujan, “hanyalah lagu sumbang yang diputar berulang sampai maknanya kabur seperti asap rokok murah.” Dan bayanganku menjawab dengan senyum pahit yang tak pernah kukenali sebagai milikku. 

Di negeri tanpa nama ini, buku adalah barang terlarang. Perpustakaan telah diubah menjadi pabrik bendera. Setiap halaman yang pernah menyimpan mimpi kini menjadi abu yang ditaburkan di jalan untuk membuat jalanan lebih rata. Ironisnya, orang-orang masih membaca—dalam tidur, dalam delirium demam, dalam khayalan siang bolong yang terlalu terang untuk disebut kenyataan. 

Aku bekerja sebagai pelipat bendera di Pabrik Kebanggaan Nasional No. 47. Supervisor kami, Pak Mesin—kami memanggilnya begitu karena ia lebih mirip robot daripada manusia—selalu mengingatkan, “Negara adalah ibu, bendera adalah selimutnya. Kalian adalah tangan yang merawat kehangatan itu.” 

Kadang aku bertemu perempuan lain di sudut-sudut gelap pabrik. Ada Sari yang kehilangan suara setelah menyanyi lagu protes; ada Dewi yang tangannya lumpuh setelah menulis surat cinta untuk revolusi; ada Maya yang matanya buta setelah melihat terlalu banyak kebenaran. 

“Kita tidak dibungkam,” kata Maya suatu malam ketika kami berkumpul di ruang ketel yang sudah tidak terpakai. “Kita diajari mencintai sunyi yang diciptakan penguasa.”

“Lalu bagaimana kita bersuara ketika udara sendiri sudah diracun dengan kebohongan?” 

Maya tersenyum—senyum yang mengerikan karena indah sekaligus hancur. “Dengan cara yang mereka tidak bisa kontrol, Jieva. Dengan mimpi. Dengan gila. Dengan menolak menjadi normal dalam dunia yang sudah terlanjur sakit.” 

Malam itu aku bermimpi tentang negara yang sebenarnya—bukan yang ada di poster-poster propaganda, tapi yang hidup dalam imajinasi kolektif kami yang terbelenggu. Negara itu berbentuk perempuan raksasa dengan payudara kering dan rahim yang dipenuhi kawat berduri. Ia menangis darah hitam yang menjadi sungai dan di sungai itu mengalir bangkai-bangkai kata yang pernah berarti sesuatu: keadilan, kebebasan, juga kemanusiaan. 

Ketika aku bangun, aku mulai menulis puisi di tempat-tempat yang tidak pernah mereka pikirkan untuk diperiksa. Di bagian dalam kelopak mata ketika orang tidur, di celah-celah gigi ketika mereka menguap, di ruang kosong antara tulang rusuk ketika mereka bernapas. Puisi yang tidak bisa dilihat, hanya bisa dirasakan sebagai gelisah yang tidak beralasan. 

Pak Mesin mulai mencurigaiku. Ia sering memergokiku melamun dan lamunanku itu entah bagaimana membuat bendera-bendera menjadi kusut dengan sendirinya. “Jieva,” katanya suatu sore dengan suara yang terdengar seperti logam yang bergesekan, “kau tahu apa bedanya antara patriot dan pengkhianat?” 

“Tidak, Pak.” 

“Patriot melipat bendera dengan hati. Pengkhianat melipat bendera dengan otak.” 

Aku hendak tertawa dalam ironi. “Lalu bagaimana dengan yang melipat bendera dengan jiwa yang sudah terpotong-potong, Pak?” 

Matanya berkedip—satu-satunya gerakan yang menunjukkan ia masih punya sisa kemanusiaan. “Yang seperti itu biasanya menghilang.” Malam itu aku bermimpi bertemu bayanganku sendiri, tapi kali ini ia berpakaian seperti Pak Mesin—seragam abu-abu dengan lencana emas di dada, mata kosong seperti layar televisi yang rusak. “Jieva,” kata bayangan itu, “mengapa kau tidak bisa bahagia dengan kebahagiaan yang sudah disediakan?

Mengapa kau harus mencari makna di tempat yang sudah dinyatakan tidak bermakna?” 

“Karena,” jawabku, “kebahagiaan mereka adalah opium yang dicampur dengan racun tikus. Dan aku lebih suka mati keracunan kebenaran daripada hidup terbius kebohongan.” 

Bayangan itu tertawa mengerikan. “Kau pikir kau pahlawan, Jieva? Kau pikir penderitaanmu bermakna? Kau hanya perempuan gila yang mengira dirinya penyair.” 

“Mungkin,” kataku, “tapi kegilaan kadang satu-satunya kewarasan yang tersisa ketika dunia sudah terlanjur terbalik.” 

Pagi itu aku memutuskan untuk menulis puisi terakhir—puisi yang tidak bisa dibaca dengan mata, hanya dengan rasa sakit yang sudah terlalu familiar dengan jiwa. Aku menulis di udara dengan jari-jari yang gemetar, mengeja setiap kata dengan napas yang tertahan, menyusun bait dengan detak jantung yang tidak teratur. Puisi itu berbicara tentang negeri yang memakan anak-anaknya sendiri, tentang bendera yang terbuat dari kulit korban, tentang lagu kebangsaan yang sesungguhnya adalah ratapan para ibu yang kehilangan anak karena berani bermimpi. 

Saat aku selesai “menulis” puisi itu, sesuatu yang aneh terjadi. Pabrik mulai bergetar. Mesin-mesin mulai mengeluarkan suara yang mirip tangisan. Bendera-bendera yang sedang dilipat para pekerja mulai robek sendiri. Pak Mesin berlari masuk dengan wajah panik—ekspresi pertama yang pernah kulihat di wajahnya. “Ada apa ini?” 

Tapi aku tahu jawabannya. Puisi yang kutuliskan di udara telah menjalar seperti virus kebenaran. Ia menginfeksi setiap molekul oksigen, meracuni setiap hembusan napas dengan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini dikubur. Para pekerja menatap tangan mereka sendiri seolah baru menyadari untuk apa tangan itu selama ini digunakan. Sari, yang sudah lama kehilangan suara, tiba-tiba membuka mulut dan mengeluarkan suara—bukan kata-kata, tapi melodi yang tidak pernah ada dalam lagu manapun. Dewi menggerakkan tangannya yang lumpuh dan mulai menari dengan gerakan yang seperti menulis kata-kata di udara.

Maya, yang buta, membuka mata dan menatap langsung ke arahku dengan tatapan yang penuh api. 

“Kau lihat?” bisiknya. “Kau lihat apa yang terjadi ketika kita berhenti takut pada suara kita sendiri?” 

Alarm berbunyi. Pintu pabrik dikunci dari luar. Kami terjebak, tapi untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa bebas. Di luar, kami bisa mendengar suara sepatu bot dan teriakan perintah. 

“Jieva,” kata Maya sambil menggenggam tanganku, “apa yang akan terjadi pada kita?” 

Aku menatap wajah-wajah perempuan di sekelilingku—wajah-wajah yang untuk pertama kalinya terlihat hidup, terlihat berani, terlihat marah dengan amarah yang benar. “Aku tidak tahu,” jawabku jujur. “Tapi setidaknya sekarang kita mati sebagai diri kita sendiri, bukan sebagai boneka mereka.” 

Pintu pabrik dibuka dengan paksa. Cahaya matahari menyilaukan masuk dan dalam cahaya itu aku melihat bayangan-bayangan berseragam dengan senjata di tangan. Tapi yang aneh, ketika mereka masuk, langkah mereka ragu-ragu. Seolah-olah mereka juga terinfeksi oleh puisi yang mengambang di udara. Salah satu dari mereka melepas topengnya—dan aku terkejut melihat wajah seorang perempuan muda, tidak jauh berbeda dari kami. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa. 

“Kami,” katanya akhirnya dengan suara yang hampir tidak terdengar, “kami diperintahkan untuk ….” 

Tapi kalimatnya tidak pernah selesai. Karena pada saat itu, semua bendera di pabrik—jutaan helai bendera yang sudah dilipat rapi—tiba-tiba terbakar dengan api yang dingin. Api yang tidak membakar kulit, tapi membakar kebohongan. Api yang tidak memberikan kehangatan fisik, tapi memberikan kehangatan jiwa yang sudah terlalu lama kedinginan. Dalam cahaya api yang aneh itu, pabrik mulai runtuh—bukan ke bawah, tapi ke dalam dirinya sendiri, seperti mimpi yang sadar bahwa ia hanya mimpi. Para petugas berlarian keluar, meninggalkan kami dalam reruntuhan yang paradoksnya terasa seperti istana. 

Ketika debu berhamburan dan cahaya api padam, yang tersisa hanyalah tanah kosong dan sebatang pohon tua yang entah dari mana asalnya. Didahan-dahan pohon itu bergantung kertas-kertas yang berisi puisi—puisi yang ditulis dalam bahasa yang tidak ada dalam kamus manapun, tapi bisa dipahami oleh jiwa yang sudah terlalu lelah berbohong pada diri sendiri. Kami—aku, Maya, Dewi, Sari, dan puluhan perempuan lain—berdiri di bawah pohon itu dalam sunyi yang bukan lagi sunyi ketakutan, tapi sunyi kontemplasi. Sunyi yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang belum bernama. 

“Jadi sekarang apa?” tanya Sari dengan suara yang sudah kembali, meskipun masih serak. 

Aku menatap horizon. “Sekarang kita belajar hidup tanpa nama,” jawabku. “Kita belajar menjadi manusia tanpa harus membuktikan kemanusiaan kita pada sistem yang sudah kehilangan kemanusiaannya sendiri.” 

Maya tersenyum—kali ini senyum yang hangat, bukan yang mengerikan. “Dan jika ada yang bertanya dari mana kita berasal?” 

“Kita akan bilang,” kataku sambil mulai berjalan menjauh dari reruntuhan pabrik, “bahwa kami berasal dari negeri yang mungkin masih ada. Negeri yang belum diciptakan, tapi sudah hidup dalam setiap pertanyaan yang berani diajukan, dalam setiap puisi yang berani ditulis, dalam setiap suara yang menolak dibungkam.” 

Kami berjalan bersama tanpa tujuan yang pasti, diikuti oleh bayangan-bayangan yang bukan lagi bayangan ketakutan, tapi bayangan harapan. Di belakang kami, pohon dengan puisi-puisi di dahannya terus tumbuh, akarnya menyebar ke mana-mana, menjanjikan bahwa suatu hari tanah ini akan subur kembali. 

Jika ada yang bertanya di mana tanah air kami, kami akan menjawab: tanah air kami ada di setiap tempat di mana keadilan diizinkan tumbuh, di setiap ruang di mana suara dibenarkan untuk hidup, di setiap saat ketika kebenaran tidak perlu menyamar sebagai kebohongan untuk bisa bertahan. Dan jika itu belum ada, maka kami akan terus berjalan sampai menemukannya—atau sampai langkah-langkah kami sendiri menciptakannya.

Karya Pemenang Juara 1 FSBB 2025
Sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat literasi dan kreativitas generasi muda, redaksi memuat ulang karya pemenang Lomba Cipta Cerpen FSBB 2025. Karya ini telah melalui proses kurasi panitia dan dimuat kembali dengan izin penulis untuk tujuan nonkomersial dan edukatif.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *