
Semarang, Berpola— Kesempatan belajar langsung di Prancis menjadi pengalaman berharga bagi Alsyeffi Maghribi, mahasiswa Sastra Prancis Universitas Negeri Semarang (UNNES). Saat ini, ia tengah mengikuti program Winter Course 2025 Bahasa Prancis di Kota Nancy.
Program tersebut diselenggarakan oleh Cours d’été Nancy sebagai hadiah dari lomba yang diadakan Institut Français Indonésie (IFI). Selama dua pekan, Alsyeffi mengikuti pembelajaran bahasa Prancis secara intensif sekaligus berbagai kegiatan kebudayaan yang memperkaya pengalaman belajar di luar kelas.
Baca juga : “WARA: Radas x Warsa”, Pameran Seni yang Mengajak Pengunjung Pulang ke Dalam Diri
Hadiah Lomba Institut Français Indonésie
Selain pembelajaran bahasa, program winter course ini juga menawarkan pengalaman budaya yang beragam. Peserta diajak mengunjungi museum, sentra pembuatan cokelat dan keju, pasar Natal, festival budaya, hingga melakukan perjalanan ke sejumlah kota di Prancis.
Program ini merupakan bagian dari rangkaian lomba IFI, seperti Olimpiade Bahasa Prancis tingkat SMA dan universitas, lomba video kreatif promosi pembelajaran bahasa Prancis, Dix Mots, serta kompetisi video kreatif bagi pengajar dan dosen. Para pemenang memperoleh fasilitas lengkap, mulai dari tiket pulang-pergi ke Prancis, akomodasi, asuransi, visa, biaya kursus, hingga uang saku.
Ketertarikan Alsyeffi mengikuti program ini bukanlah hal baru. Ini merupakan kali kedua ia mengikuti program bahasa Prancis yang difasilitasi IFI. Pada tahun sebelumnya, ia sempat belajar di Prancis selama tiga bulan dan merasakan peningkatan signifikan dalam kemampuan berbahasa.
Baca juga : Anak Ngapak Menembus Dua Identitas Prestisius
Metode Pembelajaran Intensif dan Interaktif
Menurut Alsyeffi, metode pembelajaran winter course berbeda dengan pembelajaran di kampus. Jumlah peserta yang terbatas membuat proses belajar berlangsung lebih intensif dan interaktif.

“Beberapa metode pembelajaran yang menarik yang saya ingat antara lain permainan tebak kosakata menggunakan kartu, latihan listening lewat lagu, menyusun komik, serta membuat rencana proyek untuk mempercantik kota,” ujar Alsyeffi Maghribi, yang akrab disapa Sefi.
Kehadiran pengajar penutur asli mendorong peserta untuk aktif berbicara dan berpikir langsung dalam bahasa Prancis. Selain itu, pengalaman lintas budaya turut memberikan kesan mendalam. Ia berkesempatan berinteraksi dengan pembelajar dari berbagai negara, seperti Tiongkok, Ukraina, Brasil, dan Chili. Perbedaan logat bahasa Prancis menjadi tantangan tersendiri, namun sekaligus memperkaya pemahamannya terhadap keragaman bahasa.
Baca juga: Kilau Prestasi Intan Nirmalasari di Panggung Internasional
Pengalaman Budaya dan Rencana Studi Lanjutan
Berbagai kegiatan nonakademik yang ditawarkan kampus, mulai dari lokakarya menjahit, memperbaiki ban sepeda, hingga seminar kesehatan, memberikan sudut pandang baru tentang konsep pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga keterampilan hidup.

Pengalaman tinggal di Prancis turut mengubah cara pandangnya terhadap budaya setempat, termasuk soal sekularisme. Jika sebelumnya ia memandang sekularisme sebagai pembatas kebebasan beragama, kini ia melihatnya sebagai ruang bagi individu untuk menjalani hubungan spiritual secara personal.
Mengikuti winter course ini semakin memantapkan rencananya untuk melanjutkan studi magister di Prancis. Ia berharap semakin banyak mahasiswa Indonesia berani mencoba peluang serupa, baik melalui sertifikasi bahasa seperti DELF maupun berbagai kompetisi yang diselenggarakan Institut Français Indonésie.