
Malang, Berpola – Pagi itu dinding Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) tampak lebih hidup dari biasanya. Aroma cat semprot bercampur tawa para mahasiswa yang sedang menuntun garis warna di permukaan tembok. Di antara mereka, sosok Mayang Anggrian, S.Pd., M.Pd., tampak lincah berpindah dari satu karya ke karya lain. Tangannya kadang kotor oleh cat, tapi matanya penuh semangat.
Sabtu, 8 November 2025, menjadi hari istimewa bagi dunia seni rupa UB. Kolaborasi mural bertajuk “Jamming Mural” berhasil menyatukan mahasiswa Prodi Seni Rupa Murni lintas angkatan dengan tiga komunitas street art ternama: Memakanmu, Malang Graffiti Movement, dan Serenata 23. Di bawah koordinasi langsung Mayang Anggrian sebagai Ketua Pelaksana sekaligus Pembina Kolaborasi, kegiatan ini menjadi titik temu antara ruang akademik dan ruang publik.
“Kolaborasi ini merupakan bentuk nyata dari peran street art sebagai medium pendidikan yang efektif. Saya ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga merasakan langsung denyut nadi seni urban dan makna di balik setiap karya,” ujar Mayang saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Baca juga : Sari, Pipo, dan Jejak Masa Kecil: Cara Ucol Menemukan Dirinya Lewat Gambar
Sebagai dosen sekaligus praktisi street art, Mayang membawa energi baru di lingkungan kampus. Ia memandang bahwa seni jalanan bukan sekadar ekspresi bebas, melainkan media refleksi sosial yang dapat memperkuat empati dan daya kritis mahasiswa.
Dukungan pun datang dari pimpinan fakultas. Dr. Dra. Lilik Wahyuni, M.Pd., Ketua Departemen Seni dan Antropologi FIB UB, menyebut inisiatif Mayang sebagai terobosan penting. “Bu Mayang telah membuktikan bahwa dedikasi dan keahliannya mampu menjembatani dunia akademis dengan komunitas seni. Ini langkah besar menuju kampus yang hidup dan kreatif,” ujarnya.
Di lokasi kegiatan, kolaborasi antara mahasiswa dan seniman komunitas menghasilkan mural-mural yang memadukan gaya realis, tipografi liar, dan simbol-simbol sosial. Mayang aktif membimbing proses kreatif, mengarahkan warna, dan memastikan setiap karya memiliki kedalaman makna. Bagi banyak mahasiswa, pengalaman ini menjadi ruang belajar yang lebih hidup daripada ruang kelas.
Baca juga : Topeng Panji Setyakasih, Ketika Tradisi Bicara Tentang Cinta dan Ketulusan
Bagi Mayang, seni adalah jembatan yang menghubungkan banyak dunia. “Street art itu bahasa universal. Ia bisa menyampaikan pesan sosial dengan cara yang menarik dan mudah diakses. Ke depan, saya ingin terus membuka ruang dialog antara kampus dan komunitas seni,” tutupnya dengan senyum optimis.
Lewat dedikasinya, Mayang Anggrian kini dikenal bukan hanya sebagai dosen FIB UB, tetapi juga sebagai penggerak seni yang merangkul dua dunia: akademik yang sistematis dan jalanan yang spontan. Dari dinding-dinding mural itulah, wajah baru seni kontemporer Malang sedang dilukis — penuh warna, inklusif, dan hidup.