
Malang, Berpola- Di tengah menjamurnya ajang duta pelajar yang kerap dipersepsikan hanya sebagai panggung pencarian prestise, Putra Putri Siswa Jawa Timur (PPSJT) 2026 justru menghadirkan wajah berbeda. Kompetisi ini tidak berhenti pada pemilihan figur pelajar berprestasi, melainkan menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, hingga lahirnya berbagai program sosial yang digagas langsung oleh para peserta.
Rangkaian seleksi yang berlangsung berlapis mulai administrasi, tes wawancara, pra-karantina, karantina, hingga grand final mendorong peserta tidak hanya tampil percaya diri di atas panggung, tetapi juga menunjukkan gagasan nyata yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi para pemenang, kemenangan bukanlah garis akhir. Selempang yang mereka kenakan justru dipandang sebagai awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Begja Sudira Wicaksana, siswa SRMP 16 Malang sekaligus pemenang kategori SMP Putra, mengaku awalnya hanya mengikuti ajang tersebut karena ajakan guru. Namun perjalanan panjang selama proses seleksi mengubah cara pandangnya terhadap kompetisi.
Baca juga : Dari Smanda, Duta Muda Tumbuh Membawa Perubahan
“Awalnya saya hanya ingin menambah pengalaman dan membanggakan orang tua. Tetapi selama mengikuti PPSJT saya belajar bagaimana berbicara di depan umum, menghargai keberagaman, dan membangun solidaritas dengan teman-teman dari berbagai daerah,” ujarnya.
Menurut Begja, materi public speaking menjadi pengalaman yang paling membekas. Kemampuan berbicara di depan publik yang sebelumnya menjadi tantangan kini berubah menjadi modal penting untuk tampil lebih percaya diri.
Tak hanya itu, ia menilai atmosfer kompetisi justru menghadirkan rasa kekeluargaan antarpeserta.
“Bukan soal siapa yang menang, tetapi bagaimana kami belajar saling mendukung tanpa membedakan siapa pun,” katanya.
Semangat serupa juga dirasakan Intan Putri Lestari, siswi SMA Negeri 1 Sooko, Kabupaten Mojokerto, yang berhasil meraih gelar Winner Putra Putri Siswa Jawa Timur 2026.
Bagi Intan, mengikuti PPSJT merupakan bagian dari upaya keluar dari zona nyaman. Ia mengaku hampir setiap hari harus membagi waktu antara sekolah, menyusun materi advokasi, membuat video profil, mempersiapkan presentasi, hingga menjalankan program mengajar bahasa Inggris secara gratis.
“Hampir tidak ada hari tanpa kesibukan. Saya sering tidur larut malam untuk menyelesaikan berbagai persiapan. Tetapi dari situ saya belajar bahwa kesempatan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dengan sepenuh hati,” ungkapnya.
Dalam masa karantina, peserta ditantang mempresentasikan studi kasus hanya dalam waktu lima menit. Intan memilih menggunakan bahasa Inggris secara penuh, sebuah keputusan yang menurutnya lahir dari keberanian melawan keraguan diri sendiri.
“Kadang tantangan terbesar bukan berasal dari orang lain, tetapi dari rasa takut dalam diri kita sendiri,” ujarnya.

Kompetisi yang Melahirkan Program Nyata
Berbeda dengan kompetisi pelajar yang berakhir setelah malam puncak, para pemenang PPSJT justru dituntut menghadirkan kontribusi nyata melalui program advokasi.
Intan, misalnya, telah menjalankan program GLOWING (Growing Local Wisdom Through English) yang membuka kelas bahasa Inggris gratis dua hingga tiga kali setiap pekan di rumahnya.
Program tersebut tidak hanya mengajarkan tata bahasa dan kosakata, tetapi juga berupaya mengubah cara pandang pelajar terhadap bahasa Inggris.
“Banyak peserta yang awalnya merasa bahasa Inggris sulit. Setelah beberapa kali pertemuan, mereka mulai menikmati proses belajar bahkan mampu menghafal lebih dari 150 kosakata. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya,” katanya.
Sementara itu, Nafa Rosalia Ngutami, pemenang kategori SMP Putri asal SMP Negeri 5 Kepanjen, membawa gagasan Cerdas Berkarakter yang berfokus pada edukasi ke sekolah-sekolah mengenai pentingnya pendidikan dan perencanaan masa depan.
Menurutnya, program tersebut diharapkan mampu menekan angka anak tidak sekolah (ATS) sekaligus mengurangi kenakalan remaja.
“Saya tidak ingin berhenti setelah menjadi pemenang. Tujuan saya adalah terus berkembang dan mengajak pelajar lain ikut berkembang,” ujarnya.
Baca juga : Harumkan Jawa Timur, Pemuda Jombang Raih Gelar Pemenang Duta Nusantara 2025
Hal serupa disampaikan Niki Auliya, pemenang kategori SMA Putra dari SMAI Al-Maarif Singosari.
Ia berencana mengembangkan program Generasi Harmoni Nusantara yang menitikberatkan pada dialog lintas pelajar, kampanye konten positif, dan aksi sosial bersama.
Menurutnya, pengalaman mengikuti PPSJT memperlihatkan bahwa kemampuan komunikasi dan kepemimpinan dapat dibangun melalui proses yang panjang dan disiplin.
“Kami dilatih menghargai waktu, bekerja sama, berpikir kritis, hingga menyampaikan gagasan secara singkat dan efektif. Nilai-nilai itu sangat berguna untuk masa depan,” katanya.
Membangun Generasi Berdampak
Seluruh pemenang memiliki benang merah yang sama. Mereka tidak lagi memandang kompetisi sebagai ruang mengejar popularitas atau sekadar menambah portofolio.
Bagi mereka, ajang ini menjadi laboratorium kepemimpinan yang mempertemukan pelajar dari berbagai daerah untuk saling belajar, membangun jejaring, sekaligus menyusun solusi atas persoalan pendidikan, sosial, dan budaya di Jawa Timur.
Materi public speaking, personal branding, kepemimpinan, hingga diskusi isu sosial menjadi bekal yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai aksi nyata di lingkungan masing-masing.
Baca juga : Saat Remaja Lain Belajar, Yaya Mengajar dan Menata Mimpinya Sendiri
Harapan terhadap penyelenggaraan PPSJT pun mengarah pada satu tujuan yang sama, yakni agar kompetisi tersebut semakin dikenal masyarakat dan terus konsisten menjadi ruang pembinaan pelajar.
Mereka juga berharap semakin banyak generasi muda yang berani mengikuti ajang tersebut bukan demi selempang atau gelar, melainkan untuk bertumbuh, membangun karakter, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan.
Di tengah tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks, kisah para pemenang Putra Putri Siswa Jawa Timur 2026 memperlihatkan bahwa prestasi tidak lagi diukur dari banyaknya trofi yang dibawa pulang. Yang jauh lebih penting adalah sejauh mana pengalaman dalam sebuah kompetisi mampu melahirkan kepemimpinan, memperluas kepedulian sosial, dan mendorong lahirnya generasi muda yang siap menjadi penggerak perubahan.