
Written by Essenza
Kala baskara senja menyelar seluruh isi buana, Sadiyah justru membakar rumahnya, melihat hasil karya tangan yang membuat api berdansa lihai dengan asap mengisi segala sisi cakrawala bersamaan dengan bertiupnya roh-roh Tuhan dalam nama angin. Rinai merdu kayu-kayu penyangga tempatnya bersemayam dalam kehidupan yang tidak pernah sekalipun ia harapkan, saling memeluk diri ketika jatuh satu per satu secara menyedihkan. Jika Sadiyah bisa dan diperbolehkan semesta, ia ingin menghanguskan satu manjapada. Mendengar nyanyian elegi dari para insan hina bermulut penuh cela. Sebab perempuan seperti dirinya hanya akan diperhatikan dunia jika ia dianggap gila. Maka, di sini Sadiyah berdiri dengan segenggam tekad dan akal kecewa yang sempurna.
“Biar mati kau bersama dengan segala jiwa penyesalanmu,” kata Sadiyah dengan hati, jiwa, dan tubuh terseret luka. Seolah ia telah mati dalam waktu lama. Namun pada realita yang ada, badannya masih tetap ada. Mungkin ia Adalah jenazah yang berdiri pada garis bimbang antara kehidupan dan kematian yang fana. Ia diam selama ini, tapi ini adalah saatnya ia bersuara. Meski tidak pasti aka nada yang mendengar atau tidak, namun setidaknya Sadiyah memilih jalan untuk berusaha.
Dalam benak Sadiyah, terputar puisi melankolia yang ia jahit benang baitnya sebagai simbol dari suara yang dibungkam. Bisikan drama kehidupan Sadiyah menjadi alunan musik perayaan mati rasa. Satu demi satu adegan di cerita Sadiyah tayang di pikirannya.
Dalam nama gelap aku bersua, menjajakan kesedihan tiada tara. Tapi diam bukan cara melainkan luka. Jika aku menutup seluruh indera, maka mati perlahan lahan akan datang menutup usia. Namun kini aku bersuara. Mewakili segala bentuk cedera.
Dari mana asal semua lara itu berada, Sadiyah masih bisa bercerita. Jelas ia masih berduka. Namun, Sadiyah sangat ingin semua orang mengetahui waritanya meski mungkin dunia akan lupa. Maka dari itu, jauh melewati sangkala, Sadiyah
bercerita. Tentang segala pahit dan getir robekan hatinya yang masih saja terbuka. Sebuah prosa penuh keji yang tidak akan terbayangkan.
Dahulu, di tahun 1945 ketika Sadiyah bebas dari cengkraman militer Jepang sebagai perempuan penghibur tentara Jepang atau dikenal sebagai Jugun Ianfu, seluruh tubuhnya merasakan begitu banyak sakit. Pun hatinya yang membiru ikut meneriakkan nama keadilan bagi dirinya sendiri. Sebab pasca kekalahan Jepang di tahun sekian, para perempuan yang dipaksa untuk menjadi penghibur itu dibiarkan begitu saja. Tidak ada yang peduli pada mereka. Begitu pula sejarah, yang tidak menceritakan nama mereka sama sekali.
Sadiyah dijanjikan untuk bersekolah di Jepang saat ia berusia 17 tahun di 1942. Kabar itu datang dari mulut ke mulut. Mengeyam Pendidikan adalah asa yang selalu mengalungi tekad Sadiyah. Namun Ketika ia datang ke titik kumpul Bersama puluhan gadis muda lainnya, mereka dimasukkan ke dalam kapal dan berlabuh di tempat antah berantah. Dari sana penderitaan Sadiyah dimulai. Ia menjalani kehidupan yang tidak seorang pun inginkan, menjadi perempuan penghibur bagi tentara Jepang. Hingga sampai akhir kekalahan Jepang di 1945, para perempuan Jugun Ianfu yang masih hidup dilepas tanpa arahan, bak hewan yang kebingungan di sarang predator, siap untuk diterkam kapan saja.
“Tolong saya, Pak. Terima saya di desa ini,” pinta Sadiyah kepada Kepala Desa terdekat dengan lokasi penyiksaannya. Ia menumpangi mobil pengangkut sayur hingga sampai ke des aini hanya untuk menerima penolakan dari masyarakat karena dianggap sebagai aib dan najis.
“Perempuan itu bekas pelacur! Akan menjadi hal memalukan di desa ini, Pak! Ia membawa penyakit!” bentak salah satu warga sembari melempar kerikil ke tubuh Sadiyah yang sedari awal sudah dipenuhi luka.
“Jangan terima dia! Dia akan membawa pengaruh buruk! Pezina tetap pezina yang busuk!” Salah seorang Ibu yang juga adalah perempuan dengan tega ikut menghardik kedatangan Sadiyah.
Sampai jatuh satu keputusan. Untuk mengurangi Tingkat aib dan najis Sadiyah, yang bahkan tidak pernah Sadiyah lakukan secara sengaja, Sadiyah
dipaksa untuk menikahi duda tua bernama Parjo. Tampangnya menyeramkan dengan badan yang besar dan rambut acak-acakan, ia terkenal sebagai preman di desa. Untuk mengurus kehidupannya, lagi-lagi yang dikorbankan adalah nasib serta suara perempuan tanpa dipertanyakan ketersediannya. Sadiyah tidak bisa membantah, sejak kapan ia memiliki hak untuk berpendapat?
Menikahi Parjo adalah bentuk pepatah keluar mulut buaya, masuk mulut harimau. Sadiyah hanya dijadikan budak nafsu bagi Parjo. Ia tidak boleh membuka suara jika tidak diajak bicara lebih dulu, tidak boleh menolak, serta tidak dapat melawan apapun yang Parjo lakukan. Bahkan, Sadiyah tidak diperkenankan untuk keluar rumah tanpa izin Parjo. Parjo mengaku malu jika ada yang melihat bahwa istri barunya adalah bekas ‘pelacur’Jepang.
“Kau ini hanya perempuan! Ditambah tubuhmu yang hina! Tahu apa kau tentang berpendapat di depanku? Tugasmu hanya di sumur, dapur, dan kasur! Paham kau?!” teriak Parjo tepat di depan wajah Sadiyah Ketika Sadiyah ingin berbicara mengenai keinginannya agar Parjo berhenti berjudi.
“Tapi, Mas-” Belum sempat Sadiyah mengakhiri kalimatnya, Parjo melayangkan satu luka lagi untuk membungkam Sadiyah. Kini, Sadiyah benar benar terdiam. Ia jatuh ke lantai dan memegangi pipinya yang terasa perih, membiru seperti hatinya yang sudah lama mati. Tidak ada lagi air mata tersisa di bendungan Sungai Sadiyah, sebab Parjo yang ringan tangan adalah Parjo yang Sadiyah kenali.
“Pergilah ke pasar dan masak sesuatu untukku! Kau hanya hidup untuk melayani kaum laki-laki!” perintah Parjo yang langsung dibalas anggukan oleh Sadiyah. Perempuan malang itu segera bangkit dan bergegas menuju pasar.
Baru di Tengah jalan menuju pasar, Sadiyah menangis meraung di tengah jalan memikirkan nasibnya yang begitu lara muram temaram tanpa haluan. Ia mengambil secarik kertas dari buku yang selalu ia bawa dan menuliskan secarik surat untuk khalayak. Sadiyah secara diam-diam menyuarakan surat keadilan untuk kaum perempuan dengan nama pena laki-laki yakni Sukiman. Karena Sadiyah yakin, suaranya akan didengar jika ia adalah laki-laki. Tapi Sadiyah tidak pernah
menyesal terlahir sebagai perempuan sebab baginya perempuan begitu indah meski keindahannya membawa nasib pada kesengsaraan.
Surat kepada negara. Apakah arti merdeka jika para puan bungkam tanpa suara? Mereka tidak bebas, masyarakat mengikatnya pada tiang bernama sahaya. Seementara laki-laki hidup uncang-uncang kaki bersama keyakinan patriarki yang masih saja berkuasa. Tanpa gema, tanpa bahana, perempuan merajut semangat tiada tara. Mungkin perjuangan masih sia-sia, tapi mimpi bukan mimpi jika tidak menjadi nyata.
-Sukiman
“Lihat Si Pelacur sedang menulis sesuatu,” bisik salah satu tetangga yang melewatinya. Sadiyah dengan cepat bangkit dan berjalan ke pasar untuk melakukan tugasnya sebagai ‘perempuan’.
Sesampainya di rumah, Sadiyah melihat Parjo dengan mata merah. Wajahnya penuh akan emosi tanpa ampun. Ini adalah pertanda bahwa Parjo sedang marah karena kekalahannya dalam judi ayam. Namun, kali ini berbeda karena Parjo memegang beberapa lembar kertas dengan tulisan apik nan banyak. Mata Sadiyah membesar, itu adalah surat-surat yang hendak Sadiyah kirim pada pusat penerbitan koran sebagai Sukiman. Kertas-kertas tersebut dirobek oleh Parjo. Ini sama saja seperti merebut pita suara Sadiyah.
“Kau menerima surat dari laki-laki lain? Dasar pelacur!” bentak Parjo seraya membuang ludahnya ke wajah Sadiyah.
“Jangan dirusak! Itu tulisanku sendiri, Mas! Jangan dirusak!” tangis Sadiyah. Usahanya menulis selama berhari-hari hilang begitu saja, direnggut paksa oleh keputusan tatanan masyarakat.
“Diam kau pelacur! Akan aku habisi kau!” Parjo mengepalkan tangannya dan benar-benar membuat Sadiyah babak belur. Inikah balasan bila seorang perempuan hendak bersuara? Sesakit inikah rasanya pembungkaman? Sadiyah tidak tahan, ia ingin melawan. Maka dengan cepat Sadiyah melempar kendi tanah liat ke kepala Parjo hingga kendi tersebut pecah mengenai kening juga mata kanan Parjo.
“Pelacur gila! Akan aku laporkan ke Kepala Desa kalua kau membangkang!” Parjo berlari keluar rumah meninggalkan Sadiyah sendirian.
Sadiyah lalu pergi ke dapur mengambil minyak tanah dan menyalakan tungku api. Ia mengambil sebilah kayu dan melumuri kayu itu dengan minyak tanah lalu menyulut api di ujungnya. Sadiyah menumpahkan seisi minyak tanah ke seluruh penjuru rumah yang berdinding bambu. Lantas Sadiyah melempar kayu berapi it uke teras rumah. Api langsung berkobar begitu hebat, dibantu oleh angin pegunungan yang seolah sedang bersekutu dengan niat Sadiyah. Rumah terbakar dengan api besar.
“Pelacur gila! Dia membakar rumah! Ayo tangkap!”
Sontak segenap masyarakat mengepungnya, menghabisinya dengan pukulan yang tak kunjung puas. Ini bayaran jika perempuan berpendapat. Tetapi Sadiyah tetap akan mengulangi aksi berpendapatnya. Hinaan-hinaan keluar dari mulut warga seolah Sadiyah adalah seonggok binatang cendala. Mengapa perempuan yang terus disalahkan tanpa mengetahui sebab akibatnya?
Sebab perempuan akan didengar dan diperhatikan dunia apabila ia dianggap gila.
Mata Sadiyah semakin sayup dan mengantar gulita. Seluruh tubuhnya sakit tapi ia merasa senang, karena mungkin ini rasa sakit terakhirnya.
Dalam gelap, Sadiyah melihat sosok Ibu yang melahirkannya. Ibunya yang belasan tahun lalu tewas sebelum Sadiyah diangkut oleh militer Jepang. Sadiyah berlari memeluk ibunya, begitu erat tanpa ingin lepas. Sang Ibu mengusap rambut Panjang Sadiyah sambil mengalunkan nada indah, nyanyian pengantar tidur untuk Sadiyah.
Untuk pertama kalinya, Sadiyah merasakan bebas.
Karya Pemenang Juara 2 FSBB 2025
Sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat literasi dan kreativitas generasi muda, redaksi memuat ulang karya pemenang Lomba Cipta Cerpen FSBB 2025. Karya ini telah melalui proses kurasi panitia dan dimuat kembali dengan izin penulis untuk tujuan nonkomersial dan edukatif.