Rendra, Gengsi, dan Cinta yang Tak Terucap

Judul Buku : Kenang-Kenangan Seorang Wanita Pemalu
Terbitan Pertama: 2007
Pengarang: WS Rendra
Jumlah Halaman : 201 Halaman

Ada hal lucu sekaligus menyakitkan ketika membaca karya-karya W.S. Rendra: kita sering merasa sedang membaca diri sendiri. Begitu pula saat membuka cerpen “Kenang-Kenangan Seorang Wanita Pemalu”. Entah bagaimana caranya, Rendra seperti selalu tahu celah paling rapuh dalam hati pembacanya, lalu menuliskan itu dengan begitu tenang seolah-olah semua perasaan rumit itu hal biasa saja.

Cerpen ini bercerita dari sudut pandang seorang perempuan pemalu yang sulit mengungkapkan perasaan cintanya. Bukan karena tidak cinta, tapi karena gengsi dan rasa takut terlihat lemah. Tokoh “aku” merespons perasaan dengan cara yang mungkin terlalu akrab bagi banyak perempuan: marah sedikit, sinis sedikit, padahal hatinya sedang bergetar hebat. Ia berharap laki-laki itu peka bahwa di balik semua ketusnya, ada cinta yang ingin disampaikan tetapi tak pernah berhasil keluar sebagai kata.

Baca juga: Ketika Bus Damri Menjadi Hamba: Ziarah Cinta dalam “Semua Ikan di Langit”

Yang menarik, Rendra tidak membungkus tokoh ini sebagai sosok dramatis yang berlebihan. Justru ia digambarkan apa adanya: seorang perempuan yang tampaknya biasa, tapi menyimpan riuh di ruang batinnya sendiri. Rendra meramu bahasa sederhana, tapi tepat sasaran. Rasanya seperti bercermin tanpa filter kita melihat diri kita sendiri, lengkap dengan gengsi, rindu, dan kebiasaan berpura-pura tidak peduli.

Membaca cerpen ini seperti mendapati pengakuan yang selama ini tidak berani kita ucapkan. Ada getir karena kita tahu tokoh itu terlambat menyampaikan rasa. Ada lucu-lucu malu ketika menyadari bahwa kita pun pernah (atau masih) berharap seseorang akan paham perasaan kita tanpa perlu diberi tahu.

Kekuatan cerpen ini ada pada kejujuran emosinya. Tidak ada adegan heboh, tidak ada konflik besar. Yang ada hanyalah pergulatan kecil yang ternyata sangat manusiawi. Rendra seperti berkata bahwa tidak semua kisah cinta butuh klimaks besar kadang yang menyakitkan justru adalah kata-kata yang tidak pernah kita ucapkan.

Baca juga: Ketika Pangeran Kecil Mengajari Kita Menjadi Manusia

Secara keseluruhan, “Kenang-Kenangan Seorang Wanita Pemalu” adalah kisah yang sederhana, tapi menohok. Ia mengajak pembaca menyadari bahwa kejujuran pada diri sendiri sering kali lebih sulit daripada jatuh cinta itu sendiri. Dan buat pembaca yang merasa pernah menjadi “wanita pemalu” itu atau bahkan masih cerpen ini bukan sekadar bacaan.

Ia adalah cermin.
Dan kadang, cermin adalah tempat yang paling menakutkan sekaligus paling jujur.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *