
Banjarmasin, Berpola- Berawal dari keresahan melihat banyak anak muda yang memiliki potensi besar tetapi minim ruang aktualisasi, Lankar.id lahir sebagai wadah belajar sekaligus bergerak. Komunitas yang resmi berdiri pada 27 September 2023 ini tidak ingin hanya menjadi ruang diskusi, melainkan ruang aksi yang menghadirkan dampak nyata.
“Banyak anak muda punya ide cemerlang, tapi sering kali berhenti di wacana. Kami ingin menghadirkan ruang yang bukan hanya berdiskusi, tapi juga turun langsung menciptakan perubahan,” ujar Shofiyya Sholihah atau disapa Shofi program lead Lankar.id.
Baca: Komunitas Jogging Wisata Malang Mengubah Cara Kita Menikmati Malang
Bukan sekedar makna tapi aksi nyata
Nama “Lankar” diambil dari bahasa Banjar yang berarti indah. Filosofi itu menjadi napas dalam setiap gerakan komunitas ini. Tak hanya fokus pada isu lingkungan, Lankar.id juga bergerak di bidang ekonomi kreatif serta pemberdayaan pemuda, khususnya perempuan.
“Kami ingin menciptakan hal-hal indah di setiap topik yang kami angkat. Indah bukan hanya secara gagasan, tetapi juga dalam dampaknya yang bisa dirasakan masyarakat,” lanjut Shofi.
Berbeda dari kegiatan sosial pada umumnya, Lankar.id mengusung konsep ekspedisi relawan. Konsep ini menekankan proses yang matang, mulai dari pembekalan, observasi lapangan, implementasi program, hingga refleksi dan evaluasi.
“Ekspedisi bukan sekadar datang lalu pulang. Relawan harus memahami konteks sosial masyarakat, belajar dari mereka, lalu merancang solusi bersama. Di situlah empati dan kepemimpinan terbentuk,” jelasnya.
Melalui gerakan yang terstruktur dan kolaboratif, Lankar.id ingin membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama. Sesuai makna namanya, mereka terus berupaya merangkai keindahan melalui aksi nyata dari Sabang sampai Merauke.
Baca juga : Dari Perempuan untuk Perempuan: Woman.hub dan Perjalanan Membangun Ruang Aman
Dari kita untuk kita

Komunitas ini terbuka bagi siapa saja, khususnya anak muda yang memiliki semangat belajar dan berkontribusi. Tidak ada syarat pengalaman khusus. “Yang penting punya niat, kemauan bertumbuh, dan siap bekerja dalam tim. Pengalaman bisa dibentuk, tapi semangat dan empati harus datang dari dalam diri,” kata Shofi.
Secara struktural, Lankar.id dikelola oleh sembilan pengurus inti yang memanajemen program dan internal komunitas. Sementara itu, relawan direkrut secara terbuka setiap kali program digelar maupun saat berkolaborasi dengan mitra eksternal.
Untuk periode 2025–2026, fokus kegiatan berada di Kalimantan Selatan, Banjarmasin dan Balangan, serta wilayah Jabodetabek dan Surabaya. Namun dampaknya telah menjangkau Aceh, Maluku (Banda Neira dan Kepulauan Kei), hingga Papua. Setiap lokasi dipilih berdasarkan kebutuhan riil masyarakat.
“Kami melakukan asesmen terlebih dahulu. Program tidak boleh datang dari asumsi, tapi dari kebutuhan yang benar-benar ada,” tegas Shofi.
Keberlanjutan menjadi prinsip yang dijaga. Lankar.id memastikan adanya kolaborasi dengan pemuda setempat agar program tetap berjalan meski ekspedisi telah selesai. Monitoring dan evaluasi pun dilakukan untuk melihat perkembangan dan potensi pengembangan lanjutan.
Bagi Shofi, keterlibatan anak muda dalam kegiatan volunteer bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang bertumbuh. “Sering kali pengalaman lapangan menjadi titik balik cara pandang seseorang terhadap isu sosial. Dari sana lahir pemuda yang lebih empatik, solutif, dan visioner.”