Tangan Kanan Sastra

Tangan Kanan Sastra (Foto: Visualisasi buatan AI/Berpola)

Written by Ifka Nurul Adha

Seribu derap kuda meredam celoteh yang melolong sejak pertama dicetus Si
Tangan Kanan Sastra: Bidak kerdil yang mati disembur kabar burung

Sebelum tepi bayang condong ke barat,
Ia menggaru pasir pantai
Menepis surat kabar bertajuk “Asa Seorang Siswa”
Cepat mata kosongnya menilik langit yang kata puisi tidak ada batasnya,
Yang kata puisi wajahnya yang biru selalu bercermin pada laut

Saat waktu melawan fana yang memburu diantara celah kayu-kayu rumah,
Ada dinding rapuh yang tetap cakap menopang kata “mustahil” pidak pedarakan

Kalender silih bergulir
Tibanya rembulan sedang berhati-hati menyebrangi atap bumi
Tanggal menyuntikkan kafein di sekeliling purnama
Sepakat enggan menarik jiwa ‘tuk terlelap

Di tempurung satu raga,
Celotehnya masih nyata
Masih sama dengan yang didengar langit langit rumbia dari dua minggu silam
Penuh harga yang ia patenkan menjadi pisau yang mengukir ulang garis masa
depan
Siapalah ia, berkhayal pun segan,
Tak mampu membeli hidup

Jarum di matanya mulai meracau
Berangsur angsur mengguyur kanal berita penuh dusta

Yang diharapnya berganti maklumat: “Diskon Pintu Gerbang Cita-cita”
Yang diharapnya ia mendadak bermain peran utama di sinetron saat ini

Lelah sudah berbacar mulut
Di detik terakhir menit kesembilan puluh ia terlelap sambil berkicau sembarang
ayat
Dikehidupan esok ia memilih jadi kedelai terbaik yang dipilah sebelum berubah
tempe,
Mengepakkan sayap setelah sebelumnya adalah kepompong dengan warna paling
cerah

“Aku hanya ingin menjabat seniman tersohor, menyabet gelar ‘Tangan Kanan
Sastra’, menandatangani kontrak saat matahari serendah-rendahnya.
Apalah merpati terus mengabarkan bangkai inflasi. Membuat mimpiku bak senja
bahari diinjak injak cakrawala. Jangan tanya aku dimana, aku telah memuai
bersama kabut tipis bercampur serbuk kapur yang tergerus oleh angka”

Matanya yang sebelah seakan menyatakan puisi ini ‘lembek’
Tidak seperti Khalid yang menggebrak meja
Yang diatasnya ongkang-ongkang kaki berkipas dolar
Yang dibawahnya menduduki adil, yang belum lahir dari rahim anak negri

Pulas sekali mayat si bidak kerdil tertidur
Setelah segala yang dijuangkan
Segalanya pun kembali sebermula:
Yang satu mandi dengan sabun emas antam
Yang satu lagi menanti dimandikan sekuntum mawar ditabur dari pucuk nisan

Karya Pemenang Juara 1 FSBB 2025
Sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat literasi dan kreativitas generasi muda, redaksi memuat ulang karya pemenang Lomba Cipta Puisi FSBB 2025. Karya ini telah melalui proses kurasi panitia dan dimuat kembali dengan izin penulis untuk tujuan nonkomersial dan edukatif.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *