Belajar dari Cinta, TK Lab UM Menemukan Cara Menumbuhkan Anak Hebat

Malang, Berpola — Di ruang kelas yang dipenuhi warna, tawa, dan rasa ingin tahu, pendidikan tidak hanya berlangsung lewat buku dan papan tulis. Di TK Laboratorium Universitas Negeri Malang, belajar berangkat dari satu nilai paling dasar: cinta.

Rahayu Asyhari, S.Pd., Gr., M.Pd, saat menerima penghargaan (Foto: Ist/Berpola)

Cinta itulah yang kemudian menjelma menjadi sebuah program bernama CINTA, sebuah pendekatan pendidikan anak usia dini yang menggabungkan kecerdasan, karakter, teknologi, dan empati sosial. Dari ruang kelas kecil inilah, sebuah pengakuan besar datang: penghargaan GTK Transformatif Kepala TK Terbaik 1 Provinsi Jawa Timur 2025.

Penghargaan tersebut diraih oleh kepala TK Laboratorium Universitas Negeri Malang, sebagai buah dari proses panjang membangun ekosistem belajar yang tidak sekadar mengejar capaian akademik, tetapi juga pembentukan manusia sejak usia dini.

Baca juga : Festival Literasi Anak Kota Malang, Ruang Belajar yang Penuh Warna

CINTA sebagai Cara Pandang

Bagi TK Lab UM, CINTA bukan sekadar akronim. Ia adalah cara pandang terhadap pendidikan. Nilai Cerdas, Inovatif, Nasionalis, Tanggung Jawab, dan Akhlak Mulia ditanamkan bukan melalui ceramah, melainkan lewat pengalaman sehari-hari anak.

“Kami ingin anak-anak belajar dengan rasa aman dan bahagia. Dari situ karakter akan tumbuh secara alami,” ujar Kepala TK Lab UM, Rahayu Asyhari, S.Pd., Gr., M.Pd, saat ditemui usai pengumuman penghargaan GTK 2025.

Menurutnya, pendidikan anak usia dini tidak bisa disamakan dengan jenjang lain. Anak tidak bisa dipaksa memahami nilai, tetapi perlu diajak mengalaminya. “Kalau anak sudah merasakan, mereka akan mengingat. Itulah mengapa kami memilih pendekatan berbasis kebiasaan dan pengalaman,” katanya.

Anak-anak belajar nasionalisme bukan hanya dari lagu atau hafalan, tetapi melalui teknologi augmented reality yang menghadirkan tokoh-tokoh bangsa secara visual dan interaktif. Mereka juga belajar empati lewat kegiatan Sedekah Nasi Bungkus, membagikan makanan dengan tangan mereka sendiri.

“Anak-anak kami ajak terlibat langsung. Mereka menyiapkan, membagikan, lalu kami ajak berbincang. Dari situ muncul pertanyaan dan rasa empati,” tutur Rahayu.

Baca juga : Belajar Berbagi Sejak Usia Dini, TK Laboratorium UM Tanamkan Empati Lewat Senabung

Sekolah sebagai Ruang Hidup

Proses belajar di TK Lab UM tidak berdiri sendiri. Orang tua dilibatkan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan melalui program Guest Teacher. Dalam program ini, orang tua hadir di kelas untuk berbagi profesi dan pengalaman hidup.

“Kami ingin anak-anak melihat bahwa belajar itu dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk pekerjaan orang tuanya,” ujar Rahayu. Ia menyebut keterlibatan orang tua menjadi salah satu kunci keberhasilan program CINTA.

Pendekatan tersebut membuat sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang hidup, tempat anak merasa didengar dan dihargai. Nilai karakter dibentuk melalui rutinitas sederhana yang konsisten, termasuk pembiasaan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang dijalankan dalam aktivitas harian.

Seorang guru di TK Lab UM menambahkan, proses ini juga mengubah cara guru memandang perannya. “Kami tidak lagi sekadar mengajar, tetapi mendampingi. Guru harus hadir, peka, dan mau belajar bersama anak,” ujarnya.

Baca juga : Eco Print Jadi Media Belajar Akhlak di KB-TK Islam Al Azhar 56 Malang

Pengakuan atas Proses, Bukan Tujuan Akhir

Penghargaan GTK 2025 yang diraih bukanlah tujuan akhir. Bagi Rahayu, capaian ini justru menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah proses panjang yang harus terus dirawat.

“Penghargaan ini kami maknai sebagai amanah. Artinya, apa yang sudah kami lakukan harus bisa memberi manfaat lebih luas,” ucapnya.

Karena itu, Program CINTA tidak berhenti di dalam pagar sekolah.  Sekolah yang beralamat di Jalan Magelang 2, Lowokwaru, Kota Malang, itu menyiapkan langkah untuk mengimbaskan program tersebut ke lembaga PAUD lain di Jawa Timur.

“Kami ingin berbagi praktik baik. Pendidikan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” katanya.

Baca juga : Momen Haru di MATOS Saat Siswa KB-TK Islam Al Azhar 56 Malang Merayakan Ayah sebagai Pahlawan

Belajar Menjadi Manusia

Rahayu Asyhari, S.Pd., Gr., M.Pd, saat menerima penghargaan (Foto: Ist/Berpola)

Di tengah arus pendidikan yang sering terjebak pada target dan angka, TK Lab UM menghadirkan pengingat penting: bahwa pendidikan anak usia dini adalah soal menumbuhkan manusia, bukan sekadar mencetak prestasi.

“Kalau anak tumbuh dengan cinta, mereka akan belajar menghargai dirinya dan orang lain,” ujar Rahayu menutup perbincangan.

Dari cinta, anak-anak di TK Lab UM belajar mengenal dunia. Dari cinta pula, sekolah menemukan jalannya sendiri untuk membentuk generasi yang cerdas sekaligus berkarakter.

Dan dari sebuah ruang kelas kecil di Malang, cinta itu kini menjalar—memberi inspirasi bagi pendidikan anak usia dini di Jawa Timur.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *