
(Foto: Ist/Berpola)
Semarang, Berpola- Belakangan ini, istilah delusional semakin sering terdengar di media sosial, film, maupun percakapan sehari-hari. Biasanya kata ini dipakai untuk menyebut seseorang yang terlalu berharap, terlalu percaya diri, atau dianggap tidak realistis. Fenomena ini sebenarnya wajar. Istilah psikologis memang sering menjadi populer ketika muncul dalam tayangan hiburan.
Di satu sisi, hal ini membawa dampak baik karena masyarakat jadi lebih terbuka membicarakan kesehatan mental. Namun di sisi lain, maknanya kerap disederhanakan. Secara klinis, delusi bukan sekadar “geer”, “halu”, atau terlalu optimis.
Baca juga : Tak Sekadar Traveling, Lankar.id Ajak Anak Muda Berkontribusi Lewat Ekspedisi Sosial
Laurencia Yosita Tan, M. Psi., Psikolog Lantern Psychology Center mengatakan bahwa secara psikologis, delusi adalah keyakinan yang sangat kuat terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan realitas, dan keyakinan itu tetap bertahan meskipun sudah ada bukti jelas yang menyangkalnya.
Ia menambahkan, kesalahan umum di masyarakat ialah menyamakan delusi dengan harapan yang terlalu tinggi dan kepercayaan diri berlebihan. Jadi, ini bukan sekadar salah menilai atau terlalu percaya diri, melainkan gangguan dalam cara seseorang memaknai realitas.
Ketika Istilah Klinis Jadi Label

(Foto: Ist/ Berpola)
Masalah muncul ketika istilah klinis digunakan sebagai ejekan. Tanpa disadari, hal ini bisa memperkuat stigma. Orang yang benar-benar mengalami gangguan psikotik bisa merasa semakin malu dan akhirnya enggan mencari bantuan. Sementara itu, orang yang sebenarnya hanya sedang bermimpi besar atau optimis bisa merasa direndahkan karena dilabeli “delusional”.
Jika terus-menerus diucapkan, ia dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri. Karena itu, penting untuk memahami perbedaan antara penggunaan istilah secara santai dalam percakapan dan maknanya dalam konteks klinis.
Menurut Tan Laurencia Yosita, M.Psi., beberapa tanda yang perlu diperhatikan ketika kondisi mengarah pada gangguan serius antara lain perubahan perilaku signifikan, menarik diri, gangguan fungsi sehari-hari, hingga munculnya halusinasi atau kecurigaan ekstrem; jika sudah mengganggu kualitas hidup, bantuan profesional perlu segera dicari.
Tidak Perlu Menunggu Sampai Parah
Sayangnya, masih banyak orang yang ragu berkonsultasi karena takut dianggap “gila”, merasa masalahnya belum cukup berat, atau khawatir akan dihakimi. Padahal, datang ke psikolog bukanlah tanda kelemahan. Justru itu adalah bentuk kepedulian dan tanggung jawab terhadap diri sendiri.
“Sebelum melakukan konseling terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni layanan psikologi umumnya menyediakan konseling individu serta asesmen jika diperlukan. Dalam kondisi yang mengarah pada gejala psikotik, kolaborasi dengan psikiater juga bisa menjadi bagian dari penanganan. Selain itu, pilih tempat yang jelas sistemnya: ada proses pendaftaran, informed consent, dan menjaga kerahasiaan klien.” Ujar Tan Laurencia Yosita, M.Psi.
Baca juga: Vanessya Oscar, Menumbuhkan Percaya Diri Lewat Modeling
Melalui sesi asesmen awal yang komprehensif, Lantern Psychology Center membantu mengevaluasi kondisi klien secara menyeluruh, mencakup aspek emosional, kognitif, dan perilaku, dengan proses yang sistematis dan berlandaskan prinsip etik psikologi sehingga klien dapat merasa aman dan dipahami sejak pertemuan pertama. Hasil asesmen tersebut kemudian menjadi dasar dalam merancang rencana intervensi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan individu, sehingga setiap klien memperoleh pendampingan yang terarah, profesional, dan berkelanjutan guna mendukung pemulihan serta pengembangan diri secara optimal.
Pada akhirnya, memahami istilah dengan tepat bukan hanya soal bahasa, tetapi juga soal empati. Dengan pemahaman yang benar, kita tidak hanya lebih bijak dalam menggunakan kata, tetapi juga lebih peka terhadap kondisi orang lain.