Gobak Sodor di Kelas, Cara Khrisna Melawan Kebekuan Belajar

Khrisna Adhi Pradana mendampingi siswa bermain Gobak Sodor untuk melatih kerja sama dan konsentrasi sebelum pembelajaran di kelas. (Foto: Ist/Berpola)

Pacitan, Berpola- Di halaman SD Negeri Arjowinangun, suara tawa anak-anak terdengar riuh. Mereka berlarian, saling mengejar, menyusun strategi dalam permainan Gobak Sodor. Sekilas, suasana itu tampak seperti waktu istirahat biasa. Namun, bagi Khrisna Adhi Pradana, di sanalah proses belajar justru dimulai.

Guru kelas 6 yang akrab disapa Pak Khrisna itu memilih cara yang tak biasa. Di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan, ia justru kembali pada permainan tradisional. Bukan tanpa alasan. Ia melihat kebutuhan siswa yang tidak hanya belajar melalui buku, tetapi juga melalui gerak dan pengalaman.

Ia menyadari bahwa siswa kelas 6 berada pada fase penting masa transisi menuju remaja yang sarat energi. Jika tidak disalurkan, energi itu kerap berubah menjadi kejenuhan di dalam kelas. Karena itu, ia menghadirkan Gobak Sodor sebagai bagian dari pembelajaran.

“Anak-anak bukanlah botol kosong yang hanya duduk diam untuk diisi. Mereka adalah makhluk aktif. Dengan Gobak Sodor, kita tidak hanya melestarikan budaya, tapi juga menyiapkan saraf motorik dan mental mereka sebelum berhadapan dengan konsep-konsep rumit di papan tulis,” ujarnya.

Baca juga : Demi Sekolah Sehat, SMPN 2 Ampelgading Hidupkan Budaya Bekal Masakan Ibu

Belajar yang Mengalir dari Gerak

Bagi Pak Khrisna, permainan bukan sekadar selingan. Ia menjelaskan bahwa setiap sesi Gobak Sodor dirancang dengan tujuan tertentu. Secara tidak langsung, siswa belajar tentang strategi, kerja sama tim, hingga ketangkasan dalam mengambil keputusan.


Khrisna Adhi Pradana mendampingi siswa bermain Gobak Sodor untuk melatih kerja sama dan konsentrasi sebelum pembelajaran di kelas.
(Foto: Ist/Berpola)

Ia menuturkan bahwa setelah bermain, perubahan terlihat jelas. Siswa kembali ke kelas dengan wajah segar dan pikiran yang lebih terbuka. Dalam pengamatannya, stimulasi motorik kasar melalui permainan mampu meningkatkan konsentrasi secara signifikan.

Secara tidak langsung, pendekatan ini menjawab persoalan klasik di ruang kelas: kejenuhan dan kurangnya fokus. Ketika energi siswa tersalurkan, hambatan belajar pun berkurang.

Kelas yang Memberi Ruang

Yang membedakan Pak Khrisna bukan hanya metodenya, tetapi juga cara ia memandang siswa. Ia tidak menempatkan diri sebagai pusat pembelajaran, melainkan sebagai fasilitator. Baginya, kelas harus menjadi ruang yang aman dan terbuka.

Pembelajaran berjalan dua arah. Siswa diberi ruang untuk bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan tanpa rasa takut. Secara tidak langsung, hal ini membangun kepercayaan diri dan keberanian mereka dalam belajar.

Salah satu siswa kelas 6, Putri, merasakan perubahan itu. Ia mengaku suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan tidak terasa menekan.

“Pak Khrisna itu guru yang sangat mengerti kami. Belajar sama beliau itu tidak terasa seperti dipaksa, tapi seperti diajak bertualang. Kami main Gobak Sodor dulu, baru kemudian belajar matematika atau sains. Rasanya jadi lebih masuk ke otak,” ujarnya.

Baca juga : Fina Mulianastiti, Menulis untuk Menjaga Masa Kecil Tetap Hidup

Menghidupkan Makna Pendidikan

Pendekatan yang dilakukan Pak Khrisna menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu harus kaku. Ia justru menemukan keseimbangan antara nilai tradisional dan kebutuhan zaman. Di satu sisi, ia melestarikan permainan lokal. Di sisi lain, ia menjawab tantangan pembelajaran modern.

Secara tidak langsung, praktik ini menjadi contoh bahwa kurikulum yang padat tidak harus menjadi beban. Dengan pendekatan yang tepat, pembelajaran justru bisa terasa ringan dan menyenangkan.

Di SDN Arjowinangun, perubahan itu terlihat sederhana: anak-anak datang ke sekolah dengan semangat, belajar dengan antusias, dan pulang dengan senyum. Namun, di balik kesederhanaan itu, ada makna yang lebih dalam tentang bagaimana pendidikan seharusnya memanusiakan manusia.

Kisah Pak Khrisna menjadi pengingat bahwa guru bukan sekadar pengajar, melainkan pembuka jalan. Bukan yang paling banyak berbicara, tetapi yang mampu memberi ruang bagi muridnya untuk bergerak, bernapas, dan tumbuh.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *