
Surabaya, Berpola — Tim peneliti dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang terdiri atas Dr. Moh. Ahsan Shohifur Rizal, M.Pd., Dr. Hespi Septiana, M.Pd., Trinil Dwi Turistiani, M.Pd., dan Prof. Dr. Syamsul Sodiq, M.Pd., bekerja sama dengan Dr. Renda Yuariananta, M.Pd. dari Universitas Negeri Malang, melakukan penelitian di Pondok Pesantren Nahdlatut Thulab, Banyuwangi.
Pesantren yang dikenal sebagai salah satu tertua di wilayah tersebut memiliki kekayaan tradisi sastra pesantren, salah satunya Singir Safinah karya KH Dimyati Syafi’i. Karya sastra ini menjadi objek utama penelitian karena mengandung nilai-nilai didaktik serta prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) yang relevan dengan pendidikan masa kini.
Baca juga : HISKI Komisariat Malang Raih Penghargaan Komisariat Teraktif dan Produktif 2025

Pembelajaran Fikih Melalui Sastra Pesantren
Ketua tim peneliti, Dr. Moh. Ahsan Shohifur Rizal, menjelaskan bahwa Singir Safinah diajarkan secara rutin oleh para ustaz di gazebo pesantren setiap malam. Pengajaran dilakukan dengan cara melantunkan singir sesuai nada khas pesantren agar lebih mudah dihafalkan oleh santri.
“Tujuannya agar santri memahami dasar-dasar fikih yang menjadi pondasi dalam menjalankan ibadah sehari-hari, mulai dari rukun iman, rukun Islam, hingga tata cara bersuci seperti wudu dan tayamum,” ujar Ahsan, Kamis (16/10/2025).
Ia menambahkan, pembelajaran melalui singir memudahkan santri memahami materi fikih dengan cara yang kontekstual dan menyenangkan. “Santri lulusan pesantren ini memiliki kekhasan tersendiri karena terbiasa belajar fikih lewat pendekatan sastra,” katanya.
Nilai SDGs dan Inovasi Pembelajaran
Menurut Ahsan, nilai-nilai Sustainable Development Goals sesungguhnya telah diterapkan dalam Singir Safinah, meskipun karya tersebut telah berusia lebih dari lima dekade.
“SDGs ternyata sudah diterapkan sejak lama melalui ajaran dalam singir. Ini menunjukkan bahwa pesantren telah menanamkan perilaku hidup berkelanjutan jauh sebelum konsep itu dikenal luas,” ujarnya.
Baca juga : SMAN 2 Kota Malang Dorong Prestasi Siswa dengan UKBI
Dalam wawancara dengan salah satu pengajar, Gus Bulya, terungkap bahwa proses pengajaran dilakukan dengan metode taqriri atau metode pengulangan. Saat ini, metode tersebut dikombinasikan dengan pendekatan project based learning agar pembelajaran tidak berhenti pada hafalan, tetapi berkembang menjadi praktik nyata dalam kehidupan santri.
“Dengan metode ini, pembelajaran tidak berhenti di teks, melainkan menjadi proyek yang berdampak pada perilaku dan lingkungan sekitar,” jelas Gus Bulya.
Ke depan, tim peneliti berharap Singir Safinah dapat dikembangkan dalam bentuk digital seperti video pembacaan, infografis, maupun platform pembelajaran interaktif. Upaya ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap khazanah sastra pesantren, baik di pendidikan formal maupun nonformal.
Pingback: Menanam Nilai, Menumbuhkan Karakter: Kiprah Rohis Utsfillah di SMAN 1 Kepanjen - Berpola
Pingback: Parade Tasmi, Wujud Cinta Santri Ar-Rohmah Putri pada Al-Qur’an - Berpola