Malang, Berpola — Panggung bukan sekadar ruang pertunjukan, melainkan ruang belajar yang menyatukan teori dan praktik. Prinsip inilah yang menjadi dasar penyelenggaraan Festival Karya: Tetragrama Pementasan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM).

(Foto: Vranola/Berpola)
Menurut Dr. Sn. Musthofa Kamal, M.Sn., Dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, pembelajaran sastra, khususnya sastra pertunjukan tidak cukup disampaikan melalui teori dan analisis teks. Mahasiswa perlu mengalami langsung proses kreatif agar pemahaman yang terbentuk tidak berhenti pada konsep, tetapi benar-benar hidup dalam pengalaman.
“Sastra pertunjukan itu tidak bisa hanya dibicarakan. Ia harus dialami. Mahasiswa perlu merasakan bagaimana tubuh, suara, dan emosi bekerja di panggung,” ujar Dr. Sn. Kamal.
Atas dasar itu, ia bersama sejumlah dosen Departemen Sastra Indonesia terlibat langsung mendampingi mahasiswa selama proses latihan hingga pementasan. Pendampingan dilakukan sejak tahap awal, mulai dari pemanasan tubuh, olah vokal, pendalaman karakter, hingga pendampingan mental saat tampil.
Keterlibatan dosen secara langsung dinilai penting karena pendidik tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan dan memberi contoh nyata di lapangan.
Baca juga : Festival Literasi Anak Kota Malang, Ruang Belajar yang Penuh Warna
“Dosen tidak cukup hanya menjelaskan. Ia harus hadir, mempraktikkan, dan menemani prosesnya. Dari situ mahasiswa belajar secara utuh,” tambahnya.
Dalam penilaian, Dr. Sn. Kamal menegaskan bahwa pementasan merupakan kerja kolektif yang tidak bisa dilihat dari satu peran saja.
“Untuk penilaian, saya rasa satu panggung adalah satu kesatuan. Meski tidak semua tampil di depan, kerja di balik layar sangat menentukan. Tanpa mereka, sebuah pentas tidak akan pernah utuh,” tuturnya.
Festival ini digelar dalam rangka pekan Ujian Akhir Semester (UAS) Gasal Tahun Akademik 2025/2026 dan berlangsung selama empat hari, mulai 15 hingga 18 Desember 2025. Tetragrama merupakan persembahan Departemen Sastra Indonesia sekaligus bagian dari tugas akhir semester mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) angkatan 2023.
Baca juga : Merawat Sastra dari Kampus ke Sekolah, Hiski Malang Matangkan Program 2026
Beragam bentuk pementasan ditampilkan, mulai dari monolog, fragmen drama, drama lakon, hingga ludruk. Seluruh pertunjukan dirancang sebagai kolaborasi beberapa mata kuliah, sehingga mahasiswa tidak hanya mempelajari sastra secara teoretis, tetapi juga mengolahnya melalui tubuh, suara, dan ruang pertunjukan.
Sorot lampu panggung yang perlahan menyala menjadi penanda dimulainya proses belajar tersebut. Seorang mahasiswa berdiri sendiri di tengah panggung, menyampaikan monolog dengan ekspresi jujur dan penuh penghayatan. Pementasan ini bukan sekadar hiburan, melainkan praktik pembelajaran yang berlangsung secara nyata dan intim.
Dari Pendampingan Dosen ke Pengalaman Mahasiswa di Panggung

(Foto: Vranola/Berpola)
Bagi mahasiswa, pengalaman belajar langsung di atas panggung memberikan kesan yang berbeda. Darma, mahasiswa PBSI angkatan 2023, menilai pembelajaran berbasis praktik membuat proses belajar terasa lebih hidup dan bermakna dibandingkan pembelajaran di kelas.
Ia mengungkapkan bahwa keterlibatan dosen secara langsung selama proses latihan membuat mahasiswa lebih berani bereksplorasi dan memahami materi secara mendalam.
“Di panggung kami benar-benar belajar. Bukan hanya menghafal materi, tapi memahami prosesnya dari awal sampai akhir,” ujar Darma.
Menurutnya, suasana latihan yang intens dan pendampingan dosen membuat mahasiswa merasa lebih dekat secara akademik maupun emosional.
“Belajar langsung di panggung itu lebih enak karena praktiknya banyak dan terasa lebih intim dengan dosen. Kami bisa langsung dikoreksi dan diarahkan,” tambahnya.
Melalui Festival Karya: Tetragrama Pementasan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra UM tidak hanya menampilkan kreativitas mahasiswa, tetapi juga membuka ruang interaksi antara sivitas akademika dan masyarakat luas. Festival ini menjadi media apresiasi sekaligus pembelajaran bagi publik untuk mengenal sastra Indonesia dalam bentuk pertunjukan.
Lebih dari sekadar tugas akhir semester, Tetragrama menjadi penanda bahwa sastra dapat hidup, bergerak, dan berdialog dengan penontonnya. Di atas panggung, mahasiswa belajar bukan hanya tentang teks dan peran, tetapi juga tentang kerja sama, kepekaan rasa, dan keberanian berekspresi—nilai-nilai yang tak selalu ditemukan di ruang kelas.