Berlari di Lintasan Sejarah, Merawat Nilai Kemanusiaan

Detik-detik acara Napak Tilas Raden Wijaya dimulai (Foto: Ist/Berpola)

Malang, Berpola – Sejarah tidak selalu hadir di ruang kelas atau buku pelajaran. Ia juga bisa dirasakan melalui tubuh yang bergerak, napas yang teratur, dan langkah kaki yang terus melaju. Melalui kegiatan Napak Tilas Raden Wijaya, Universitas Brawijaya menghadirkan cara lain merawat ingatan sejarah sekaligus menanamkan kepedulian sosial.

Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan lintas komunitas dalam rangkaian peringatan Dies Natalis Universitas Brawijaya. Melalui lintasan panjang, olahraga dipadukan dengan refleksi sejarah dan aksi kemanusiaan.

Napak Tilas Raden Wijaya tidak sekadar dirancang sebagai ajang olahraga. Kegiatan ini juga memupuk solidaritas dan menguatkan nilai kemanusiaan di antara para pesertanya. Para pelari menempuh rute dari Pendopo Agung Trowulan, Mojokerto hingga Taman Candra Wilwatikta.

Total jarak tempuh mencapai 63 kilometer. Penentuan titik start dan finish berangkat dari filosofi sejarah Kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya. Angka tersebut sekaligus merepresentasikan usia Universitas Brawijaya dalam peringatan dies natalisnya.

Baca juga: Kelas Atlet SMK Nasional Malang: Menjaga Prestasi, Menguatkan Pendidikan

Bukan Sekadar Berlari

Kilas peserta Napak Tilas Raden Wijaya dari baris depan (Foto: Ist/Berpola)

Napak Tilas Raden Wijaya dikemas dalam dua agenda yang saling berkesinambungan, yakni ultra marathon dan charity run. Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya berperan sebagai pelari, tetapi juga menjadi penggerak kegiatan amal.

Program charity run dilakukan melalui penggalangan donasi daring menggunakan platform Kitabisa.com. Setiap peserta memiliki tautan donasi atas nama pribadi yang terhubung dengan rekening kegiatan. Dana yang terkumpul disalurkan untuk membantu mahasiswa Universitas Brawijaya penyandang disabilitas.

Melalui agenda ini, kegiatan Napak Tilas Raden Wijaya turut mendukung upaya kampus dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan ramah bagi semua.

Endah Purwatiningtyas selaku race director mengoordinasikan jalannya kegiatan dengan penuh semangat. Bagi Endah, yang telah lama menekuni dunia lari, pengalaman menjadi penyelenggara menghadirkan tantangan tersendiri.

“Hal yang paling saya sukai dari acara ini adalah pengalaman saya menjadi penyelenggara acara lari. Bagi pelari seperti saya, acara ini seperti acara untuk pelari dari pelari,” ujar Endah.

Baca juga:  Easy Climb Malang Hadir dengan Wajah Baru, Ruang Latihan Lebih Aman dan Inklusif

Melihat Tantangan sebagai Peluang

Kilas peserta Napak Tilas Raden Wijaya (Foto: Ist/Berpola)

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini tidak lepas dari tantangan. Satu pekan sebelum berlangsung, terjadi longsor di kawasan Cangar yang semula masuk dalam rute lomba.

Perubahan rute harus dilakukan dalam waktu singkat. Meski demikian, penyesuaian tersebut berhasil diselesaikan sebelum hari pelaksanaan.

Menurut Endah, perubahan ini justru menghadirkan pengalaman baru. Jika rute awal cenderung menanjak di awal dan landai di akhir, rute pengganti menawarkan variasi elevasi yang lebih menantang. Bagi para pelari, lintasan ini memberi sensasi yang berbeda.

Melalui penyelenggaraan Napak Tilas Raden Wijaya, Endah berharap kegiatan serupa dapat digelar kembali dengan skala yang lebih luas. Peserta kegiatan ini berasal dari berbagai daerah, mulai dari Jawa hingga luar pulau.

Baca juga: Dari Hobi Langka Jadi Juara Asia, Begini Perjalanan Restu Erdanald

Ke depan, ia berharap semakin banyak pelari yang terlibat. Tidak hanya untuk memperluas jejaring komunitas ultra marathon, tetapi juga untuk terus menggaungkan aksi kemanusiaan.

“Setiap pelari ultra marathon berawal dari langkah pertamanya. Meskipun dapat menempuh ribuan langkah, semuanya selalu dimulai dari satu langkah pertama,” tutup Endah Purwatiningtyas.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *