
Pacitan, Berpola- Pagi itu, ruang kelas VI SD Negeri Arjowinangun tak sepenuhnya sunyi. Bukan karena gaduh, melainkan karena pikiran-pikiran kecil sedang bekerja. Di atas meja, lembar soal matematika terbentang. Ada angka, ada rumus. Namun di sudut kertas, sebuah gambar kecil ikut menyelinap seekor burung, sebatang pohon, atau potongan lanskap sederhana. Dari situlah cerita bermula.
Di kelas itu, matematika tidak berdiri sendiri. Ia bertaut dengan imajinasi, bergerak seiring kata-kata. Semua berangkat dari cara Khrisna Adhi Pradana, M.Pd., memandang anak-anaknya. Ia tidak melihat murid sebagai kumpulan nilai, melainkan sebagai individu dengan jalur tumbuh yang berbeda. Maka, asesmen pun ia rancang tak melulu soal benar dan salah.
Baca juga : Fina Mulianastiti, Menulis untuk Menjaga Masa Kecil Tetap Hidup
Di setiap tugas matematika, Khrisna kerap menyelipkan gambar bonus. Bagi sebagian murid, gambar itu hanya pelengkap. Namun bagi murid dengan imajinasi yang menyala, gambar itu adalah pintu. “Setiap anak punya pintu masuknya sendiri menuju pemahaman,” ujarnya. “Tugas guru adalah membantu mereka menemukannya.”

(Foto: Ist/Berpola)
Salah satu murid yang menemukan pintu itu adalah Inara Talitha Damarlangit. Inara bukan tipe murid yang berhenti pada jawaban x dan y. Ia membaca soal, menghitung dengan teliti, lalu berhenti sejenak menatap gambar bonus. Dari sanalah, cerita dirangkainya.
Jika soal meminta menghitung tinggi pohon, Inara akan menuliskan kisah seekor burung yang berteduh di dahan. Jika angka-angka berbicara tentang jarak, ia menghadirkan perjalanan. Di balik lembar jawabannya, matematika dan cerita hidup berdampingan. “Saya jadi tidak takut salah,” katanya. “Karena setelah menghitung, saya bisa bercerita.”
Di titik inilah peran guru menjadi krusial. Khrisna tidak memadamkan kebiasaan itu. Ia tidak menegur Inara karena menulis “terlalu banyak”. Sebaliknya, ia memberi ruang. Ia memahami bahwa kekuatan Inara ada pada literasi, dan kekuatan itu justru bisa menjadi jembatan menuju numerasi.
Baca juga : Belajar dari Cinta, TK Lab UM Menemukan Cara Menumbuhkan Anak Hebat
Di sinilah hubungan guru dan murid bekerja secara seimbang. Khrisna tidak membatasi ekspresi Inara, tetapi juga tidak melepaskannya dari ketelitian logika. Literasi dan numerasi berjalan beriringan. Cerita tidak menggantikan matematika, melainkan memperkuat pemahaman terhadapnya.
Pendekatan ini memberi dampak nyata. Inara tumbuh dengan kepercayaan diri yang kuat baik dalam menulis maupun dalam menyelesaikan soal logika. Matematika tidak lagi dipandang sebagai pelajaran yang harus dihindari, melainkan tantangan yang bisa dihadapi dengan cara yang menyenangkan.
Apa yang berlangsung di ruang kelas VI SD Negeri Arjowinangun hari-hari ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu membutuhkan metode rumit. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian guru untuk memberi ruang, dan kepekaan untuk melihat potensi murid di luar pakem mata pelajaran.
Di tangan guru yang memahami, angka dapat berbicara. Dan di benak murid seperti Inara, angka-angka itu menemukan ceritanya sendiri.