
Binjai, Berpola — Air hujan yang kerap dianggap bagian wajar dari musim, pada titik tertentu dapat berubah menjadi ancaman. Dalam beberapa bulan terakhir, dunia kembali diguncang rangkaian bencana alam yang membawa kerugian besar. Indonesia tanah dengan kekayaan hayati yang diakui dunia pun tak luput dari amukan alam. Sorotan publik, baik nasional maupun internasional, kembali mengarah pada musibah banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Kota Binjai menjadi salah satu wilayah terdampak di Sumatera Utara. Luapan sungai yang tak mampu menahan derasnya hujan diduga menjadi pemicu utama banjir. Di tengah situasi itu, Lisa warga Binjai Utara mengikuti perkembangan bencana dari dekat. Dalam wawancara yang dilakukan secara online, ia menceritakan bagaimana banjir mengubah ritme kehidupan warganya.
Rumah Lisa memang tidak terendam, namun lorong gang beberapa ratus meter dari tempat tinggalnya digenangi air setinggi lutut. Saat meninjau lingkungan sekitar, ia melihat banjir tidak terjadi merata. Binjai Selatan menjadi kawasan yang paling parah terdampak.
Baca juga : Banjir Selutut, Warga Bunulrejo Kompak Turun ke Sungai Angkat Sampah & Sedimen

Banjir yang merendam sebagian wilayah kota itu melumpuhkan mobilitas warga. Jalan-jalan tak dapat dilalui, transportasi terhenti, dan aktivitas ekonomi lumpuh selama sepekan. Menurut Lisa, para pedagang di Pasar Kaget merasakan dampak paling besar. Selama seminggu penuh, mereka tak bisa berdagang. Ketika beberapa di antaranya mulai kembali membuka lapak, pemulihan kondisi masih jauh dari usai, baik secara material maupun psikologis.
Di luar kawasan pasar, Kelurahan Setia atau Kampung Bonjol menjadi titik dengan kerusakan paling berat. Salah satu pemandangan yang tak hilang dari ingatan Lisa adalah mushola yang ikut terendam. “Kalau sampai mushola tenggelam, berarti airnya memang tinggi sekali,” ujarnya.
Ketika Momen di Lapangan Menjadi Pengingat
Saat ditanya momen paling membekas selama turun langsung sebagai relawan, Lisa terdiam lama. Kemudian ia menceritakan kisah seorang ibu yang baru melahirkan tiga hari sebelum banjir datang. Dalam kondisi tubuh lemah, sang ibu dievakuasi oleh tim SAR. Sementara bayinya yang bahkan belum sempat mengenal dunia diangkat warga dengan kotak sterofoam yang kebetulan ada di sekitar lokasi.
“Momen itu terus menempel di pikiran saya,” kata Lisa pelan. Baginya, peristiwa itu menjadi pengingat betapa besar kuasa Tuhan sekaligus betapa rapuhnya manusia di tengah bencana.
Pengalaman terjun langsung menjadi relawan membuat pandangan Lisa berubah. Ia merasakan dorongan untuk terus melanjutkan pengabdian di masa mendatang.
Baca juga : Menyala di Tengah Gelap, Perjuangan Guru di TBM Lentera Talangsuko
Harapan yang Tumbuh dari Lumpur dan Duka

Bencana banjir ini membuka mata Lisa tentang pentingnya kepedulian terhadap lingkungan. Ia menilai kebiasaan membuang sampah sembarangan ke sungai, ke pinggir jalan, atau ke selokan adalah masalah yang kerap disepelekan namun memiliki konsekuensi besar. Sampah yang tersangkut di aliran sungai bisa memperparah luapan air saat hujan turun.
Menurut Lisa, pemerintah perlu memperbaiki tata kelola tempat pembuangan sampah serta menambah ruang terbuka hijau. Namun semua itu tak akan berjalan tanpa kesadaran kolektif masyarakat. “Harus ada sinergi. Pemerintah dan warga sama-sama peduli lingkungan, supaya kejadian seperti ini tidak terulang,” ujarnya.
Banjir besar yang menerjang tiga provinsi di Sumatra bukan hanya menyisakan kerugian, tetapi juga duka mendalam. Akses menuju banyak titik terdampak terputus, membuat distribusi bantuan dan kedatangan relawan tidak merata. Masih ada warga yang bertahan tanpa pertolongan, berjuang dengan segala keterbatasan.
Bagi Lisa, ketabahan mereka melampaui kata-kata.
“Jangan lelah untuk tetap kuat,” pesannya, “dan tetaplah menyimpan prasangka baik kepada Tuhan.”