Di Balik Tren Glowing, Mengembalikan Perawatan Kulit ke Akar Medis

Dr. Nora Ariyati menghadiri forum ilmiah IFAA S, yang membahas perkembangan terbaru perawatan kulit berbasis ilmu medis.
(Foto: Ist/Berpola)

Malang, Berpola- Popularitas skin care dan perawatan wajah di media sosial mengubah cara masyarakat memandang kesehatan kulit. Kulit cerah, bersih, dan bebas noda kerap dipersepsikan sebagai tanda keberhasilan perawatan. Padahal, tampilan luar tidak selalu mencerminkan kondisi medis yang sesungguhnya.

Di Malang Raya, klinik kulit masih sering dibayangkan sebagai tempat untuk facial glowing atau perawatan yang berorientasi pada kecantikan. Kenyataan ini mendorong sebagian praktisi medis untuk mengembalikan perawatan kulit pada fungsi dasarnya sebagai bagian dari kesehatan tubuh. Salah satunya dilakukan oleh Aurell Skin Care Kepundung bersama jaringan cabangnya di Malang Raya, termasuk Aurell Skin Care Blimbing.

Sejak lebih dari satu dekade lalu, Aurell Skin Care berkembang sebagai ruang pelayanan dermatologi dan venereologi yang menempatkan pemeriksaan medis sebagai langkah awal sebelum tindakan perawatan dilakukan.

Baca juga: Bersama The Maples Beauty Clinic, Dr. Widia Indra Arsanti Bantu Pasien Tampil Lebih Percaya Diri

Diagnosis Lebih Penting daripada Janji Instan

Dr. Nora Ariyati saat melakukan perawatan kulit pasien di Aurell Skin Care (Foto: Ist/Berpola)

Pendekatan medis menjadi pembeda utama dalam pola pelayanan di Aurell. Klinik ini tidak memulai perawatan dari tren yang sedang populer, melainkan dari diagnosis yang menyeluruh. Banyak keluhan kulit yang selama ini dianggap ringan, ternyata memiliki dasar medis yang memerlukan penanganan khusus.

“Tidak semua keluhan kulit bisa diselesaikan dengan perawatan kosmetik. Banyak kondisi yang perlu ditelusuri penyebabnya terlebih dahulu,” ujar DR. dr. Nora Ariyati, MKes, SpDVE, FINSDV, FAADV, dokter spesialis kulit dan kelamin yang memimpin Aurell Skin Care.

Dr. Nora mencontohkan, dermatitis atopik atau kontak sering kali disalahartikan sebagai alergi biasa. Infeksi jamur di lipatan kulit kerap dianggap sekadar gatal sementara. Sementara itu, jerawat kronis pada usia dewasa muda tidak jarang berkaitan dengan faktor hormonal atau infeksi bakteri tertentu.

“Kalau tidak didiagnosis dengan tepat, keluhan bisa berulang dan justru semakin berat,” katanya.

Baca juga: Wisudawan Terbaik Persembahkan Inovasi Ramah Lingkungan

Edukasi Pasien Menjadi Bagian Terapi

Dr. Nora Ariyati, dokter spesialis kulit dan kelamin, saat memberikan penjelasan kepada pasien sebelum perawatan kulit dilakukan.
(Foto: Ist/Berpola)

Menurut Dr. Nora, salah satu tantangan dalam praktik dermatologi saat ini adalah persepsi masyarakat yang masih menyamakan perawatan kulit dengan urusan mempercantik diri. Hal ini kerap terlihat dari banyaknya pasien muda yang datang dengan keinginan memiliki kulit lebih cerah atau keluar dari kesan kusam.

“Banyak pasien datang dengan tujuan estetika. Itu wajar. Tetapi sering kali di balik itu ada kondisi kulit sensitif atau gangguan tertentu yang tidak bisa ditangani secara sembarangan,” ujarnya.

Karena itu, setiap konsultasi di Aurell selalu disertai penjelasan mengenai kondisi kulit pasien. Pasien diajak memahami apa yang sedang terjadi pada kulitnya, pilihan penanganan yang tersedia, serta risiko dari setiap tindakan.

“Kami ingin pasien paham dulu kondisi kulitnya. Bukan hanya melihat hasil di cermin, tetapi mengerti prosesnya,” kata Dr. Nora.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *