HISKI Kom Malang Meriahkan Agenda Book Writing Camp

Tangkapan layar pelatihan daring Book Writing Camp yang menjadi ruang belajar dan berbagi pengalaman aantarpenulis. (Foto: Ist/Berpola)

Malang, Berpola- Bagi banyak orang, keinginan menulis buku kerap kandas bukan karena kekurangan ide, melainkan karena tak tahu harus memulai dari mana atau berhenti di tengah jalan. Kesibukan, kurangnya disiplin, dan minim pendampingan sering membuat naskah hanya tersimpan sebagai draf tak selesai.

Kondisi itulah yang coba dijawab melalui Book Writing Camp (BWC), sebuah program pendampingan menulis intensif yang diinisiasi oleh Tinta Langit. Program ini dirancang untuk memfasilitasi siapa pun yang ingin menulis buku, baik pemula maupun penulis yang kerap terhenti di tengah proses.

Menurut Nadiatul, perwakilan dari Tinta Langit, BWC berangkat dari kenyataan bahwa banyak orang sesungguhnya mampu menulis, tetapi kehilangan ritme dan komitmen.
“Di BWC, peserta kami dampingi dari nol. Mereka tidak dilepas begitu saja, tetapi ‘dijagain menulis’ agar dalam dua bulan bisa menyelesaikan draf buku yang siap diantarkan ke penerbit,” ujarnya, Rabu (7/1/2026).

Baca juga : Belajar dari Cinta, TK Lab UM Menemukan Cara Menumbuhkan Anak Hebat

Peserta mendapatkan materi kepenulisan sekaligus pendampingan intensif, mulai dari perencanaan naskah, target menulis harian, hingga pemahaman sistem penerbitan. Prinsip yang dipegang sederhana: menulis terlebih dahulu, lalu memperkuatnya dengan materi pendukung di dalam kelas.

Kolaborasi Literasi Bersama HISKI

Pada penyelenggaraan BWC#30, Tinta Langit menggandeng Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Malang. Kolaborasi ini dilandasi kesamaan visi dalam menghidupkan budaya literasi dan melahirkan karya tulis yang berkelanjutan.

Ketua HISKI Komisariat Malang, Dr. Dwi Sulistyorini, S.S. M.Hum., menilai kerja sama ini sebagai langkah strategis. Dengan latar belakang anggota HISKI yang kuat di bidang kesusastraan, program pendampingan menulis dinilai mampu mempercepat lahirnya buku-buku baru yang bernas.

“Atas dasar itu, kami menyambut baik pemberian golden ticket dari Tinta Langit. Harapannya, karya yang lahir dari Book Writing Camp tidak hanya selesai ditulis, tetapi juga memberi manfaat bagi banyak pihak,” kata Dr. Dwi.

Tangkapan layar pelatihan daring Book Writing Camp yang menjadi ruang belajar dan berbagi pengalaman aantarpenulis. (Foto: Ist/Berpola)

Baca juga : Perjalanan Gaga Rizky Membawa Wayang Suket Menembus Panggung Dunia

Apresiasi sebagai Penguat Motivasi

Selain pendampingan, BWC juga menghadirkan sistem apresiasi untuk menjaga semangat peserta. Penghargaan diberikan dalam sejumlah kategori, mulai dari jumlah naskah terbanyak, perolehan poin tertinggi melalui sistem gamifikasi, keaktifan di grup dan pertemuan daring, hingga peserta terfavorit yang dinilai dari sikap dan kontribusi selama kelas berlangsung.

Skema ini dirancang bukan untuk menciptakan kompetisi semata, melainkan sebagai pemantik agar peserta konsisten menulis dan saling menguatkan satu sama lain.

Disiplin Menulis di Tengah Kesibukan Akademik

Salah satu penerima golden ticket adalah Dr. Siti Zumrotul Maulida, M.Pd. l., dosen Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Undangan mengikuti kelas menulis ini awalnya ia terima tanpa ekspektasi besar, terlebih karena kelas berlangsung pada malam hari.

Sosok Dr. Siti Zumrotul Maulida, M.Pd. I

“Pengalaman paling berkesan justru saat harus konsisten memenuhi target. Dari situ saya belajar bahwa menulis itu soal disiplin dan kekayaan bahan bacaan,” tuturnya.

Pengalaman mengikuti BWC mengubah pandangannya terhadap proses kreatif. Jika sebelumnya ia menulis hanya ketika ada lomba, kini menulis menjadi kebiasaan. Sejumlah karyanya pun siap kembali diajukan ke penerbit.

Baca juga : Berlari di Lintasan Sejarah, Merawat Nilai Kemanusiaan

Fondasi Kepenulisan bagi Penulis Muda

Sosok Ahmad Junaidi, S.S, M.A.,

Peserta lain penerima golden ticket adalah Ahmad Junaidi, S.S, M.A., dosen muda Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang sekaligus penulis andalan Ajun Nimbara. Ia mengenal BWC melalui rekomendasi Dr. Dwi Sulistyorini sebagai Ketua HISKI Komisariat Malang.

Bagi Ajun, BWC menjadi ruang belajar penting untuk memperkuat fondasi kepenulisan. Materi yang disampaikan penulis dan praktisi berpengalaman membuka wawasannya tentang pentingnya disiplin, perencanaan, serta orientasi dalam menulis.

Ia secara khusus menyoroti materi Fondasi Kepenulisan yang menekankan urgensi dan perencanaan konseptual agar proses menulis tidak tersendat. Dari kelas ini, Ajun telah menuntaskan draf antologi cerpen tematik dan mulai menyusun kerangka buku monograf pertamanya tentang sastra dan budaya spiritual.

Baca juga : Festival Literasi Anak Kota Malang, Ruang Belajar yang Penuh Warna

Menulis sebagai Proses yang Dijaga

Book Writing Camp menunjukkan bahwa menulis buku bukan semata soal bakat, melainkan tentang menjaga komitmen. Melalui pendampingan intensif, target yang jelas, serta ekosistem kelas yang saling menguatkan, proses menulis menjadi lebih terarah dan realistis untuk diselesaikan.

Dari BWC, para peserta membawa pulang satu pelajaran penting: karya bisa lahir dan selesai, selama ada kemauan untuk terus menulis—hari demi hari.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *