
Banyuwangi, Berpola – Digitalisasi pendidikan tidak lagi hanya sebuah percakapan. Ia telah masuk ke ruang kelas, ke cara guru menyiapkan pembelajaran, hingga ke sumber belajar murid. Perubahan itu salah satunya dibuktikan melalui program kemitraan masyarakat (PKM) yang dilaksanakan oleh tim dari Universitas Negeri Surabaya.
Melalui kegiatan tersebut, tim PKM mencoba mengubah platform yang selama ini identik dengan hiburan menjadi ruang belajar yang kreatif dan edukatif. Salah satu anggota tim PKM, Laila Lupita Ardhiyanti, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pemanfaatan media sosial sebagai sarana pembelajaran berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan pendekatan belajar yang lebih dekat dengan kehidupan generasi saat ini.
“Anak-anak saat ini tumbuh bersama teknologi digital dan terbiasa mengakses konten visual setiap hari. Karena itu, media sosial dapat diarahkan menjadi ruang belajar yang menarik apabila digunakan dengan pendampingan yang tepat,” ujarnya.
Baca juga : Khrisna Adhi Pradana dan Upaya Menghidupkan Kembali Rasa Ingin Tahu Anak-anak
Gagasan tersebut diterapkan di SDN Bakungan Banyuwangi yang mulai mengintegrasikan digitalisasi pembelajaran melalui media sosial. Anak-anak generasi saat ini tumbuh bersama gawai dan terbiasa mengonsumsi video pendek setiap hari. Di sisi lain, guru masih menghadapi tantangan dalam menemukan media pembelajaran yang menarik sekaligus relevan dengan dunia siswa.
“Kami melihat bahwa siswa sangat dekat dengan media sosial, khususnya video pendek. Dari situ muncul gagasan untuk memanfaatkan Instagram Reels sebagai media edukasi Bahasa Indonesia yang lebih sesuai dengan karakter generasi digital,” tambah Laila.
Pendekatan tersebut tidak sekadar memindahkan materi pelajaran ke layar ponsel. Guru dan siswa diajak bersama-sama memproduksi konten edukatif yang memuat materi Bahasa Indonesia, mulai dari pengenalan kosakata, penggunaan kalimat efektif, hingga praktik berbahasa yang baik dan benar.
Guru Belajar Bersama Siswa
Bagi para guru, pengalaman mendampingi siswa membuat konten menjadi hal yang relatif baru. Selama ini, pembelajaran lebih banyak berlangsung secara konvensional di dalam kelas. Ketika program dimulai, mereka tidak hanya menerima materi pelatihan, tetapi juga terlibat langsung dalam proses produksi video.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian yang paling berkesan. Guru merasakan bagaimana teori yang diberikan dalam pelatihan dapat langsung diterapkan dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
Proses kreatif itu menghadirkan suasana berbeda. Hubungan antara guru dan siswa tidak lagi hanya berlangsung sebagai pengajar dan peserta didik, tetapi juga sebagai tim kreatif yang bersama-sama merancang ide, menyusun dialog, dan menghasilkan karya.
Dari Siswa Pemalu Menjadi Percaya Diri
Perubahan paling nyata terlihat pada diri siswa. Format video pendek yang dekat dengan keseharian mereka membuat proses belajar terasa lebih akrab. Materi yang sebelumnya dianggap sulit menjadi lebih mudah dipahami karena dikemas melalui visual, teks, suara, dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Guru mencatat bahwa siswa menjadi lebih fokus dan antusias selama pembelajaran berlangsung. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pencipta konten.
Salah satu momen yang paling membekas terjadi ketika beberapa siswa yang biasanya enggan berbicara di depan kelas mulai berani tampil di depan kamera. Mereka menyampaikan materi dengan suara lantang dan ekspresi yang lebih percaya diri.
Perubahan tersebut menjadi indikator bahwa pembelajaran tidak hanya meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga membantu mengembangkan keterampilan komunikasi dan kepercayaan diri siswa.
“Kami melihat anak-anak yang awalnya malu mulai berani tampil. Bahkan mereka bisa memberikan ide-ide kreatif untuk isi video yang akan dibuat,” ungkap salah seorang guru.
Belajar dari Kesalahan, Berkarya Bersama
Di balik video berdurasi kurang dari satu menit, terdapat proses belajar yang panjang. Para siswa kerap harus mengulang pengambilan gambar berkali-kali agar hasilnya sesuai harapan.
Menariknya, proses yang berpotensi melelahkan itu justru menjadi pengalaman menyenangkan. Ketika ada teman yang lupa dialog atau salah mengucapkan kata, siswa lain membantu mengingatkan. Mereka belajar bekerja sama, saling memberi dukungan, dan menyelesaikan tantangan bersama.
Bagi guru, momen tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran sesungguhnya tidak hanya terjadi saat materi disampaikan, tetapi juga ketika siswa berproses menciptakan sesuatu.
Kreativitas tumbuh secara alami. Anak-anak mulai berani menentukan konsep video, memilih latar pengambilan gambar, hingga menyusun cara penyampaian materi yang menurut mereka menarik untuk ditonton.
Baca juga :Endel, Ikhtiar PAUD Terpadu Anak Saleh Merawat Literasi, Teknologi, dan Karakter Sejak Usia Dini
Mengubah Wajah Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pemanfaatan Instagram Reels turut mengubah suasana belajar di kelas. Aktivitas pembelajaran menjadi lebih hidup dan partisipatif. Siswa lebih aktif bertanya, berdiskusi, serta terlibat dalam setiap tahapan kegiatan.
Menurut Laila, penggunaan platform digital dalam pendidikan bukan berarti mengikuti tren semata, melainkan menjadi strategi untuk menjembatani dunia belajar siswa dengan perkembangan zaman.
“Media yang dekat dengan kehidupan anak dapat menjadi sarana untuk meningkatkan literasi, kreativitas, dan kemampuan komunikasi apabila diarahkan dengan baik,” tuturnya.
Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu identik dengan distraksi. Dengan pendampingan yang tepat, platform digital dapat menjadi sarana penguatan literasi, kreativitas, dan keterampilan komunikasi.
Baca juga : Program Sapa Pagi di SMA Negeri 1 Lawang, Dorong Pembelajaran Lebih Bermakna
Harapan untuk Masa Depan Literasi Digital
Keberhasilan program ini memunculkan harapan baru bagi sekolah. Guru menginginkan pelatihan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak sekolah dasar.
Harapan itu tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru, tetapi juga dengan upaya membangun budaya literasi digital sejak dini. Di era ketika anak-anak menghabiskan banyak waktu di ruang digital, kemampuan memanfaatkan media sosial secara produktif menjadi keterampilan yang semakin penting.
Pengalaman di SDN Bakungan menunjukkan bahwa media sosial tidak harus selalu menjadi lawan pendidikan. Di tangan guru yang kreatif, dukungan akademisi melalui program PKM, serta antusiasme siswa, Instagram Reels dapat berubah menjadi ruang belajar yang hidup tempat bahasa dipelajari, kreativitas tumbuh, dan kepercayaan diri anak-anak perlahan menemukan panggungnya.